syi

  • Menyikapi fenomena perkembangan dan tersebarnya wabah virus penyakit berbahaya dan perusak Aqidah, Akhlaq, dan tatanan kehidupan Kaum Muslimin yang disebarluaskan oleh Agama Syi’ah dan para penganutnya yang sekarang sudah sangat terasa berbahaya dan sangat mengkhawatirkan bagi Kaum Muslimin diseluruh penjuru dunia Islam dan Khususnya di negara Indonesia ini.Dengan melihat kondisi tersebut, maka Kami hendak ikut berpartisipasi dalam melindungi dan membentengi Kaum Muslimin dari pengaruh-pengaruh dan dari segala bentuk trik-trik tipuan Kaum Syi’ah dalam upaya mereka untuk menjadikan Kaum Muslimin menjadi pengikut Agama Syiah atau minimal mereka ingin menyebarkan faham sesatnya agar Kaum Muslimin jauh dari Al Qur’an, Assunnah, dan membenci para pendahulu orang-orang soleh dan beriman seperti Para Shohabat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam.

    Diperkirakan, kebanyakan dari mereka sedang melakukan taqiyah dalam rangka melindungi diri dari kelompok Sunni. Taqiyah adalah kondisi luar seseorang dengan yang ada di dalam batinnya tidaklah sama. Memang taqiyah juga dikenal di kalangan Ahlus Sunnah. Hanya saja menurut Ahlus Sunnah, taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh Islam alias orang kafir ketika perang maupun kondisi yang sangat membahayakan orang Islam.

    Sedangkan taqiyah bagi syiah ialah diperbolehkan untuk bersikap munafik baik didepan tapi buruk dibelakang, berbohong, memfitnah, menghasud, dan mengadu domba Sunni demi melancarkan dakwah syiah dan menghancurkan Islam dari dalam.

    Sementara itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah adalah salah satu prinsip agama mereka. Taqiyah dilakukan kepada orang selain Syi’ah, seperti ungkapan bahwa Al Quran Syi’ah adalah sama dengan Al Quran Ahlus Sunnah. Padahal ungkapan ini hanyalah kepura-puraan mereka. Mereka juga bertaqiyah dengan pura-pura mengakui pemerintahan Islam selain Syi’ah.

    Menurut Ali Muhammad Ash Shalabi, taqiyah dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran;
    Pertama, Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada dalam hatinya.
    Kedua, taqiyah digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah.
    Ketiga, taqiyah berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut lawan-lawan.
    Keempat, digunakan di saat berada dalam kondisi mencemaskan

    Menurut Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi di Majalah Islam Internasional Qiblati, ciri-ciri pengikut Syi’ah sangat mudah dikenali, kita dapat memperhatikan sejumlah ciri-ciri berikut:

    1. Mengenakan songkok hitam dengan bentuk tertentu. Tidak seperti songkok yang dikenal umumnya masyarakat Indonesia, songkok mereka seperti songkok orang Arab hanya saja warnanya hitam.

    2. Tidak shalat jum’at. Meskipun shalat jum’at bersama jama’ah, tetapi dia langsung berdiri setelah imam mengucapkan salam. Orang-orang akan mengira dia mengerjakan shalat sunnah, padahal dia menyempurnakan shalat Zhuhur empat raka’at, karena pengikut Syi’ah tidak meyakini keabsahan shalat jum’at kecuali bersama Imam yang ma’shum atau wakilnya.

    3. Pengikut Syi’ah juga tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam yang dikenal kaum Muslimin, tetapi dengan memukul kedua pahanya beberapa kali.

    4. Pengikut Syi’ah jarang shalat jama’ah karena mereka tidak mengakui shalat lima waktu, tapi yang mereka yakini hanya tiga waktu saja.

    5. Mayoritas pengikut Syi’ah selalu membawa At-Turbah Al-Husainiyah yaitu batu/tanah (dari Karbala) yang digunakan menempatkan kening ketika sujud bila mereka shalat tidak didekat orang Sunni.

    6. Jika Anda perhatikan caranya berwudhu maka Anda akan dapati bahwa wudhunya sangat aneh, tidak seperti yang dikenal kaum Muslimin.

    7. Anda tidak akan mendapatkan penganut Syi’ah hadir dalam kajian dan ceramah Ahlus Sunnah.

    8. Anda juga akan melihat penganut Syi’ah banyak-banyak mengingat Ahlul Bait; Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu anhum.

    9. Mereka juga tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, mayoritas sahabat dan Ummahatul Mukminin radhiyallahu anhum.

    10. Pada bulan Ramadhan penganut Syi’ah tidak langsung berbuka puasa setelah Adzan maghrib; dalam hal ini Syi’ah berkeyakinan seperti Yahudi yaitu berbuka puasa jika bintang-bintang sudah nampak di langit, dengan kata lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu malam. (mereka juga tidak shalat tarawih bersama kaum Muslimin, karena menganggapnya sebagai bid’ah)

    11. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menanam dan menimbulkan fitnah antara jamaah salafi dengan jamaah lain, sementara itu mereka mengklaim tidak ada perselisihan antara mereka dengan jamaah lain selain salafi. Ini tentu tidak benar.

    12. Anda tidak akan mendapati seorang penganut Syi’ah memegang dan membaca Al-Qur’an kecuali jarang sekali, itu pun sebagai bentuk taqiyyah (kamuflase), karena Al-Qur’an yang benar menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada di tangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.

    13. Orang Syi’ah tidak berpuasa pada hari Asyura, dia hanya menampilkan kesedihan di hari tersebut.

    14. Mereka juga berusaha keras mempengaruhi kaum wanita khususnya para mahasiswi di perguruan tinggi atau di perkampungan sebagai langkah awal untuk memenuhi keinginannya melakukan mut’ah dengan para wanita tersebut bila nantinya mereka menerima agama Syi’ah. Oleh sebab itu Anda akan dapati;

    Orang-orang Syi’ah getol mendakwahi orang-orang tua yang memiliki anak putri, dengan harapan anak putrinya juga ikut menganut Syi’ah sehingga dengan leluasa dia bisa melakukan zina mut’ah dengan wanita tersebut baik dengan sepengetahuan ayahnya ataupun tidak. Pada hakikatnya ketika ada seorang yang ayah yang menerima agama Syi’ah, maka para pengikut Syi’ah yang lain otomatis telah mendapatkan anak gadisnya untuk dimut’ah. Tentunya setelah mereka berhasil meyakinkan bolehnya mut’ah. Semua kemudahan, kelebihan, dan kesenangan terhadap syahwat ini ada dalam diri para pemuda, sehingga dengan mudah para pengikut Syi’ah menjerat mereka bergabung dengan agama Syi’ah.

    15. Ciri-ciri mereka sangat banyak. Selain yang kami sebutkan di atas masih banyak ciri-ciri lainnya, sehingga tidak mungkin bagi kita untuk menjelaskan semuanya di sini. Namun cara yang paling praktis ialah dengan memperhatikan raut wajah. Wajah mereka merah padam jika Anda mencela Khomeini, Sistani, Ahmadinejad, dan Iran. Tapi bila Anda menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafshah, atau sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu anhum tidak ada sedikitpun tanda-tanda kegundahan di wajahnya.

    Akhirnya, dengan hati yang terang Ahlus Sunnah dapat mengenali pengikut Syi’ah dari wajah hitam mereka karena tidak memiliki keberkahan, jika Anda perhatikan wajah mereka maka Anda akan membuktikan kebenaran penilaian ini, dan inilah hukuman bagi siapa saja yang mencela dan menyepelekan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para ibunda kaum Muslimin radhiyallahu anhu yang dijanjikan surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita memohon hidayah kepada Allah untuk kita dan mereka semua.

    Bila antum menduga kuat seseorang ustadz berpaham syiah, tanyakan langsung ke beliau didepan orang banyak. Apabila beliau mengelak, tanyakan pendapat beliau mengenai apa itu syiah. Seorang ustadz AhlusSunah PASTI mengatakan dgn tegas bahwa syiah itu bukan Islam, syiah adalah ajaran yg sesat dan menyesatkan.

    Apabila beliau tetap mengelak, maka tantang saja untuk menggelar kajian terbuka untuk umum tentang bahaya kesesatan syiah. Lihat bagaimana reaksi beliau. Seandainya beliau benar syiah, PASTI beliau menolak dengan 1001 alasan. Karena, jika memang beliau bukan syiah otomatis akan sangat antusias mendukung kajian tsb.

    Wallahu a’lam

  • Nama pengirim tidak ditampilkan untuk alasan keamanan

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan contact:
http://miumipusat.org/
Jalan Tebet Timur Dalam VIII/44.
info@miumipusat.org
telp : 0218280928

(Dibaca 1.699 kali, 1 untuk hari ini)