tablighakbar dijalan_827364732682

Ilustrasi: muslimdaily.net

Sebagai ummat Islam yang juga pengguna jalan, saya sangat setuju dengan sikap MUI DKI yang ingin memperkuat larangan tabligh di jalan raya.

Ada beberapa alasan yang mendasari sikap saya ini. Pertama, tabligh atau kegiatan keagamaan lainnya, termasuk perayaan bid’ah maulid Nabi, tidak boleh mengganggu ketertiban umum, apalagi sampai menutup ruas jalan yang merupakan sarana kepentingan umum.

Kedua, kegiatan keagamaan seharusnya mengacu kepada ketentuan Rasulullah, sehingga tidak bertentangan dengan syari’at Islam dan tuntunan Nabi-Nya.

Sehingga sangat tidak Islami bila larangan bertabligh di jalan raya dibanding-bandingkan dengan kemaksiatan berupa perayaan malam tahun baru, atau hajatan berupa orkes dangdut dan sebagainya.

Jangan campur-adukan yang haq dengan yang bathil. Perayaan tahun baru dengan menutup ruas jalan, meski itu diprakarasai oleh pemerintah setempat, tetap merupakan kemunkaran yang tidak bisa dijadikan landasan membolehkan bertabligh di jalan raya.

Orang-orang yang cenderung mencampur-adukkan kedua hal yang bertentangan ini sesungguhnya bukan ulama yang perlu didengar pendapatnya, karena pendapatnya itu seolah-olah benar namun sesungguhnya menyesatkan dan tidak syar’i.

Lagi pula, pelaku tabligh akbar di jalan-jalan, umumnya adalah komunitas pengajian yang pimpinannya mengaku ‘keturunan Nabi’ yang menurut pengamatan sebagian ummat Islam, di antara mereka itu penjaja paham sesat syi’ah dan berbagai kebatilan yang menyertainya.

Syi’ah merupakan induk kesesatan, yang akhir-akhir ini semakin berani tampil di permukaan, bahkan melakukan kekerasan terhadap ummat Islam di berbagai tempat, seperti Sampang, Jember, dan sebagainya.

Bahkan ada yang berani menyimpulkan, bahwa tabligh akbar di jalanan seperti itu, konon merupakan sebuah show of force kalangan syi’ah bahwa mereka sudah mampu menguasai ‘aparat’ sehingga diberi izin menutup ruas jalan untuk tabligh.

Tabligh di jalan juga dijadikan pembuktian bagi kalangan syi’ah melalui mekanisme pendokumentasian digital untuk diteruskan kepada pimpinan syi’ah di mana saja berada. “Ini lho kami sudah sedemikian eksis di tengah-tengah negeri Sunni yang aparat dan pemerintahnya nggak paham syi’ah…”

Melalui surat ini saya menghimbau kepada aparat kepolisian dan kelurahan, kecamatan, dan sebagainya untuk bersatu kata menolak permohonan izin tabligh di jalan raya, karena selain tidak Islami juga mempunyai tujuan-tujuan yang politis.

Mushonif Abubakar (mushonifabubakar@yahoo.co.id)

Jakarta

(nahimunkar.com)

(Dibaca 577 kali, 1 untuk hari ini)