Surat pembaca copy

 Di sebuah media saya membaca tentang pernyataan Ustadz Yusuf Mansur yang berusaha menjelaskan kepada publik bahwa keberadaan barongsai serta bermacam tarian dan atraksi yang mengawali Wisuda Akbar Indonesia Menghafal Quran (IMQ) ke-4 pada 30 Maret 2013 lalu, menurut hemat saya hanyalah sebuah apologi yang kurang dilandasi moral obligation (tanggung jawab moral).

 Kesannya, sederet acara yang mengawali Wisuda tadi, di luar kuasanya. Bahkan, dengan alasan kasihan, Yusuf Mansur bila ia tahu sebelumnya akan ada atraksi barongsai, ia akan tetap membiarkan mereka beraksi di hadapan ribuan umat Islam.

 Mensosialisasikan hafal Al-Qur’an adalah sesuatu yang positif. Namun sekedar menghafal tanpa dibarengi dengan mengimaninya, tetap akan mengarah kepada kemungkaran. Sebab, siapa saja, dengan izin Allah bisa menghafalkan Al-Qur’an, apakah dia beriman atau tidak. Para orientalis di Barat, boleh jadi ada yang hafal sejumlah surat, bukan untuk mengimaninya, apalagi mau menerapkannya, tetapi justru untuk mencari-cari kesalahannya.

 Ketika sejumlah media Islam mengkritik secara tajam keberadaan barongsai (sesuatu yang dianggap bernuansa musyrik) dalam rangkaian acara Wisuda Akbar Indonesia Menghafal Quran, Yusuf Mansur berdalih bahwa tuduhan “kemusyrikan yang dibungkus dengan wisuda akbar penghafal qur’an” sudah masuk ke ranah tuduhan niat.

 Dalih itu sangat bertentangan dengan pernyataan Yusuf Mansur sebelumnya: “…Kalaupun saya tau, misalnya, di awal, lalu 2 anak yg memakai barongsai tadi udah di depan pintu, agaknya, tetap saya loloskan. Kasian … he he he. Udah datang jauh-jauh dan udah dipersiapkan.”

 Karena, yang dikritisi bukanlah niatnya Yusuf Mansur, tetapi kenyataan yang sudah ada di depan mata, bahwa sesuatu yang mulia (menghafal Al-Qur’an) dibarengi dengan sesuatu yang lebih dekat kepada kemusyrikan. Apalagi melalui pernyataannya tadi, Yusuf Mansur seperti ‘membenarkan’ atau ‘membolehkan’ meski dengan dalih kasihan.

 Bersikap ‘membenarkan’ atau ‘membolehkan’ tadi bukan lagi sebuah niat tetapi sudah menjadi amal yang bisa diukur dan dinilai. Urusan niat seseorang biarlah Allah saja yang Maha Mengetahui.

 Seharusnya, ustadz Yusuf Mansur sejak awal sudah mengetahui setiap rangkaian acara yang akan berlangsung mengawali acara wisuda tadi. Rasanya sangat tidak pantas bila untuk acara sebesar itu, kaki tangan Yusuf Mansur tidak peroleh masukan dari para kontributor acara. Bagaimana kalau ada yang menampilkan debus atau ilmu kebal yang jelas-jelas ilmu setan, apakah akan dibiarkan juga dengan alasan kasihan karena sudah mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya?

 Untung saja pada acara itu Slank tidak hadir. Coba kalau personel Slank hadir dan tampil dengan telanjang dada hingga pusernya kelihatan sebagaimana biasa mereka tampilkan di panggung-panggung musik pada umumnya, apakah akan dibiarkan juga oleh Yusuf Mansur dengan alasan kasihan?

 Dalam hal ini saya menilai Yusuf Mansur kebablasan, dan kurang bertanggung jawab. Masak sih untuk acara semulia itu dia tidak tahu ada atraksi barongsai yang akan tampil mengawali acara wisuda? Ah yang bener aje…

 ansyurdin Agus, Pondok Kopi, Jakarta Timur.

 

(Dibaca 14.485 kali, 1 untuk hari ini)