Sumber foto: Tempo.co


Ahmad Syafii Maarif tampaknya “naik derajat”. Dulu tingkatnya baru membela gembong liberal menjelang matinya, kini membela Ahok penista Islam.

Kenapa “naik derajat”? Karena ketika dulu dia membela gembong liberal yang walau gembong itu menikahkan putrinya dengan yahudi di Amerika (menurut Islam haram, lihat QS Al-Mumtahanan/60:10)namun gembong liberal itu masih seagama (Islam). Sedang kini yang Maarif bela adalah Ahok yang non Islam (Kristen) dan kasusnya pun menyinggung perasaan Umat Islam se-Indonesia bahkan sejagat, karena ucapannya yang menyakiti, yaitu: “…dibohongin pakai Surat Al Maidah 51…”.

Umat Islam yang tersinggung itupun ada jutaan Muslimin yang hadir ke Istana Negara di Jakarta, Jum’at (4 November 2016). Jutaan Umat Islam dari berbagai daerah itu memprotes mulut Ahok yang menista Islam dan menyakiti / menyinggung perasaan Umat Islam, agar ditangkap dan dipenjara.

Anehnya, Syafii Maarif terang-terangan membelanya, bahkan menulis artikel yang menganggap hanya otak sakit lah yang berkesimpulan bahwa Ahok menista Islam. Padahal yang mengumumkan sikap bahwa Ahok Menista Al-Qur’an dan Ulama itu adalah MUI (Majelis Ulama Indonesia). Sehingga Maarif sama dengan meng-otak sakit-kan para Ulama di MUI demi membela Ahok, orang kafir penista Islam. Padahal para pakar hukum pidana pun mengatakan, ucapan Ahok itu memenuhi unsur pidana.

Dengan demikian, pembelaan Syafii Maarif terhadap Ahok, orang kafir yang menista Islam, itu jelas ”naik derajat” dibanding ketika Maarif marah demi membela gembong liberal, yang sejarahnya masih tercatat sebagaimana tulisan berikut ini.

***

Cak Nur dan Kemarahan Syafii Maarif

Oleh Irfan S. Awwas

Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Kematian mendiang Prof. Dr. Nurcholish Madjid, 29 Agustus 2005, selain membuat banyak pengagumnya merasa kehilangan, juga membuka banyak kotak misteri. Di antara kotak misteri yang semula aman dari sorotan media, dibuka sendiri oleh sohibnya sesama cendekiawan pluralis Prof. Dr. Syafii Maarif dalam  Resonansi Republika (30/8). Kotak misteri itu berkenaan dengan kunjungan tiga orang delegasi Majelis Mujahidin ke kediaman Cak Nur di Jakarta.

Menjenguk orang sakit adalah perintah agama Islam. Tujuannya, untuk mendo’akan dan menasihati si sakit supaya beristighfar dan bertobat kepada Allah SWT. Artinya, kunjungan dilakukan bukan sekadar wujud persahabatan, menunjukkan rasa duka, atau sebagai balas budi karena si sakit pernah berjasa. Tapi yang terpenting adalah untuk menjalankan syari’at Islam.

Dalam hal ini Rasulullah SAW mengajarkan adab mengunjungi orang sakit: “Apabila kamu mengunjungi orang sakit sampaikanlah pesan-pesan yang baik karena malaikat mengamini apa yang kamu pesankan.” (HR Muslim, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Dalam kunjungan delegasi Majelis Mujahidin ke Cak Nur, memang terjadi dialog mengenai pluralisme dan kritik terhadap buku Fiqih Lintas Agama yang di dalamnya terdapat pernyataan bahwa semua agama sama, wanita boleh jadi imam shalat di hadapan makmum laki-laki, kawin beda agama dan tanpa wali nikah sah, dan berbagai pernyataan sesat lainnya.

Ketika itu Cak Nur menjawab: “Pluralisme yang saya maksudkan bukan semua agama sama melainkan kebenaran itu tergantung masing-masing penganut agama.”

Dengan sedikit nalar intelektual, orang bisa mengerti bahwa statemen di atas mengandung kesalahan yang fatal. Agama adalah milik Allah, maka segala penilaian benar dan salah harus lah berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Manusia tidak memiliki otoritas untuk menilai agama “yang ini haq dan yang itu bathil”.

Delegasi Majelis Mujahidin sempat meminta Cak Nur bertobat dan beristighar. Tapi belum sempat dijawab; pendampingnya, Utomo Dananjaya, dengan nada marah menghentikan dialog itu.

Lewat SMS

Adalah hak Syafii Maarif untuk mempublikasikan peristiwa itu. Tapi jika menuduh pihak lain tidak beradab, meneror, dan tidak punya sopan santun mengunjungi orang sakit, tentu saja penilaian demikian bukanlah perbuatan beradab. Apalagi, informasi yang diterimanya bersifat sepihak, melalui SMS, lagi. Sekalipun dikatakan berasal dari sumber otentik, tapi siapa yang menjamin otentisitas kebenaran informasi itu?

Jika demikian, apa bedanya dengan Perdana Menteri Australia, John Howard, yang menerima informasi intelijen nielalui SMS; akan ada aksi teroris di Jakarta, kemudian memberikan travel warning kepada warganya, setelah itu terjadi penangkapan terhadap aktivis Muslim padahal belum dicek kebenarannya?

Sebagai cendekiawan Muslim, dan mantan ketua Muhammadiyah, seharusnya Prof. Syafii berlaku adil, membahas pokok masalah sesuai konteksnya, dan mendudukkan persoalan secara proporsional, bukan malah mengumbar emosi. Salahkah, jika seorang Muslim menjalankan keyakinan agamanya, berpesan untuk tobat dan istighfar pada muslim lainnya? Merasa tidak bersalah sehingga tidak mau dinasihati, apakah bukan kesombongan?

Ustadz Ba’asyir dan Ustadz M Thalib adalah orang-orang terhormat dalam perjuangan penegakan syari’at Islam. Tidak semestinya diperlakukan secara apriori dan disebut orang yang kasar serta penganut Islam garis keras, sebagaimana musuh-musuh Islam memperlakukan beliau. Bukanlah kebiasaan orang shalih, bila merasa paling mengerti tentang Islam, atau telah menjalankan Islam secara kaffah; padahal dalam bermuamalah kaitannya dengan kasus ini saja, dia gagal menunjukkan adab Islami.

Kepedihan yang dialami Ustadz Ba’asyir yang dipenjara akibat kezaliman penguasa, tidak lebih ringan bila dibandingkan dengan sakit fisik yang diderita Cak Nur. Walau demikian, sebagai ulama mujahid, beliau masih peduli dengan temannya sesama alumni pesantren Gontor yang sedang sakit keras, bahkan hampir menjelang ajal. Sehingga Ustadz Ba’asyir mengutus orang untuk mengunjungi guna mengingatkan Cak Nur atas berbagai pemikiran yang -dalam pandangan Ustadz Ba’asyir- keliru. Tetapi, dia bukannya mendapat simpati malah dicerca.

Maka takutlah dengan sabda Rasulullah: “Orang yang paling dibenci Allah adalah seseorang yang dimintai tolong oleh korban kezaliman, tapi tidak mau menolong, padahal ia mampu menolong, sehingga orang tersebut hanya mengadukan nasibnya pada Allah SWT.” (HR Ibnu Asyakir dari Abu Darda).

Debat terbuka

Syafii Maarif mengatakan: “Sekiranya Cak Nur sehat, dia akan bisa menjawab berjam-jam semua pertanyaan yang diajukan padanya.” Benarkah? Dialog atau perdebatan adalah salah satu pilihan metode dakwah penegakan syari’ah Islam yang dilakukan Majelis Mujahidin. Pak Syafii Maarif sendiri pernah diundang untuk maksud yang sama, karena penolakannya terhadap formalisisi syari’at Islam di lembaga negara.

Namun faktanya, setelah buku Fiqih Lintas Agama diterbitkan Paramadina, Majelis Mujahidin menantang penulisnya untuk diadakan debat terbuka, terutama dengan mendiang Prof. Nurcholish Madjid. Tetapi, saat perdebatan berlangsung pada 15 Januari 2004 di Aula Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Sang “Guru Bangsa” tidak hadir, dan hanya mengutus Zaenun Kamal dan Zuhairi Misrawi, yang sama sekali tidak memahami apa yang mereka tulis sendiri.

Terbukti, misalnya ketika ditanyakan apa definisi fiqih lintas agama? Apakah non-Islam punya fiqih? Jika ya, bagaimana fiqih thaharah, waris, munakahat (nikah) non-Islam? Tidak satu pun dari pertanyaan sederhana itu dapat dijelaskan.

Hasil perdebatan, kemudian didokumentasi dalam VCD dan direkam berwujud buku dengan judul Kekafiran Berfikir Sekte Paramadina. Selanjutnya dikirim ke Paramadina. Cak Nur dan Azyumardi Azra juga dikirimi, dengan maksud mendapat bantahan balik. Tetapi, hingga Cak Nur mangkat, belum ada jawaban.

Akhirnya, sebagai generasi yang lebih muda, tanpa bermaksud menggurui, saya mengingatkan pada Pak Syafii Maarif, bahwa kebenaran Islam bukanlah seperti yang kita pahami, melainkan seperti yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Artinya, jika dalam mengamalkan ajaran Islam ternyata terdapat kekeliruan -baik dalam pemahaman maupun perbuatan- dan ada orang lain yang mampu menunjukkan kekeliruan itu, dengan hujjah yang shahih dan qath’i, maka bukanlah akhlak Muslim jika dia tetap saja ngotot pada pendapatnya, hanya dengan alasan “kita berbeda pendapat”.

Memahami Islam berdasarkan kemampuan sendiri dan sebatas pengalaman pribadi, tanpa menggunakan metode dan perangkat keilmuan yang jelas, maka sulit bagi seseorang untuk memperoleh pemahaman yang benar dan objektif. Wallahu a’lam bisshawab.

sumber : Republika, Senin, 5 September 2005, hal. 2

[media-dakwah] Syafii Maarif /Ahmadi Agung Mon, 12 Sep 2005 23:31:16 -0700

https://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg01587.html

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.445 kali, 1 untuk hari ini)