Syaikh Hasyim Asya’ari :Ora wenang pituwah, ajak-ajak, lan nglakoni sholat Rebo Wekasan lan sholat hadiah

(Tidak boleh memberi fatwa, mempromosikan, dan melakukan Shalat Rebo Wekasan dan shalat hadiah)

Syaikh Hasyim Asya’ari sebagaimana  dikutip oleh situs ponpes Nurul Huda (Gading Pesantren), Malang, dengan merujuk pada dokumen asli yang ada pada cabang NU Sidoarjo, berfatwa bahwa shalat Rebo Wekasan tidak boleh dilakukan dan dipropagandakan.

أورا وناع فيتواه, اجاء-اجاء لن علاكونى صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سوال, كرنا صلاة لورو ايكو ماهو دودو صلاة مشروعة فى الشرع لن اور انا اصلى فى الشرع.

“Ora wenang pituwah, ajak-ajak, lan nglakoni sholat Rebo Wekasan lan sholat hadiah kang  kasebut ing su-al kerono sholat loro iku mau dudu sholat masyru’ah fis Syar’i lan ora ono asale fis syar’i”. (“Tidak boleh memberi fatwa, mempromosikan, dan melakukan Shalat Rebo Wekasan dan shalat hadiah sebagaimana tersebut dalam pertanyaan, karena kedua shalat tersebut bukan shalat yang disyariatkan dalam syariat dan tidak ada asalnya dalam syariat”)

Atas dasar ini, tidak boleh menjalankan shalat Rebo Wekasan yang pada tahun ini jatuh pada Hari Rabu, 23 Shofar 1433 H/18 Januari 2012. (Tahun 1435H, Rabu bterakhir bulan Shafar  adalah 28 Shafar 1435/ 1 Januari 2014). Terlarang pula menyebarkan, mempromosikan dan mengajak orang lain melakukannya. Wallahu’alam.

Inilah pembahasannya:

***

Bolehkah Melaksanakan Shalat Rebo Wekasan?

Diasuh oleh:

Ust. Muhammad Muafa, M.Pd

Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI, Malang, Jawa Timur

Pertanyaan:
Mohon dijelaskan  apakah ini benar?. InsyaAllah besok malam Rabu adalah Rabu Wekasan  bulan Safar. Dalam kitab Mujarrobat Ad-Dairoby di jelaskan, sebagian orang arif billah menyebutkan  bahwa dalam setiap tahun akan turun 320.000 bala’ (musibah), demikian itu diturunkan pada hari  Rabu akhir d bulan Shofar. Karenanya hari itu adalah hari yang paling berat dalam setiap tahunnya. Maka barangsiapa pada hari itu sholat 4 rokaat, pada setiap rokaat  setelah al fatihah dia membaca surat al-kaustar 17x, al ikhlas 5x, dan muawwidzatain, kemudian salam dan berdoa dengan doa ini…….., maka Allah akan menjaganya  dengan kemuliaan-nya dari semua bala’ yang diturunkan  pada hari itu sampai sempurnanya satu tahun. Sedangkan doa itu adalah: silahkan buka kitabAd-Dairoby hal 95/Kanzu An-Najach Wa As-Surur hal 28.

Agusty-Malang

Jawaban:
Tidak boleh menjalankan apa yang diistilahkan dengan nama Shalat Rebo Wekasan dengan niat dan tata cara shalat tersebut termasuk mempropagandakan dan mengajak orang lain melakukannya. Semua kepercayaan yang terkait dengan shalat Rebo Wekasan adalah kepercayaan yang tidak berdasar yang tidak boleh dipercaya apalagi diyakini karena tidak bertumpu pada hujjah yang syar’i baik dari Al-Quran maupun As-Sunnah.

Istilah shalat Rebo Wekasan adalah istilah terkait dengan shalat yang popular pada sebagian masyarakat Jawa. Istilah Rebo Wekasan itu sendiri memakai bahasa Jawa untuk menyusun frasenya. Rebo menunjuk makna “hari Rabu” sementara Wekasan menunjuk makna “terakhir” jadi makna Rebo Wekasan adalah “Hari Rabu yang paling akhir”. Shalat Rebo Wekasan bermakna “shalat yang dilakukan pada hari Rabu terakhir”. Rabu terakhir yang di maksud di sini adalah hari Rabu terakhir dibulan Shofar (atau Sapar dalam lidah Jawa). Jadi, secara ringkas shalat Rebo Wekasan adalah shalat yang dilakukan pada bulan Shofar pada hari Rabu yang terakhir dari bulan tersebut (hari Rabu pada minggu keempat).

Waktu pelaksanaannya dilakukan pada pagi hari, tepatnya setelah shalat Isyraq/Dhuha. Tatacaranya sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan yaitu, dilakukan sebanyak empat Rakaat. Setiap rakaat membaca surat al Fatihah dan  membaca Surat Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq, dan An-Nas. Kemudian setelah salam membaca doa khusus yang dibaca sebanyak 3 kali.

Kepercayaan yang berkembang di sebagian maSyarakat yang mendasari dilakukannya Shalat tersebut adalah; Setiap tahun Allah menurunkan 320.000  Bala’/musibah. Bala’ tersebut diturunkan  pada hari Rabu terakhir bulan Shofar, sehingga hari Rabu ini adalah hari yang paling sulit dan rawan dalam tahun tersebut. Oleh karena itu, untuk menolak bala’ tersebut maka dilakukan shalat di hari itu. Shalat itulah yang kemudian dinamakan dan popular dengan istilah shalat Rebo Wekasan.  Oleh karena shalat ini dilakukan untuk menolak bala’ maka shalat ini popular juga dengan istilah Shalat Lidaf’il Bala’ (shalat untuk mencegah bala’/musibah).

Asal-usul  kebiasaan ini adalah rekomendasi yang tertulis pada kitab “Mujarrobat Ad-Dairoby Al-Kabir” yang dikarang oleh Ahmad bin Umar Ad-Dairoby (Wafat tahun 1151 H). Nama lengkap kitab tersebut adalah “Fathu Al-Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’I Al-‘Abid Wa Qom’I Kulli Jabbar ‘Anid. Rekomendasi yang serupa juga terdapat pada kitab “Kanzu An-Najah Wa As-Surur Fi Al-Ad’iyah Allati Tasyrohu As-Shudur” karangan Abdul Hamid Quds, ‘Al-Jawahir Al-Khoms” karangan Muhammad bi Khothiruddin Al-‘Atthar (wft th 970 H), Hasyiyah As-Sittin dan sebagainya .

Hanya saja, tidak cukup menukil sumber kitab untuk menilai sebuah amalan terkategori amalan yang syar’i. Juga termasuk naif jika langsung menerima sebuah kitab hanya karena judulnya berbahasa Arab. Sebuah amalan agar bisa disebut syar’i harus didasarkan pada nash, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah atau dalil yang ditunjuk oleh Al-Quran dan As-Sunnah.  Kepercayaan juga harus didasarkan pada dalil agar bisa disebut kepercayaan Islam.  Sebuah buku juga perlu diresensi untuk menentukan posisi buku tersebut dalam kajian hukum Syara.

Kitab Mujarrobat Ad-Dairoby tidak boleh dijadikan tumpuan dalam melaksanakan amalan-amalan syariat, karena kitab ini dalam merekomendasikan amal umumnya tidak menggali dari nash Al-Quran dan As-Sunnah, tetapi malah menisbatkan dasar amalan dan juga kepercayaan kepada ucapan tokoh  misterius yang disebut dengan istilah “Ba’dhu Al-‘Arifin Min Ahli Al-Kasyfi Wa At-Tamkin” (Sebagian Ahli Makrifat yang punya ilmu Mukasyafah dan pangkat). Sebagian kaum muslimin malah mensifati kitab Mujarrobat Ad-Dairoby ini sebagai kitab sihir dan perdukunan karena banyaknya hal yang dianggap Khurafat dan tidak berdasarkan dalil. Hal yang sama berlaku pada kitab “Kanzu An-Najah Wa As-Surur Fi Al-Ad’iyah Allati Tasyrohu As-Shudur” karangan Abdul Hamid Quds,‘Al-Jawahir Al-Khoms” karangan Muhammad bi Khothiruddin Al-‘Atthar (wft th 970 H), dan Hasyiyah As-Sittinmeskipun kondisi kitab-kitab ini sebagiannya tidaklah “separah” kitab Mujarrobat Ad-Dairoby. Secara umum, kitab-kitab ini punya kesamaan dari sisi direkomendasikannya amalan tanpa dasar Nash dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Semua amalan ibadah apapun yang tidak ada perintah dari Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dilakukan. Barangsiapa melakukannya maka amalan tersebut sia-sia dan tertolak. Rasulullah SAW bersabda;

صحيح مسلم (9/ 119)

عن عَائِشَة أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


“Dari Aisyah; bahwasanya Rasulullah SAW  bersabda; barangsiapa melakuakn sebuah amalan yang tidak ada perintah dari kami maka amalan tersebut tertolak”
 (H.R. Muslim)

Lagipula, ibadah adalah pengaturan hubungan Allah dengan hambanya. Cara mengetahui tatacara hubungan dengan Allah hanya mungkin ditunjukkan oleh para Nabi dan Rasul, karena tatacara itu diluar jangkauan akal manusia. Menerima tatacara ibadah yang bukan berasal dari NAbi dan Rasul bermakna menerima tatcara ibadah yang dirumuskan oleh  akal atau berasal dari was-was syetan.

Dalam hal kepercayaanpun setiap muslim wajib mengambil hanya dari Nash,tidak boleh dari desas-desus atau berita “konon katanya”. Kepercayaan bahwa pada hari Rabu terakhir bukan Shafar Allah menurunkan Bala’ adalah kepercayaan yang tidak didasarkan pada Nash, karena itu tidak boleh diyakini.

Syaikh Hasyim Asya’ari sebagaimana  dikutip oleh situs ponpes Nurul Huda (Gading Pesantren), Malang, dengan merujuk pada dokumen asli yang ada pada cabang NU Sidoarjo, berfatwa bahwa shalat Rebo Wekasan tidak boleh dilakukan dan dipropagandakan.

أورا وناع فيتواه, اجاء-اجاء لن علاكونى صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سوال, كرنا صلاة لورو ايكو ماهو دودو صلاة مشروعة فى الشرع لن اور انا اصلى فى الشرع.

“Ora wenang pituwah, ajak-ajak, lan nglakoni sholat Rebo Wekasan lan sholat hadiah kang  kasebut ing su-al kerono sholat loro iku mau dudu sholat masyru’ah fis Syar’i lan ora ono asale fis syar’i”. (“Tidak boleh memberi fatwa, mempromosikan, dan melakukan Shalat Rebo Wekasan dan shalat hadiah sebagaimana tersebut dalam pertanyaan, karena kedua shalat tersebut bukan shalat yang disyariatkan dalam syariat dan tidak ada asalnya dalam syariat”)

Atas dasar ini, tidak boleh menjalankan shalat Rebo Wekasan yang pada tahun ini jatuh pada Hari Rabu, 23 Shofar 1433 H/18 Januari 2012. Terlarang pula menyebarkan, mempromosikan dan mengajak orang lain melakukannya. Wallahu’alam.

Shodiq Ramadhan | Senin, 16 Januari 2012 | 07:19:18 WIB

http://www.suara-islam.com/read4068-Bolehkah-Melaksanakan-Shalat-Rebo-Wekasan-.html

(nahimunkar.org)

***

 

Rebo Wekasan*

Ilustrasi

 

  1. Siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual ‘ibadah’ seperti itu?

 

الإمام الشافعي رحمه الله بريء منهم 

http://www.sd-sunnah.com/vb/showthread.php?t=1320

Ilustrasi Kitab Kanzun Najah di kalangan shufi alias orang tasawuf./ dd-sunnah.net

Di antara anggapan dan keyakinan keliru yang terjadi di bulan Shafar adalah adanya sebuah hari yang diistilahkan dengan Rebo Wekasan. Dalam bahasa Jawa ‘Rebo’ artinya hari Rabu, dan ‘Wekasan’ artinya terakhir. Kemudian istilah ini dipakai untuk menamai hari Rabu terakhir pada bulan Shafar (diperkirakan pada bulan Shafar tahun ini (1431 H) bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2010). Di sebagian daerah, hari ini juga dikenal dengan hari Rabu Pungkasan.

Apakah Rebo Wekasan itu?

Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa setiap tahun akan turun 320.000 bala’, musibah, ataupun bencana (dalam referensi lain 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya), dan itu akan terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Sehingga dalam upaya tolak bala’ darinya, diadakanlah ritual-ritual tertentu pada hari itu. Di antara ritual tersebut adalah dengan mengerjakan shalat empat raka’at -yang diistilahkan dengan shalat sunnah lidaf’il bala’ (shalat sunnah untuk menolak bala’)- yang dikerjakan pada waktu dhuha atau setelah shalat isyraq (setelah terbit matahari) dengan satu kali salam. Pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah kemudian surat Al-Kautsar 17 kali, surat Al-Ikhlas 50 kali (dalam referensi lain 5 kali), Al-Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) masing-masing satu kali. Ketika salam membaca sebanyak 360 kali ayat ke-21 dari surat Yusuf yang berbunyi:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ.

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

Kemudian ditambah dengan Jauharatul Kamal tiga kali dan ditutup dengan bacaan (surat Ash-Shaffat ayat 180-182) berikut:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Ritual ini kemudian dilanjutkan dengan memberikan sedekah roti kepada fakir miskin. Tidak cukup sampai di situ, dia juga harus membuat rajah-rajah dengan model tulisan tertentu pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur, bak kamar mandi, atau tempat-tempat penampungan air lainnya.

Barangsiapa yang pada hari itu melakukan ritual tersebut, maka dia akan terjaga dari segala bentuk musibah dan bencana yang turun ketika itu.

Kaum muslimin rahimakumullah, dari mana dan siapakah yang mengajarkan tata cara / ritual ‘ibadah’ seperti itu?

Dalam sebagian referensi disebutkan bahwa di dalam kitab Kanzun Najah karangan Syaikh Abdul Hamid Kudus yang katanya pernah mengajar di Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah, diterangkan bahwa telah berkata sebagian ulama ‘arifin dari ahli mukasyafah[1] bahwa pada setiap tahun akan turun 360.000 malapetaka dan 20.000 bahaya, yang turunnya pada setiap hari Rabu terakhir bulan Shafar. Bagi yang shalat pada hari itu dengan tata cara sebagaimana tersebut di atas, maka akan selamat dari semua bencana dan bahaya tersebut.

Mungkin inilah yang dijadikan dasar hukum tentang ‘disyari’atkannya’ ritual di hari Rebo Wekasan tersebut. Namun ternyata amaliyah yang demikian tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi salaf dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in tidak pernah melakukan apalagi mengajarkan ritual semacam itu. Demikian pula generasi setelahnya yang senantiasa mengikuti jejak mereka dengan baik.

Keyakinan tentang Rebo Wekasan sebagai hari turunnya bala’ dan musibah adalah keyakinan yang batil. Lebih batil lagi karena berangkat dari keyakinan tersebut, dilaksanakanlah ritual tertentu untuk menolak bala’ dengan tata cara yang disebutkan di atas. Sementara keyakinan dan ritual tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, dan tidak pula dicontohkan oleh para imam madzhab yang empat (Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal), tidak pula mereka membimbing dan mengajak para murid serta pengikut madzhabnya untuk melakukan yang demikian.

Para ulama dan kaum muslimin yang senantiasa menjaga aqidah dan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya hingga hari ini -sampai akhir zaman nanti- juga tidak akan berkeyakinan dengan keyakinan seperti ini dan tidak pula beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf tersebut.

Jika keyakinan dan ritual ibadah tersebut tidak berdasar pada Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula sebagai amalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam madzhab yang empat, maka sungguh amalan tersebut bukan bagian dari agama yang murni. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk bimbingan dan petunjuk kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim).

Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga kita dan kaum muslimin dari berbagai penyimpangan dalam menjalankan agama ini. Amin.

Ditulis oleh Abu ‘Abdillah Kediri.

 [1] Istilah ulama ‘arifin (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang mengetahui) dan ahli mukasyafah (secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang bisa menyingkap) inipun juga tidak dikenal di kalangan salaf. Istilah ini dikenal di kalangan penganut paham shufiyyah sebagai penamaan bagi orang-orang ‘khusus’ yang mengerti sesuatu tanpa melalui proses belajar, dalam bahasa Jawa disebut ngerti sakdurunge winarah. Mereka -yakni ulama ‘arifin dan ahli mukasyafah itu- juga diyakini bisa bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bahkan bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala di dunia maya, sehingga mereka bisa menyingkap sesuatu (dari perkara ghaib) yang tidak bisa diketahui oleh selain mereka.

Ini semua tentunya adalah keyakinan yang batil, dan pembahasan seperti ini sangatlah panjang. Yang penting bagi kita adalah berupaya menjalankan agama ini -beraqidah, beribadah, berakhlak, bermu’amalah, dan lainnya dari urusan diniyyah- benar-benar bersumber dan sesuai dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih, bukan pemahaman selain mereka. Wallahu a’lam. http://www.assalafy.org/mahad/?p=448#more-448

September 20, 2012

http://www.darussalaf.or.id/aqidah/rebo-wekasan-bukan-bagian-dari-syariat-yang-dituntunkan/

  1. * Ada yang menyebutnya Rebo Kasan (dari lafal wekasan), dan ada pula yang menyebutnya Rebo Pungkasan, artinya Rabu terakhir di bulan Shafar

(nahimunkar.org)