Kiranya begitulah nasehat dan wasiat beliau kepada kaum muslimin melalui muqaddimah salah satu karya terbaik beliau: “Al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad”. Sebagaimana madrasah-madrasah (sekolahan atau kampus) harus ada pelajaran HARIAN RUTIN tentang aqidah shahihah salimah. Justru kita dapatkan, di suatu kampus sekuler, di semester tertentu, tiap fakultas dan jurusan harus melahap pelajaran Filsafat. Sebenarnya itu adalah upaya penggerogotan aqidah tanpa disadari oleh banyak mahasiswa/i dan keluarga mereka.

Atau bahkan dosen-dosen mereka pun ‘nggak ngeh’.

Maka, masjid-masjid harus difungsikan sebagai ‘islamic camp concentration of syariah knowledge’. Ini fungsi yang sering dilalaikan bahkan oleh orang-orang DKM sendiri. Banyak masjid hanya difungsikan untuk shalat, ngaso tidur sasarean dan kalaupun kajian, malah cuma shalawatan dan tahlilan.

Penulis pribadi sangat sangat mendambakan kesadaran jumhur DKM masjid/mushalla, untuk mengadakan kajian-kajian kitab rutin dan memfasilitasi umat dengan pelayanan berpahala besar, di antaranya: menyediakan kitab-kitab yang dikaji untuk dipinjam selama kajian. Sebenarnya ini indah sekali dan MUDAH dilakukan jika kemauannya besar. Allah Ta’ala yang akan mempermudah dan menggerakkan hati kaum muslimin.

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata:

وإلى جانب الدراسة النظامية يجب أن يكون هناك دروس تعقد في المساجد، تدرس فيها العقيدة السلفية بالدرجة الأولى، وتقرأ فيها المتون والشروح؛ ليستفيد منها الطلاب وكل من حضر، ويكون هناك مختصرات مبسطة تلقى للعامة

“Selain daripada dirasat formal (sekolah/kampus), wajib ada durus (kajian-kajian rutin) yang diselenggarakan di masjid-masjid. Di sana, diajarkanlah aqidah salafiyyah dengan prioritas pertama. Di sana, dibacakan matan-matan dan syuruh-nya. Ini semua agar para pencari ilmu dan para hadirin mengambil faedah. Dan hendaknya ada kitab-kitab ringkas yang disampaikan ke kalangan awam (bukan thullab al-ilm).”

Yang kita fahami dari kalimat beliau juga, bahwa mustami’ (sekadar pendengar atau jiping) bukanlah tergolong dalam barisan thullab al-ilm. Karena thullab al-ilm hadir di majelis rutin, dan mereka bukanlah pihak yang hanya suka jadi pendengar, melainkan berusaha mencatat, juga menghafal semampunya.

Sebenarnya, jika nasehat-nasehat ini ditunaikan oleh kaum muslimin, kita akan maju kencang. Hanya, seringkali setan-setan tidak ingin impian seperti ini (yakni: membuat taman-taman hijau nan rimbun akan faedah) tercapai. Akhirnya, mereka menghembuskan rasa was-was di banyak DKM. Di antara talbis setan adalah persangkaan bahwa:

“Barometer suksesnya kajian adalah banyak hadirin”

Juga, setan suka menjadikan para punggawa masjid lebih memikirkan kebersihan masjid daripada ilmu, juga sound system, juga apapun yang penting bukan ilmu. Maka kita lihat banyak dari mereka terkena rayuan setan dengan rajin bersibuk ria dengan persiapan, pelayanan dan seterusnya. Sudah mirip lilin: menerangi banyak, namun hancur sendirian.

Padahal, panitia kajian, DKM dan penyelenggara, mereka bisa jadi merupakan orang yang paling butuh akan ilmu yang disampaikan pemateri. Bukan malah mentang-mentang panitia, lalu kesibukannya di kabel dan service. Dengar rekaman pun tidak. Dan giliran hitung tromol juga kotak amal, perhatian besar. Ini talbis setan jelas-jelas.

Juga ingat bahwa kajian Aqidah, untuk rakyat kaya maupun miskin. Adakan di masjid. Dan cobalah untuk tidak mempetak-petakan orang kaya dan miskin di depan umat. Kalau bisa, kajiannya jangan khusus di hotel secara eksklusif. Itu kalau bisa. Tapi kalau tidak bisa (karena biasanya orang kaya gengsinya gede dan gak mau diajak ngaji kecuali di tempat mewah), maka coba seimbangkan selenggarakan kajian di lorong-lorong kumuh. Jadi berimbang.

Dan kalau bisa lagi, baiknya seorang ustadz jangan ‘ngikut’ selera atau nafsu pasar. Seperti: mentang-mentang kaya, beberapa the-haves ini maunya ngaji di hotel; maka, diaturlah ustadz supaya mindset mereka tetap kokoh. Justru ini mendidik mereka untuk terus memelihara arogansi.

Kadang hati kita seperti blender di dalamnya ada mix antara senang dan sedih. Senang karena alhamdulillah kuantitas manusia yang mau ngaji bertambah (walau setelah diamati: masih belum move on dari jiping), tapi sedih karena kok recently ustadz terkesan diatur-atur dan kok mau aja?! Malah jadinya kadang kita lebih terkesan dengan beberapa ustadz yang tegas dan tidak bisa diatur oleh panitia. Tapi, entahlah ya….kemudian…

Sebagian kalimat dari status ini dibahas di dirasat kami yang jauh dari sifat kesempurnaan:

AL-IRYSAD ILA SHAHIH AL-I’TIQAD (10) – “التوجيهات للدراسة العقدية”

https://www.youtube.com/watch…
https://www.youtube.com/watch…

Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 974 kali, 1 untuk hari ini)