syiah-indonesia-490x326Perayaan Ghadir tidak pernah dilakukan oleh kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya hidup, maupun di era tabi’in dan tabi’ tabi’in yang disebutkan oleh Rasul bahwa mereka adalah 3 periode Islam yang terbaik.

  • Syi’ah menganggap Idul Ghadir 18 Dzulhijjah adalah hari raya terbesar yang melebihi keagungan ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha.
  • “Perayaan Hari Raya Idul Ghadir itu tidak ada dalilnya dalam Islam,” tegas Prof. Dr. Mohammad Baharum, pakar tentang Syiah dari MUI Pusat.
  • Nabi saw bersabda: “Siapa yang mengada-ada dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka hal itu tertolak” (HR. Muslim)
  • Karena sifat ajarannya yang sangat destruktif dan dilandasi dengan semangat kebencian terhadap tokoh-tokoh panutan umat Islam, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dan para sahabat Nabi lainnya – sangat aneh jika pemerintah SBY mendukung acara syi’ah tersebut.  Acara seperti ini jelas memecah belah umat Islam dan menistakan agama Islam.

Para ulama dan sejarawan muslim terkemuka mencatat, tradisi selebrasi Idul Ghadir baru dimulai sejak era Daulah Buwaihi menguasai sebagian wilayah Irak di abad ke-4 H. Itu artinya perayaan tersebut tidak pernah dilakukan oleh kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya hidup, maupun di era tabi’in dan tabi’ tabi’in yang disebutkan oleh Rasul bahwa mereka adalah 3 periode Islam yang terbaik. “Khairunnasi qorni tsumma al-ladzina yaluunahum tsumma al-ladzina yaluunahum”. Bahkan tidak pula diperingati pada saat Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib ra berkuasa pasca syahidnya Sayidina Utsman bin Affan ra.

“Perayaan Hari Raya Idul Ghadir itu memang tidak ada dalilnya dalam Islam,” tegas Prof. Dr. Mohammad Baharum, pakar tentang Syiah dari MUI Pusat.

Hidayatullah.com memberitakan berikut ini.

 

 

Kontroversi Idul Ghodir

Peringatan Hari Raya Syiah Idul Ghodir dinilai justru Semakin Menampakkan Perbedaan

Jumat, 25 Oktober 2013 – 05:23 WIB

Hidayatullah.com—Rencana peringatan Hari Ghodir Khum, Idul Akbar (Hari Raya Besar) kaum Syiah Indonesia rupanya mendapatkan tanggapan serius berbagai kalangan.

Guru Besar Sosiologi Agama yang juga dikenal seorang pengkaji dan penulis serius masalah Syiah Prof. Dr.H. Mohammad Baharun menilai,  rencana kaum Syiah Indonesia yang mau mengadakan acara “Idul Ghodir”  tanggal 26 Oktober 2013 di Jakarta  dinilai sebuah kesengajaan yang justu semakin jelas menampakkan perbedaan.

“Hari Raya Ghodir adalah rekayasa Syiah yang semakin memperjelas identitas dan perbedaan yang menyimpang mereka dari warisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam,” ujar Baharun dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke redaksihidayatullah.com, Kamis (24/10/2013).

Baharun juga menambahkan, perayaan besar yang diwariskan Rasulullah menyangkut hari raya dalam Islam hanyalah dua, Idul Fitri dan Idul Adha.

“Yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW adalah dua Hari Raya, Idul Fitri dan Idul Adha sebagai syariat yang dilaksanakan umat Islam se Dunia sjk berabad-abad.”

Sementara itu, Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) Jatim, Habib Achmad Zein Al-Kaf mengatakan, acara itu justru hanya akan memancing amarah kaum Muslim lainnya.

“Acara tersebut kami nilai sebagai unjuk kekuatan, yang harus kita sikapi dengan menolak dan keberatan diadakannya acara tersebut. Sebab kami hawatir umat Islam akan melawan mereka,“ ujar Achmad Zein Al-Kaf dalam rilis yang dikirim ke redaksi, Kamis malam.

Seperti diketahui, hari  Sabtu (26/10/2013) depan, kelompok Syi’ah di Indonesia akan merayakan Hari Raya terbesar mereka, yaitu “Idul Ghodir”.

Perayaan Hari Raya Idul Ghodir yang rencananya akan diselenggarakan di Gedung Smesco Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan dinilai beberapa justru semakin membuktikan kelompok itu memang satu aliran yang secara mendasar berbeda dengan kaum Muslim lainnya.*

Rep:

Panji Islam

Editor: Cholis Akbar/ hdytllhcom

***

Mereka mengerjakan yang tidak diperintahkan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ ».

Dari Abdillah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah sebelumku melainkan dia mempunyai murid-murid setia (hawariyyun) dan para shahabat yang mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian setelah mereka, muncul para penerus yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mereka mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan kepada mereka. Barangsiapa yang melawan mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Barangsiapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka ia seorang mukmin. Dan barangsiapa yang melawan mereka dengan hatinya, maka ia pun seorang mukmin. Tidak ada sesuatu setelah hal itu dari iman, walau seberat biji sawi” [HR. Muslim no. 50]

***

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.518 kali, 1 untuk hari ini)