.

  • Dalam literature kehabiban, ahlu bait yang menjadi Syi’ah tidak digolongkan habib.
  • “Syiah yang ada di Indonesia adalah Syiah Imamiyah, atau Ja’fariyah, atau khomeiniyah atau biasa mengatasnamakan madzhab ahlul bait”
  • Aliran sesat yang paling berbahaya adalah Syiah karena mereka didukung Negara kaya Iran. “Negara Iran menggelontorkan dana ada yang dihubungi langsung atau ada juga yang diundang ke Iran kemudian ditunjukkan keberhasilan mereka.”
  • Banyak tokoh Islam ditipu oleh Syi’ah. Syi’ah menawarkan pendekatan atau ukhuwah antara Sunni dan Syi’ah. Namun di sisi lain, tokoh-tokoh kita tidak dikasih tahu bagaimana ulama-ulama ahlus sunnah dibunuh, dipenjara dan masjid ahlus sunnah dirobohkan di Teheran padahal disana sinagong dan gereja saja boleh berdiri disana.
  • “Di Teheran itu banyak sinagong dan gereja, tetapi masjid ahlus sunnah dirobohkan”

Inilah beritanya.

***

Habib Zain al-Kaff; Habib yang Menjadi Syiah itu Pengkhianat Ahlul Bait

Surakarta (An-najah.net) – Habib yang mengikuti syiah itu adalah pengkhianat Ahlul Bait. Mereka bukan habib tetapi mantan Habib. Hal ini disampaikan oleh Ust. Habib Ahmad Zain Alkaff, Pengurus Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Jawa Timur dan Majelis Tinggi NU Jawa Timur, saat acara kajian ilmiah “Mengapa Syiah Bukan Islam?” di Gedung Al Irsyad, Surakarta, Ahad (2/1).

Habin Zain menegaskan, merupakan kesalahan kalau orang mengatakan Habib itu syiah. Karena dalam literature kehabiban, ahlu bait yang menjadi Syi’ah tidak digolongkan habib.

Tokoh NU yang lantang menasehati Sa’id Agil Siraj, Ketum PBNU yang mendukung Syi’ah, ini menambahkan , bahkan Ketua Habaib, yang hijrah dari Bashrah negeri yang subur menuju Hadramaut negeri yang kurang subur dalam rangka menyelamatkan anak turunanya dari fitnah syiah yang berkembang di Bashrah.

Menurutnya, kalau ada habib yang menjadi syiah itu maka telah berhianat kepada datuknya. “Kalau ada habib tidak berjalan diatas jalan habib dia bukan habib, tetapi mereka mantan habib” tegasnya.

Syiah itu telah melakukan kedustaan. “Syiah mengaku menciantai ahlul bait padahal tidak mencintai mereka” pungkasnya.* (Anwar/annajah) Publikasi: Senin, 2 Rabiul Akhir 1435 H / 3 Februari 2014 13:11

***

Habib Zain: Alasan Mengapa Syiah Bukan Islam

Surakarta (An-najah.net) – Bahaya yang mengancam umat Islam Indonesia saat ini adalah Syiah. Syiah alIran sesat dan menyesatkan serta Syiah itu bukan Islam. Hal ini disampaikan Ust. Habid Ahmad Zain Alkaff, Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dan Majelis Tinggin NU Jawa Timur saat acara kajian ilmiah “Mengapa Syiah Bukan Islam?” di Gedung Al-Irsyad, Surakarta, Ahad (2/1).

Habin Zain menjelaskan Syiah yang berkembang di dunia ini ada tiga. Pertama, Syiah Zaidiyah. Syiah zaidiyah ini berkembang di Yaman Utara, hanya saja Syi’ah Zaidiyah tidak berkembang, bahkan banyak kelompok Zaidiyah yang akhirnya memberikan loyalitas kepada Iran. Hal ini tidak lepas dari bujuk rayu dan dana besar dari Negara Persia ini. Kedua, Syiah Isma’iliyah ini berkembang di India dan Pakistan. Dan pecahan dari Syiah jenis ini adalah Syiah Nushairiyah dan Druzziah. Ketiga, Syiah Imamiyah atau Ja’fariyah, Komeiniyah atau biasa mengatasnamakan madzhab ahlul bait. Syiah ini berpusat di Iran. Setelah revolusi 1979 mereka melakukan eksport ajarannya ke negeri-negeri kaum muslimin termasuk Indonesia.

“Syiah yang ada di Indonesia adalah Syiah Imamiyah, atau Ja’fariyah, atau khomeiniyah atau biasa mengatasnamakan madzhab ahlul bait” katanya.

Menurutnya, aliran sesat yang paling berbahaya adalah Syiah karena mereka didukung Negara kaya Iran. “Negara Iran menggelontorkan dana ada yang dihubungi langsung atau ada juga yang diundang ke Iran kemudian ditunjukkan keberhasilan mereka.” Jelasnya.

Banyak tokoh Islam ditipu oleh Syi’ah. Syi’ah menawarkan pendekatan atau ukhuwah antara Sunni dan Syi’ah. Namun di sisi lain, tokoh-tokoh kita tidak dikasih tahu bagaimana ulama-ulama ahlus sunnah dibunuh, dipenjara dan masjid ahlus sunnah dirobohkan di Teheran padahal disana sinagong dan gereja saja boleh berdiri disana.

“Di Teheran itu banyak sinagong dan gereja, tetapi masjid ahlus sunnah dirobohkan” tegasnya.

Habib juga menjelaskan,Iran suka memberikan beasiswa. Apalagi kebanyakan orang berebut beasiswa ini tanpa melihat itu Syiah atau bukan, Sehingga banyak alumni Iran ketika kembali ke Indonesia jadi murtad dari ajaran Islam. Menjadi missionaries Syi’ah.

Selanjutnya, Pengurus Yayasan Al Bayyinat ini menambahkan, Syiah itu biasanya mengajak ahlus sunnah untuk menjaga ukhuwah Islamiyah. Cara ini digunakan oleh mereka ketika kondisi mereka minoritas, Hal ini tidak berlaku jika mereka mayoritas, sepertiyang terjadi di Iran. Di sana, ahlu sunnah justeru diintimidasi, didzalimi bahkan dibunuh.

“Ukhuwah Islamiyah itu bagus bisa dilakukan jika sesama Islam seperti NU dengan Muhammadiyah, madzhab Syafi’I dengan madzhab hanafi karena perbedaan mereka didalam furu’ bukan ushul.” Ujarnya.

Namun, ini berbeda dengan Syiah. Antara ahlus sunnah dengan Syiah tidak bisa bersatu karena mereka itu berbeda dalam ushul. “Kalau Muhammadiyah, NU, Al Irsyad itu masih satu rumah, berbeda dengan Syiah” tegasnya.

Ia menambahkan Syiah juga menggunakan tokoh-tokoh yang telah dicuci otaknya untuk mengajak metode takrib (pendekatan sunni dan Syiah). “Takrib ini mereka pakai tatkala mereka jadi minoritas hal ini tidak terjadi di Iran” tambahnya.

Ia menegaskan untuk mengetahui kesesatan Syiah maka kita harus merujuk kepada kitab-kitab mereka. Sebagaimana kalau kita ingin mengkaji ahlus sunnah maka harus mengakai kitab-kitab ahlus sunnah, demikian pula kalau kita ingin mengkaji kristenisasi, komunimisme maka juga harus menggunakan kitab-kitab mereka.

Habib zain menjelaskan mengapa alasan Syiah bukan Islam karena aqidah mereka itu bertentangan dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Pertama, karena rukun imannya berbeda dengan Islam. Rukun iman Syiah ada 5 sedangkan rukum Iman umat Islam ada 6. “Konsekunsi dari keimanan ini maka saling mengkafirkan, Syiah mengkafirkan ahlus sunnah dan ahlus sunnah mengkafirkan Syiah” ungkapnya.

Kedua, perbedaan dalam rukun Islam. Kalau rukun Islamnya orang Syiah itu shalat, shaum, zakat, haji dan wilayah. Sedangkan rukun Islamnya ahlus sunnah itu syahadatain, shalat, puasa, zakat, dan haji. Sama konsekuensinya saling mengkafirkan.

Ketiga, Al Qur’an yang dibaca kaum muslim sudah mengalami muharraf (perubahan), bisa ditambah dan dikurangi. Padahal Allah secara tegas telah mengatakan sesungguhkan kami yang telah menurunkan al qur’an dan kami pula yang menjagannya. Hal ini tidak sebagaimana orang Syiah mereka itu mengatakan al qur’an telah berubah baik ditambah maupun dikurangi. Bahkan al qur’an menurut mereka itu 17.000 ayat tiga kali lipat al qur’an yang ada.

Keempat, mereka mengklaim imam-imam mereka lebih mulia daripada Rasulullah SAW. Menurut Syiah Imam kami punya kedudukan diatas Rasulullah Saw. “Seseorang yang mengaku lebih afdhol dari para rasul telah keluar dari Islam, inilah aqidah Islam” tegasnya.

Kelima, mereka mencaci para sahabat bahkan mereka mengkafirkan para sahabat kecuali yang empat orang saja. “Padahal Allah telah menegaskan dalam al Qur’an Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha Allah sebagai rabb mereka” ujarnya.

Ulama NU kelahiran 1941 ini mengingatkan untuk menghadang perkembangan Syiah di Indonesia karena jika tidak diwaspadai maka apa yang terjadi di Irak, Iran, Yaman, Bahrain akan juga bisa terjadi di bumi ahlus sunnah Indonesia ini.

Untuk mengingatkan bahaya Syi’ah beliau mengutip hadits Rasulullah SAW : “Apabila timbul fitnah atau bid’ah, dimana sahabat-sahabatku dicaci maki, maka setiap orang yang berilmu diperintahkan untuk menyampaikan ilmunya (menyampaikan apa yang ia ketahui kesesatan Syiah). Dan barang siapa tidak melaksanakan perintah tersebut, maka dia akan mendapat laknat dari Allah dan dari Malaikat serta dari seluruh manusia. Semua amal kebajikannya, baik yang berupa amalan wajib maupun amalan sunnah tidak akan diterima Allah”.

Umat Islam dituntut pembelaannya manakala Rasulullah SAW, para sahabatnya, istri-istrinya yang dicacimaki oleh siapapun, termasuk Syi’ah. “Kalau seandainya kita tidak marah ketika istri-istri Rasulullah SAW, mertua Rasulullah SAW, menantu Rasulullah dan juga para sahabatnya dicacimaki dan dikafirkan maka diragukan kecintaannya kepada Rasulullah Saw. Jangan mengaku cinta, jika tidak ada buktinya.” Pungkasnya. (Anwar/annajah) Publikasi: Senin, 2 Rabiul Akhir 1435 H / 3 Februari 2014 13:03

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.889 kali, 1 untuk hari ini)