Acara-acara Syiah agar dibubarkan, karena Syiah berkeyakinan pentingnya  mencaci sahabat Nabi. Keyakinan dan dipraktekkan Syiah dalam acara-acaranya  itu jelas menodai agama dan melanggar UU No 1 PNPS/69 KUHAP Pasal 165A tentang Penodaan Agama. Sehingga acara Asyura yang sedianya dilangsungkan di Surabaya Rabu 13 November 2013 telah dibatalkan dan tidak diberi izin oleh Polres Surabaya. (Langgar UU Penodaan Agama, Perayaan Asyuro Ditolak Polres Surabaya https://www.nahimunkar.org/langgar-uu-penodaan-agama-perayaan-asyuro-ditolak-polres-surabaya/ )

  • Di Malaysia, tidak ada perayaan Syiah  yang boleh dilakukan secara terbuka. dengan aturan itu, Malaysia dinilai masih memiliki stabilitas keamanan.
  • Kapolda/Kapolres dan Kapolsek hendaknya segera membubarkan acara ilegal oleh LKAB sebagai ajang  propaganda Syiah. LKAB, ABI dan IJABI sebagai cover/ taqiyah institusi Syiah. Mengapa mereka tak berterus terang sebagai organisasi Syiah? Tapi berlindung dibalik kemuliaan Ahlul Bait utk mengobarkan kebencian dan kedustaan? Waspadalah para aparat negara terhadap infiltrasi ideologi Syiah dalam NKRI melalui berbagai perayaan yang mengutamakan conflic of interrest secara demonstratif mengatasnamakan Ahlul bait.
  • Hari ini Kamis (14/11/2013) kaum Muslimin dari berbagai elemen berkumpul, Masjid Raya Al Musyawarah, Jl. Raya Bolevard Kelapa Gading, Jakarta Utara (samping Mal Kelapa Gading), untuk berupaya meyakinkan dan mendesak aparat membubarkan acara Syiah dengan banner bertuliskan ‘Asyuro Nasional 1435′

Inilah berita-beritanya.

***

Umat Islam akan desak aparat bubarkan acara penghinaan terhadap sahabat Nabi

.

JAKARTA – “Perayaan Syiah di Balai Samudra, Kamis, (14 /11/2013) seharusnya dibubarkan karena melanggar UU No 1 PNPS/69 KUHAP Pasal 165A,” demikian jelas Sekretaris Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Ustadz Shobbarin Syakur kepada arrahmah.com malam tadi Rabu (13/11/2013)

Selain itu anjuran dan Fatwa MUI Pusat dan MUI Jatim no 1/2012 memperkuat untuk tidak dizinkannya acara caci maki sahabat Nabi Shallalahu alaihi wa sallam, yang sangat dihormati oleh kaum Muslimin itu.

Ustadz Shobbarin dalam pesan elektroniknya juga menyampaikan beberap hal argumennya serta desakan perlunya menolak acara Syiah Asyuro, yakni didasari pada:

  1. Peringatan Syahidnya Imam Husein” versi Syiah penuh kedustaan yg berujung pada cercaan dan makian shahabat Rasul shallalahu alaihi wa sallam. Padahal pembantaian sayyidina Husein dilakukan oknum Syiah sendiri untuk membangkitkan perlawanan kebencian terhadap shahabat nabi selain Ali Radhiyallohu anhu.
  2. Penyelenggara LKAB (Lembaga Komunikasi Ahlul Bait), adalah lembaga Syiah yang berlindung sebagai pencinta Ahlul Bait. Padahal mereka itu justru merendahkan martabat dan keutamaan Ahlul Bait serta menyebarkan kedustaan atas nama Ahlul Bait.
  3. Kepala General Affair Balai Samudra Kol. Insinyur Bonar Harahap supaya membatalkan penyewaan gedung tersebut karena dipakai penyebarluasan Syi’ah dengan memperingati “syahidnya Imam Husein” yang dibungkus acara donor darah. (lihat fatwa dan anjuran MUI dan Kemenag RI utk mewaspadai aliran sesat Syiah).
  4. Kapolda/Kapolres dan Kapolsek segera membubarkan acara ilegal oleh LKAB sebagai ajang  propaganda Syiah. LKAB, ABI dan IJABI sebagai cover/ taqiyah institusi Syiah. Mengapa mereka tak berterus terang sebagai organisasi Syiah? Tapi berlindung dibalik kemuliaan Ahlul Bait utk mengobarkan kebencian dan kedustaan? Waspadalah para aparat negara terhadap infiltrasi ideologi Syiah dalam NKRI melalui berbagai perayaan yang mengutamakan conflic of interrest secara demonstratif mengatasnamakan Ahlul bait.

 

Aksi Umat Islam hari ini

Sementara itu, informasi yang dihimpun oleh redaksi, hari ini Kamis (14/11/2013) kaum Muslimin dari berbagai elemen berkumpul, Masjid Raya Al Musyawarah, Jl. Raya Bolevard Kelapa Gading, Jakarta Utara (samping Mal Kelapa Gading), untuk berupaya meyakinkan dan mendesak aparat membubarkan acara Syiah dengan banner bertuliskan ‘Asyuro Nasional 1435′ dengan kemasan tema ‘Karbala inspirasi kepahlawanan menuju indonesia damai’.

Adapun waktu berkumpul pukul 11.00 wib, melakukan shalat Dzuhur berjamaah di Masjid, untuk kemudian bergerak menuju lokasi. Himbauan pakaian bagian atas usahakan memakai pakaian putih.

Elemen-elemen umat Isam yang siap untuk aksi hari ini adalah Majelis Mujahidin, Jamaah Anshotut Tauhid, MPS, Wahdah, MPI, JKD, FS3I, FK2I, SDL dan banyak lagi.

CP:Abu Miqdad: 085262867863, Muadz 087771018310, Amrullah 081219910037.

(azm/arrahmah.com) A. Z. MuttaqinKamis, 10 Muharram 1435 H / 14 November 2013 08:31

***

DPP Hidayatullah Minta Pemerintah Larang Perayaan Asyura Syiah


Redaksi Salam-Online – Rabu, 9 Muharram 1435 H / 13 November 2013 12:13

JAKARTA (SALAM-ONLINE): Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hidayatullah meminta pemerintah dan aparat keamanan untuk melarang perayaan hari Asyura yang digelar kaum Syiah, karena berpotensi besar menimbulkan konflik fisik di tengah masyarakat.

Ormas Hidayatullah merasa perlu menyampaikan sikapnya sehubungan rencana para penganut Syiah menggelar perayaan Asyura di beberapa tempat di Indonesia.

Menurut Kepala Biro Humas PP Hidayatullah, Mahladi, ajaran Syiah memiliki banyak perbedaan, bahkan bertentangan secara akidah dengan Islam yang dianut mayoritas bangsa Indonesia, sehingga berpotensi menimbulkan konflik di tengah masyarakat.

Dalam rilisnya Biro Humas PP Hidayatullah mengatakan, peringatan Asyura di Indonesia, baik secara terbuka dengan pengerahan massa maupun lewat media elekronik seperti televisi, berpotensi besar menimbulkan konflik fisik di tengah masyarakat.

“Karena itu, kami meminta kepada pemerintah dan aparat keamanan agar melarang perayaan ini untuk menjaga keamanan masyarakat dan negara,” tegas Mahladi.

(salam-online)

***

Pemuda Persis: Pemerintah bisa Tiru Sikap Malaysia Soal Peringatan Asyuronya Syiah

Kamis, 14 November 2013 – 06:39 WIB

Hidayatullah.com–Ketua Umum Pemuda Persatuan Islam (Persis), Tiar Anwar Bachtiar, meminta pemerintah bersikap tegas terhadap masalah Syiah di Indonesia, yang dinilai telah mengadakan acara secara terang-terangan.

”Jika acara-acara seperti ini dibiarkan, akan memberi efek buruk pada umat. Jika acara seperti ini dibiarkan, seolah seperti perayaan keagamaan biasa. Banyak umat tidak paham tentang ajaran Syiah yang sesungguhnya,” dengan ujarnya dalam pernyataan yang disampaikan padahidayatullah.com, Rabu (13/11/2013).

Menurut Tiar, upaya kelompok Syiah ”membawa” perayaan Asyuro ke tengah umat Islam sudah dimulai tahun 2010. Ia mencatat kegiatan di Pusdai Bandung. Karena adanya protes umat Islam, akhirnya penyelenggaraan dipindahkan ke Gedung Kana.

“Jadi sudah 4 tahun perayaan Asyuro diadakan di lokasi yang sama,” tambahnya.

Menurut Tiar, Indonesia perlu belajar banyak dari sikap pemerintah Malaysia dalam menyikapi keberadaan aliran sesat.

”Di Malaysia, sekalipun Syiah dibiarkan hidup, tetapi di sana mereka tidak bebas berkembang,”tegasnya.

Tidak ada perayaan yang boleh dilakukan secara terbuka. Dengan aturan itu, Malaysia dinilai masih memiliki stabilitas keamanan.

Menurut kandidat doctor UI bidang sejarah ini, sesungguhnya, keberadaan Syiah itu merugikan pemerintah, karena kelompok ini bukan penganut paham demokrasi. Sayangnya pemerintah selama ini dinilai kurang memiliki kepekaan.

”Syiah sebenarnya berbahaya bagi pemerintah karena tidak menganut paham demokrasi dan perbedaan akidah,” tuturnya.

Sebelumnya, dengan alasan rawan potensi konflik, beberapa elemen Islam menolak acara Asyuro yang rencananya akan diadakan kalangan Syiah pada hari Kamis 14 November 2013 Pukul ; 12.30-16.30 WIB di Balai Samudera, Jl. Boulevard Barat No. 1, Kelapa Gading Jakarta Utara.*

Rep: Rias Andriati

Editor: Cholis Akbar

***

PERTI: Fatwa MUI Aspirasi Umat Islam Indonesia, Peringatan Asyuro Bisa Picu Konflik

Rabu, 13 November 2013 – 21:49 WIB

Spanduk Menolak SyiahSebuah spanduk penolakan peringatan Asyuro di Bandung, Jawa Barat

Hidayatullah.com — Ketua Umum DPP Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Tengku Mohammad Faisal Amin, meminta kepada penganut aliran Syiah di Indonesia agar menjaga perasaan mayoritas penduduk Indonesia yang Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ia pun berharap upacara peringatan Hari Asyuro yang diagendakan digelar agar jangan sampai memunculkan potensi konflik horizontal. Sebab, tegas dia, Indonesia bukanlah tempatnya Syiah.

Menyinggung soal fatwa tentang Syiah yang dikeluarkan MUI Jawa Timur 2012 silam, Tengku Faizal mengatakan Majelis Ulama Indonesia merupakan perwakilan umat Islam di Indonesia. Sehingga keputusan MUI adalah keputusan yang membawa aspirasi daripada umat Islam.

“Jadi secara otomatis keputusan sesat Syiah itu juga menjadi keputusan bulat umat Islam Indonesia,” ujarnya dalam perbincangan dengan hidayatullah.com, Rabu (13/11/2013).

Oleh karena itu, Tengku mengatakan Perti sebagai komponen bangsa mendesak pemerintah untuk senantiasa mengawal aspirasi mayoritas penduduk Indonesia itu.

Bangsa Indonesia adalah negara yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Bangsa ini juga, terang dia, adalah bangsa yang beragama, beradab, beradat, sopan dan santun, berbudi bahasa, dan saling menghormati.

Oleh karena itu, jelasnya, urusan urusan agama diserahkan kepada yang berkompetensi di bidang agama. Untuk umat Islam Indonesia, berarti kepada MUI, ucapnya.

“Kita tidak menginginkan sesuatu yang datang dari luar ini mendatangkan malapetaka dan ketidakharmonisan antar sesama kita,” pungkas tokoh Aceh yang juga anggota DPR RI ini.

Sebelum ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat telah mengeluarkan buku panduan berjudul “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia.”

Buku yang disusun oleh Tim Penulis MUI Pusat yang terdiri dari Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat), Prof. Dr. Yunahar Ilyas (Wakil Ketua MUI Pusat), Drs. H. Ichwan Sam (Sekjend MUI Pusat) dan Dr. Amirsyah (Wakil Sekjend MUI Pusat) dengan pelaksana dari Tim Khusus Komisi Fatwa dan Komisi Pengkajian MUI Pusat yang terdiri dari, Prof. Dr. Utang Ranuwijaya, Dr. KH. Cholil Nafis, Fahmi Salim, MA., Drs. Muh. Ziyad, MA., M. Buchori Muslim, Ridha Basalamah, Prof. Dr. H Hasanuddin AF, Dr. H. Asrorun Ni’am Sholeh, MA., Dr. H. Maulana Hasanuddin dan Drs. H. Muh. Faiz, MA.

Sekadar diketahui, Hari Asyura adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Hari Asyura selalu diperingati oleh umat Syiah karena anggapan Asyura merupakan hari berkabung atas meninggalnya Husain bin Ali, cucu dari Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Sebelumnya, beberapa elemen Islam menolak acara Asyuro yang rencananya akan diadakan kalangan Syiah pada hari Kamis 14 November 2013 Pukul ; 12.30-16.30 WIB di Balai Samudera, Jl. Boulevard Barat No. 1, Kelapa Gading Jakarta Utara.*

Rep: Ainuddin Chalik

Editor: Cholis Akbar

***

Inilah Sikap FUI Soal Syiah

Rabu, 13 November 2013 – 22:54 WIB

Dalam menghadapi bahaya Syiah ini FUI meminta agar kaum muslimin tidak terpancing adu domba

Hidayatullah.com–Forum Umat Islam (FUI) melalui Sekretaris Jenderal Muhammad Al-Khaththath meminta kepada Majelis Uama Indonesia (MUI) Pusat untuk segera memanggil tokoh-tokoh Syiah.

“Untuk mengajak mereka bertobat dan ruju’ ilal haq, yakni kembali kepada ajaran Islam yang benar sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah dan bilamana mereka menolak kembali kepada Alquran dan As-Sunnah, kami meminta MUI Pusat menerbitkan Fatwa yang melarang ajaran Syiah di Indonesia,” demikian poin pertama pernyataan sikap FUI yang diterima hidayatullah.com, Rabu (13/11/2013) malam.

Selain itu, FUI juga meminta kepada tokoh-tokoh Syiah untuk tidak melakukan penyebaran ajaran Syiah di tengah-tengah masyarakat Islam Indonesia apalagi aktivitas-aktivitas yang bersifat demonstratif yang bisa memicu konflik dengan umat Islam.

Pada poin ketiga FUI meminta kepada para aktivis Islam yang menentang aksi-aksi Syiah untuk tidak terpancing oleh kegiatan intelijen yang mendorong terjadinya aksi anarkis yang memperburuk citra umat Islam.

FUI menilai isu Syiah ini berpotensi menjadi sarana adu domba antar sesama Muslim dan aktivis Islam yang dilakukan intelijen. Untuk itu FUI meminta kepada para aktivis Islam agar tidak terpancing.

Pada poin kelima, FUI meminta kepada seluruh ulama, habaib, dan para pimpinan serta aktivis ormas dan gerakan Islam untuk menyatukan barisan dan mempererat jalinan ukhuwah Islamiyyah di dalam perjuangan mewujudkan NKRI Bersyariah.*

Rep: Ibnu Syafaat

Editor: Cholis Akbar

***

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.897 kali, 1 untuk hari ini)