Oleh : Dr. Slamet Muliono*

Salah satu di antara penyimpangan yang terjadi di kalangan Syiah adalah pengagungan terhadap tokoh-tokoh Syiah yang berlebihan (Ghuluw). Pengagungan terhadap tokoh yang diagungkan itu, tak terasa telah mensejajarkan kekuasaan mereka dengan kekuasaan Allah. Betapa tidak, mereka mengagungkan dan meminta pertolongan dengan memanggil-manggil nama Ali bin Abi Thalib dan keluarga Ahlul Baitnya ketika menyampaikan hajatnya. Kalau kita renungkan dengan jernih, maka hal ini bertentangan dengan keharusan untuk mentauhidkan Allah dengan meminta dan memohon kepada-Nya dalam segala urusan.

Misi Kenabian : Menegakkan Tauhid

Menegakkan kalimat tauhid merupakan misi para Nabi dan Rasul. Ibadah merupakan ritual untuk mentauhidkan Allah yakni dengan mengesakan-Nya dalam berdoa, bertawakkal, takut, berharap, cinta, taat, bernazar, berkurban dan amalan lainnya. Dengan definisi ini maka tauhid bisa dibagi menjadi dua yakni tauhid hati dan tauhid anggota badan. Tauhid hati termasuk di dalamnya  rasa cinta, cemas, berharap, tawadhu, tawakal, dan takut. Tauhid anggota badan termasuk di dalamnya doa, istighosah, (memohon pertolongan di kala mendapat kesulitan), menyembelih kurban, bernadzar, bersumpah, dan lain-lain. Semuanya ditujukan hanya kepada Allah bukan kepada selainnya. Dengan kata lain, semua doa dan permohonan hanya kepada Allah. Hal ini sebagaimana termaktub dalam firman-Nya :

(لَهُۥ دَعۡوَةُ ٱلۡحَقِّۚ وَٱلَّذِینَ یَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا یَسۡتَجِیبُونَ لَهُم بِشَیۡءٍ إِلَّا كَبَـٰسِطِ كَفَّیۡهِ إِلَى ٱلۡمَاۤءِ لِیَبۡلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَـٰلِغِهِۦۚ وَمَا دُعَاۤءُ ٱلۡكَـٰفِرِینَ إِلَّا فِی ضَلَـٰلࣲ)

Hanya kepada Allah doa yang benar. Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, tidak ubahnya seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ar-Ra’d : 14)

Allah menunjukkan bahwa berhala-berhala  yang mereka sembah selain Allah tidak bisa mengabulkan permohonan, termasuk Rasul, wali, orang-orang yang dianggap shalih. Sementara Allah menegaskan bahwa doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.

Para wali yang shalih tidak memiliki kekuasaan mendatangkan manfaat atau menolak bahaya dari diri sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa  berbuat hal itu untuk orang lain. Nabi sekalipun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali karena pertolongan Allah. Padahal Nabi termasuk makhluk Allah yang lebih dekat dan memiliki sejumlah kelebihan, baik pengabdian dan amal perbuatan. Namun hal itu tidak membuatnya bisa menjamin untuk menolak atau mendatangkan manfaat terhadap dirinya. Hal ini sebagaimana firman-Nya :

قُلۡ إِنِّی لَاۤ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرࣰّا وَلَا رَشَدࣰا

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.”  [QS. Al-Jin : 21]

Selevel Nabi dan Rasul saja tidak memiliki kekuasaan untuk mendatangkan kebaikan untuk dirinya atau umatnya. Maka bagaimana dengan manusia yang levelnya berada di bawah Nabi/ oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh pengikut Syiah yang mengagungkan para imam mereka sungguh berlebihan, dan tidak ada dasar ajarannya.

Kepercayaan terhadap Imam Mahdi

Berbeda dengan kalangan Ahlu Sunnah yang selalu mengingatkan pentingnya setip hamba untuk mendudukkan Allah dengan pengagungan  setinggi-tingginya, dan menempatkan hamba, yang shalih sekalipun, pada posisi yang berada di bawah pencipta yang Maha Kuasa dan Maha segalanya. Hal ini berbeda dengan kaum Syiah, yang melakukan pengagungan terhadap figur yang  dianggap luar biasa. Mereka memanggil-manggil tokoh yang diagungkan seperti memanggil Allah. Mereka memanggil-manggil dengan seruan : “Ya Ali”, “Ya Mahdi”,  “Ya Abbas”, “Ya Abu Fadhl”, Ya Husain”, Ya Zahrah”

Kepercayaan orang Syiah bahwa Imam Mahdi masih bersembunyi dan belum terlihat oleh manusia. Bahkan tidak ada manusia yang bisa sampai kepadanya, dan tidak ada yang mengetahui tempatnya, tetapi hal itu tidaklah menafikan kabar kemunculannya saat keadaan darurat. Yaitu saat seseorang memohon pertolongan dan meminta perlindungan kepadanya, karena segala sebab telah terputus dan semua pintu keluar telah tertutup.

Adapun kepercayaan dan pengagungan yang demikian tinggi terhadap imam-imam mereka dan Ahlul Bait sudah di luar kewenangan dan kemampuan yang mereka miliki. Hal ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Isa ketika ditanya oleh Allah tentang penyimpangan yang dilakukan oleh kaum Nasrani, sebagaimana firman-Nya :

وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?” (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.” (QS. Al-Ma’idah : 116)

Tentu saja, Ali bin Abi Thalib dan keluarga Ahlul Baitnya yang memiliki akidah yang lurus tidak bisa mengatakan apa yang diyakini oleh kaum Syiah, kecuali sebagaimana yang dikatakan Isa bin Maryam ketika ditanya Allah tentang kepercayaan kaum Nasrani yang meyakini Isa dan ibunya sebagai Tuhan. Kesesatan yang dialami oleh kaum Nasrani sama seperti kaum Syiah yang meyakini para imam Ahlul Bait memiliki keagungan sebagaimana keagungan Allah.

*Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

Surabaya, 10 April 2019

(nahimunkar.org)

(Dibaca 719 kali, 1 untuk hari ini)