Setelah aksi pembubaran Perayaan Asyura Di Balai Samudera Kelapa Gading Jakarta bersama sejumlah ormas Islam Sunni/Ahlusunnah, ikhwan SDL mendapat teror habis-habisan dari pihak syiah dan tekanan dari oknum (?) aparat.

Teror tersebut berakhir dengan diblokirnya fan page FB SDL di: www.facebook.com/sunnahdefenceleague

Meskipun  begitu, kami tidak akan menyerah, gugur satu tumbuh seribu, apapun yang syiah lakukan terhadap kami, tidak akan pernah menyurutkan langkah juang kami dalam menghadang laju mereka, ungkap awak SDL yang tak ingin disebut namanya.

Dia berharap: Bantu Like & Share Fan page SDL yang baru ya ikhwah: www.facebook.com/sdlpusat

Kita diserang karena syiah tahu, kita membahayakan eksistensi mereka, keberadaan kita mulai diperhitungkan.

Lakukan juga serangan balik ke page syiah BHS: www.facebook.com/beritahariansuriah nah lihat berita tentang Media Syiah Gencar melakukan Berita Dusta, selengkapnya di https://www.nahimunkar.org/waspadai-media-syiah-gencar-membuat-berita-dusta/
Bersama-sama kita akan menghadapi mereka hingga mereka kembali hanya beriman kepada Alloh saja.

Allohu Akbar!!!
#IndonesiaDamaiTanpaSyiah
#SayNoToSyiah
#SyiahBukanIslam

Dukung MUI Keluarkan Fatwa Syi’ah Sesat Dan Haram Di Indonesia
Rapatkan Barisan, Perangi dan Tolak Syi’ah dari Indonesia
Menyibak Tabir Agenda Tersembunyi Syi’ah di Indonesia
Indonesia Menolak Syi’ah
Panitia Antisipasi MAKAR Syi’ah di Indonesia PAM Syi’ah Indonesia

Laporan dari Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd (Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat).

***

Lebih galak terhadap Kaum Muslim dibanding kepada Nasrani ataupun Syiah

Seorang aktivis yang dekat dengan Umar Abduh (mantan anggota LPPI –Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) mengabarkan, beberapa waktu lalu blog umarabduh juga terganggu. Tidak dijelaskan, pihak mana yang mengganggunya.

Kalau dilihat di dunia maya, blog umarabduh dituduh oleh para penulis komentar di facebook sebagai pihak yang menuduh seorang habib. Ketika habib itu menantang mubahalah siapa saja yang menuduhnya syiah, serta merta ada tudingan di dunia maya terhadap Umar Abduh. Apakah memang Umar Abduh menuduh tokoh itu sebagai syiah atau tidak, sang tokoh sendiri tidak menyebutnya. Sementara itu ada tudingan di dunia maya pula terhadap Hartono Ahmad Jaiz dianggap menuduh sang habib. Padahal habib itu sendiri tidak menyebutnya. Maka Hartono Ahmad Jaiz kemudian menulis artikel sebagai jawaban tudingan yang dilontarkan para penulis komentar di dunia maya tersebut. Artikel itu berjudul Tantanagn Mubahalah Habib Rizieq dimuat di nahimunkar.com  https://www.nahimunkar.org/tantangan-mubahalah-habib-rizieq-syihab/. Intinya, tantangan mubahalah itu terserah saja kepada Pak Habib untuk mengajak/ menantang siapa saja, namun kalau persoalannya menyangkut Hartono Ahmad Jaiz dengan adanya tulisan di nahimunkar.com, maka  agar ditentukan mana poin-poin yang dipersoalkan lalu dikemukakan hujjah dan dibicarakan. Bila saling ngotot dan sudah buntu jalannya, maka baru mubahalah dengan ditentukan poin yang dimasalahkan. Jadi mubahalah itu kalau sudah buntu dan tetap saling ngotot.

Perlu diketahui, tulisan di nahimunkar.com itu hanya menyebut cenderung syiah, dengan mengutip beberapa ungkapan sang habib hasil wawancara media dan hal lainnya; bukan menuduh sang habib sebagai syiah. Yang dikutip nahimunkar.com itu sudah beredar sekian lama dan bukan hanya satu media, serta belum pernah ada ralat ataupun pencabutan pendapat sang habib yang telah beredar itu.

Perlu dicermati, lafal “cenderung syiah” itu beda jauh dengan syiah. Sebagai contoh, beberapa tahun lalu di Jakarta ada satu seminar antara Islam dan Nasrani. Dr Sanihu dan Hartono Ahmad Jaiz (Islam) berhadapan dengan Dr Sinaga dan Pendeta Andreas (Nasrani). Dr Sinaga kurang lebihnya mengaku dirinya dalam hal Ketuhanan cenderung seperti Ketuhanan dalam Islam. Jadi saya juga Islam, ungkapnya. Lalu Hartono Ahmad Jaiz menjawab, Islam secara bahasa : ya. Tapi secara istilah : tidak/bukan. Kemudian ditimpali Dr Sanihu, bahwa Dr Sinaga seperti itu artinya orang Nasrani perlu jadi liberal untuk jadi Islam. Sebaliknya, kalau orang Islam kok liberal, maka justru akan cenderung/ dekat dengan Nasrani.

Pantas dicermati, di dalam pergaulan kalangan tokoh, ada seorang pendeta bernama Pdt. Victor Immanuel Tanja, MTh, PhD. Dia semasa hidupnya pernah mengaku bahwa dirinya di kalangan jemaat gereja dijuluki sebagai  MUI-nya kaum Kristen Protestan, karena kedekatannya dengan Islam, baik pergaulan maupun pemikiran. Itu diakui sendiri oleh Sang Pendeta itu kepada penulis laporan ini ketika ada konferensi antar agama di Bali dulu. Sebagaimana dari kalangan Islam ada juga yang mereka sebut Pendetanya orang Islam, karena dekatnya dengan kaum walan tardho baik  secara kiprahnya maupun pemikirannya, hingga walau tidak mencopot Islamnya namun diberi gelar laskar Kristus. Hingga setelah meninggalnya, diadakan upacara tahlilan (upacara bid’ah peringatan orang meninggal) di gereja.

Menjalani lakon seperti itu di antaranya diperankan dengan lebih galak terhadap kaum Muslimin yang dianggap musuhnya dibanding kepada orang kafir sekalipun, karena telah menjadi temannya. Di saat kaum Muslimin sedang gencar-gencarnya berlawanan dengan Syiah, orang yang entah menirukan mendiang itu atau tidak, kurang lebihnya juga sama. Lantas mau dibilang apa?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.645 kali, 1 untuk hari ini)