Pengikut sesat Syiah dalam suatu acara mereka di Balai Samudera, Jakarta Utara beberapa waktu lalu

  • Komunitas Syiah Zaidiyah hanya ada di Yaman, meski disebut moderat tapi mereka sekarang membantai umat Islam di sana. Jadi kita harus siap dan waspada.
  • Ini mengingatkan akan perkataan Jalaluddin Rakhmat, gembong Syiah – IJABI yang menantang Umat Islam Indonesia dengan sesumbarnya akan memindah konflik Yaman ke Indonesia.

SURABAYA– Pada pengajian rutin bertema “Fakta dan Data Syi’ah Di Indonesia” di Masjid Mujahidin Perak Barat Surabaya, Ahad (15/6/2014), Ustadz Farid Ahmad Okbah, MA., menjelaskan Syiah yang ada di Indonesia itu cuma dua saja, Ghullat (ekstrem) dan Rofidhoh (mencela shahabat Nabi saw).

“Jadi tidak benar rilis yang disampaikan FPI Pusat adanya Syi’ah Zaidiyah (moderat) di Indonesia. Komunitas Zaidiyah ini hanya ada di Yaman, meski disebut moderat tapi mereka sekarang membantai umat Islam di sana. Jadi kita harus siap dan waspada,” ungkap Ustadz Farid.

Ini mengingatkan akan perkataan Jalaluddin Rahmat, gembong IJABI yang menantang Umat Islam Indonesia dengan sesumbarnya akan memindah konflik Yaman ke Indonesia.

Para ulama, imbuh Ustadz Farid, mengungkap kesesatan Syiah lewat kitab-kitab rujukannya. Mantan ulama Syi’ah yang sadar, Ulama-ulama Sunni yang berinteraksi dengan ulama Syi’ah seperti Imam Allusy di Iraq.

Sementara untuk mendapatkan Fakta dan Data Syi’ah di Indonesia, dirinya melakukan riset di lapangan, dan mengikuti kegiatan kaum Syiah, “Kita melakukan riset di lapangan, dan mengikuti kegiatan mereka, penelitian mahasiswa, data intelejen komunitas Syi’ah di Indonesia dan data lain yang sifatnya rahasia,” ujarnya sambil menampilkan rincian data di layar lebar. (Data ini bisa kita baca di buku yang ditulis beliau, Ahlussunnah wal jamaah dan dilema Syiah di Indonesia. Terbitan Perisai Qur’an.)

Sebagai pegangan untuk menangkal kebathilan dan memperjuangkan kebenaran dengan cara yang benar, Ustadz Farid mengutip ulama abad pertama Imam Al-Auza’i yang meringkas pegangan para shahabat, “Luzumul Jamaah (menetapi jamaah), Ittiba’us sunnah (mengikuti sunnah), Tilawatul Qur’an (membaca Alqur’an), Imaratul Masjid (memakmurkan masjid), Jihad fi Sabilillah (berjihad di jalan Allah),” pungkasnya.(azm/masarul/arrahmah.com) A. Z. Muttaqin Sabtu, 7 Ramadhan 1435 H / 5 Juli 2014 14:04

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.761 kali, 1 untuk hari ini)