Rekam Jejak Umat Muslim Madura Menjaga Akidah Dari Inflitrasi Syi’ah

  • Ketua MUI Sampang KH Bukhori Maksum menjelaskan, konflik antara umat Islam dan Syi’ah di Sampang terjadi berawal dari sikap tokoh Syi’ah Sampang, Tajul Muluk, yang melanggar kesepakatannya sendiri tahun 2008 lalu, untuk tidak mengadakan ritual dan berdakwah tentang paham Syi’ahnya. Namun, tambah KH Bukhori, Tajul Muluk ternyata masih tetap mengadakan ritual dan menyebarkan paham Syi’ah kepada masyarakat sekitar.
  • Hal ini juga diamini, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, ia mengakui konflik antara umat Islam dan Syi’ah sudah berjalan cukup lama.

***

Kemarahan umat Islam kepada Syi’ah akhirnya meletus juga. Kemarin Kompleks Pesantren Sekte Syi’ah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang Madura, dibakar massa, Kamis pagi (29/12/2011).

Aksi pembakaran pada pukul 09.30 WIB ini, dilakukan warga sekitar karena warga terusik dan tidak suka dengan keberadaan pesantren Syi’ah di sana.

Konflik antara umat Islam dengan sekte Syi’ah sebenarnya bukan hanya kali ini terjadi. Sebelumnya sekte Syi’ah sudah diingatkan berkali-kali untuk tidak mengotori akidah umat di Madura.

Keberadaan Syi’ah di Madura sendiri bisa dilacak sejak tahun 1980-an. Para ulama sudah mewanti-wanti keberedaan Syi’ah karena mereka tahu kesesatan ajaran ini dalam merusak akidah umat.

Sampai pada tahun 2006, para ulama sudah mengambil sikap tegas atas inflitrasi ajaran Syi’ah. Mereka sudah banyak berdakwah kepada warga tentang ajaran Islam yang tidak seperti Syi’ah ajarkan.

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M sudah merekomendasikan tentang sekte Syi’ah yang memberikan perbedaan-perbedaan dengan ajaran Ahlu Sunnah. Perbedaan itu di antaranya :

  1. Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
  2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
  3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
  4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama,sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.
  5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Orang Madura memang terkenal akan perlindungan terhadap akidah. Sebelumnya pada Februari 2011, sikap tegas diambil sekitar 130 kiai dan ulama dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Madura. Mereka meminta pemerintah bersikap tegas menyangkut keberadaan dan ajaran Ahmadiyah di Indonesia. Hal itu merupakan salah satu rekomendasi dari Forum atau Halaqah Ulama se-Jawa dan Madura yang digelar Majelis Silaturrohim Pengasuh Pondok Pesantren Indonesia (MSP3I) yang digelar di Pondok Pesantren Sidogiri, di Desa Sidogiri, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Ketua MUI Sampang KH Bukhori Maksum menjelaskan, konflik antara umat Islam dan Syi’ah di Sampang terjadi berawal dari sikap tokoh Syi’ah Sampang, Tajul Muluk, yang melanggar kesepakatannya sendiri tahun 2008 lalu, untuk tidak mengadakan ritual dan berdakwah tentang paham Syi’ahnya. Namun, tambah KH Bukhori, Tajul Muluk ternyata masih tetap mengadakan ritual dan menyebarkan paham Syi’ah kepada masyarakat sekitar.

Hal ini juga diamini, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, ia mengakui konflik antara umat Islam dan Syi’ah sudah berjalan cukup lama. Sebelumnya Tajul Muluk juga mengatakan bahwa ajaran Syi’ah tidaklah sesat. Namun menurut KH Bukhori, Islam dan Syi’ah memiliki banyak perbedaan, di antaranya sistem ibadah yang tidak sama, doktrin nikah mut’ah (kawin kontrak), azan dan iqamat yang ditambah. “Azan mereka itu ditambahi dengan kalimat ‘hayya ala khoiril amal,’ ‘asyhadu anna ‘aliyyan waliyullah’ dan ‘asyhadu anna ‘aliyyan hujjatullah’. Bagi masyarakat non Syi’ah, sudah tentu ini melenceng,” ujarnya.

Secara garis besar, alasan warga masyarakat kenapa ingin membubarkan Syi’ah, adalah sebagai berikut:

  1. Sesat. Seperti juga Ahmadiyah, Syi’ah dianggap sesat. Warga masyarakat di sana senantiasa diberikan pemahaman bahwa Syi’ah itu adalah ajaran sesat dan harus dihilangkan.
  2. Tajul Muluk dan jamaahnya yang berjumlah seratus orang, diultimatum oleh Badan Silaturrahim Ulama Madura (Basra) agar dirinya bersama lebih dari 100 jemaahnya segera hengkang dari Sampang.

Selanjutnya, Ulama muslim sendiri sudah mengajukan keberatannya terhadap ajaran Syi’ah yang dianggap melakukan penyimpangan ajaran Islam. Beberapa penyimpangan itu ialah mengesahkan kawin mut’ah atau pernikahan tanpa adanya wali atau saksi. Kemudian Syi’ah juga dituduh tidak mewajibkan pengikutnya melakukan salat Jumat.

Sontak dua orang perwakilan jemaah Syi’ah, yakni Ibrahim dan Haidar Sarif membantahnya. Menurut keduanya, Syi’ah tidak pernah mengajarkan untuk tidak melaksanakan salat Jumat dan kawin mut’ah. Namun ketegangan ini berhasil dinetralisir oleh para ulama.

Shalat Jum’at Aneh Ala Syi’ah

Betulkah sekte Syi’ah menjalankan Sholat Jum’at? Dalam Syi’ah, shalat Jum’at memang tidak wajib dilaksanakan pemeluknya karena mereka menunggu kehadiran Imam Mahdi, yang tentu Imam Mahdi dalam perspektif Syi’ah.

Dalam kesempatan menjadi Keynote Speaker dalam seminar tentang kesesatan Syi’ah, Jum’at/10/06/2011, di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, KH. Kholil Ridwan juga mengeluarkan sebuah cerita unik tentang model Sholat Jum’at ala Syi’ah di Iran.

Beliau mengaku mendapatkan kisah ini langsung dari almarhum KH. Irfan Zidny, mantan pengurus PBNU yang sempat 11 tahun di Irak dan banyak bergaul dengan orang Syi’i.

“Beliau (KH Irfan Zidny, red) cerita banyak yang lucu-lucu dari Syi’ah di Iran. Syi’ah itu tidak ada shalat jumat sebelum kedatangan Khomeini. Karena Imam ke 12 masih gaib,” ujarnya

Jadi gimana mau shalat, Imamnya aja masih gaib. jadi gambar-gambar kubah di Iran itu pun bukan mesjid, tapi kuburan.” tambah KH. Kholil mengagetkan para pengunjung seminar.

Lalu kapankah Iran baru mendirikan Shalat Jum’at secara bersama-sama? KH. Kholil menyebutkan bahwa shalat jum’at di Iran baru dapat terlaksana ketika revolusi Iran meletus dan melambungkan nama Imam Khomeini. “Nah setelah revolusi Iran baru diadakan Shalat Jum’at karena Imamnya sudah muncul yakni Khomeini yang tampil sebagai pemimpin spiritual Iran.”

Namun uniknya, berbeda dengan shalat Jum’at yang dilakukan kaum muslim, shalat Jum’at yang dilaksanakan kaum Syi’ah hanya didirikan di satu tempat, yakni Teheran. Semua kaum Syi’ah pun melaksanakannya berbondong-bondong di satu tempat itu.

“Beda dengan di kita, Shalat jum’at di Iran waktu itu cuma ada satu, yaitu di Teheran dan semua warga Iran shalat jum’at di sana dan imamnya harus Presiden Banisadr atas petunjuk Khomeini. Bayangkan segitu banyaknya kaum Syi’ah di Iran tempat shalat jum’atnya hanya satu dan imamnya harus Presiden Banisadr.” papar KH. Kholil Ridwan memancing tawa para jama’ah yang memadati areal Mesjid Al Furqon DDII.

Menariknya, suatu ketika Shalat Jum’at di Iran terpaksa diliburkan ketika Kanselir Jerman datang ke Iran bertepatan dengan waktu Shalat Jum’at. Banisadr yang memiliki kewajiban sebagai Presiden dan sekaligus Imam Shalat Jum’at tentu bimbang. Dan dengan terpaksa ia lebih memilih menyambut Kanselir Jerman tersebut, dan mengontak perwakilan Mesjid.

“Shalat Jum’at dibatalkan dulu, karena Presiden dapat kunjungan tamu negara dari Jerman,” tambah KH Kholil, lagi disambut tawa riuh dari jama’ah. (Pz/berbagai sumber)

ERAMUSLIM > BERITA NASIONAL

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/rekam-jejak-umat-muslim-madura-menjaga-akidah-dari-inflitrasi-Syi’ah.htm
Publikasi: Jumat, 30/12/2011 10:58 WIB

Ilustrasi/ rimanews

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.621 kali, 1 untuk hari ini)