Sedekah adalah investasi dunia akhirat. Jika Anda rajin sedekah harta, Allah akan ganti lebih banyak di dunia dan balas dengan kelipatan bahagia yang tak bisa diukur ratio sedekah Anda. Jika Anda rajin sedekah ilmu, Allah akan tetapkan ilmu Anda lebih kental, bahkan Dia tambahkan dan berkahi di dunia, dan Dia balas di akhirat dengan kebahagiaan yang jauh sekali. Bahkan, setiap ilmu yang diamalkan murid, selalu menjadi tambahan saldo rekening pahala Anda.

Saya sedang ingin juga menjajakan satu hadits riwayat al-Bukhary tentang “bolehnya makan kenyang”, tapi saya lebih menekankan bahwa Rasulullah, Nabinya kita itu, adalah seorang besar yang sangat dermawan, suka traktir, suka berbagi dan tidak pernah menolak permintaan kebaikan.

Imam al-Bukhary menuturkan dalam “ash-Shahiih”:

حَدَّثَنَا مُوسَى، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: وَحَدَّثَ أَبُو عُثْمَانَ، أَيْضًا، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلاَثِينَ وَمِائَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ طَعَامٌ» فَإِذَا مَعَ رَجُلٍ صَاعٌ مِنْ طَعَامٍ أَوْ نَحْوُهُ، فَعُجِنَ، ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ مُشْرِكٌ مُشْعَانٌّ طَوِيلٌ، بِغَنَمٍ يَسُوقُهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَبَيْعٌ أَمْ عَطِيَّةٌ» أَوْ قَالَ: «هِبَةٌ» قَالَ: لاَ، بَلْ بَيْعٌ، قَالَ: فَاشْتَرَى مِنْهُ شَاةً فَصُنِعَتْ، فَأَمَرَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَوَادِ البَطْنِ يُشْوَى، وَايْمُ اللَّهِ، مَا مِنَ الثَّلاَثِينَ وَمِائَةٍ إِلَّا قَدْ حَزَّ لَهُ حُزَّةً مِنْ سَوَادِ بَطْنِهَا، إِنْ كَانَ شَاهِدًا أَعْطَاهَا إِيَّاهُ، وَإِنْ كَانَ غَائِبًا خَبَأَهَا لَهُ، ثُمَّ جَعَلَ فِيهَا قَصْعَتَيْنِ، فَأَكَلْنَا أَجْمَعُونَ وَشَبِعْنَا، وَفَضَلَ فِي القَصْعَتَيْنِ ، فَحَمَلْتُهُ عَلَى البَعِيرِ، أَوْ كَمَا قَالَ (صحيح البخاري (7/ 69)

Telah menceritakan kepada kami Musa Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dari bapaknya ia berkata; Dan Abu Utsman Telah menceritakan juga dari Abdurrahman bin Abu Bakar radliallahu ‘anhuma, ia berkata; Suatu ketika kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan seratus tiga puluh orang sahabat.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah salah seorang dari kalian memiliki makanan?”

ternyata ada seorang laki-laki yang mempunyai satu Sha’ makanan atau sebanyak itu, lalu makanan itu pun dibuat adonan. Kemudian datanglah seorang laki-laki musyrik berambut kusut dan berpostur tubuh tinggi dengan membawa kambing.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah kambing itu adalah untuk dijual, diserahkan sebagai pemberian ataukah Hibah?” laki-laki itu menjawab, “dijual.”

Akhirnya beliau membeli satu kambing dari orang itu, lalu kambing itu dimasak. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat agar dipanggangkan. Dan sungguh Maha Besar Allah, tidak seorang pun dari seratus tiga puluh orang itu, kecuali telah memotong daging perut kambing itu. Bila ia hadir, maka beliau akan memberinya langsung, dan jika tidak, maka beliau akan menyimpan untuknya. Kemudian beliau meletakkan sebagian darinya di dalam nampan, lalu kami pun makan di situ semuanya, dan kami pun kenyang. Namun di dalam nampan ternyata masih tersisa, sehingga aku pun membawanya di atas Unta milikku. -Atau sebagaimana yang ia katakan.-

Selesai kutipan. Terjemahan hadits di atas saya copas dari aplikasi Lidwa Android berbayar. Semoga bermanfaat.

Hasan Al-Jaizy

Dilengkapi teks hadits oleh nahimunkar.com

(nahimunkar.com)