Tafsir Al-Isra 16: Penguasa Zalim Penyebab Bencana

  • Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. 


 

Oleh: Dr. KH A Musta’in Syafi’ie M.Ag. . .  

 

{وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا } [الإسراء: 16]

16. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [Al Isra”:16]

 

Ayat sebelumnya bertutur soal kemahakasihan Tuhan yang tidak bakal menyiksa manusia sebelum diutus utusan atau sebelum ada juru dakwah yang berseru keimanan. Mereka yang patuh akan mendapat kebaikan dan yang durhaka bakalan disiksa. 

 

Lalu pada ayat kaji ini menuturkan, bahwa Allah SWT akan menghajar habis-habisan sebuah kaum karena kezaliman, karena kedurhakaan yang dilakukan para penguasanya. Meskipun ibadah rakyat bagus-bagus, meskipun amal perbuatan mereka sesuai syari’ah agama, tapi kalau para pejabatnya banyak yang mengumbar nafsu, korup, berfoya-foya, maka itu berpotensi turunnya azab atas kaum tersebut. 

 

Terkait turunnya azab tersebut, cukup diambil dua kata kunci pada ayat ini, yakni: mutrafiha (pembesar)
dan fafasaqu fiha (durhaka). Mutraf, mutrafun, adalah kaum jetset, borjuis, pembesar yang bergelimang harta dan hobi berfoya-foya. Derajat sosial yang tinggi dan serba berkecukupan membuat mereka bebas melakukan apa saja. 

 

Sementara kata “fa fasaqu fiha”, menunjukkan betapa kaum mutrafin tadi telah terjerumus kepada kefasikan, kemaksiatan, kedurhakaan. Hal demikian karena pada umumnya, nafsu dan syahwat sangat mendominasi pola hidup mereka, sehingga cenderung abai terhadap kewajibannya sebagai pemimpin, sebagai orang gedean yang mesti memberi contoh kesalehan kepada umat. Di kepala mereka, nafsu hedonis lebih utama ketimbang menunaikan amanah.

 

Dari dua kata ini menunjukkan, bahwa kaum mutrafin itu tidak semuanya mesti hobi berbuat maksiat, tidak semuanya mesti ngumbar durhaka, melainkan cenderung durhaka. Begitu mereka durhaka dan terus dalam kedurhakaan, maka langit bersikap lain: fa haqq ‘alaiha al-qaul“. Barulah Allah SWT memutuskan untuk layak diazab. Azab turun beneran dengan volume top, “fa dammarnaha tadmira“, dihancurkan sehancur-hancurnya

 

Beberapa kata dalam ayat kaji ini penting dianalisis. Pertama, kata qaryah, artinya: perkampungan atau bangsa. Kata ini menunjukkan ruang tertentu, daerah atau negeri tertentu, tidak bias dan umum. Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. 

 

Kedua, “amarna” mutrafiha. Qira’ah lain, “ammarna” pakai tasydid. Amara, artinya memerintahkan, menyuruh. Sedangkan “ammara”, artinya menguasakan. Allah memberi negeri tersebut penguasa yang mutrafin. Jadi, salah satu tanda ketidak sukaan Tuhan terhadap suatu negeri, yaitu ketika Allah memberi mereka pemimpin yang mutrafin. Pengertian pemimin mutrafin tidak saja tertumpu kepada top leader, presiden, melainkan juga pada para pembantunya, menteri dan sebagainya. Kadang bupatinya bagus, tapi para kepala bagiannya brengsek. []

@geloranews

16 Januari 2021

***

Kyai Jombang Pertanyakan NU, Apa Gunanya Ulama sebagai Pewaris Nabi di NU Kini

Posted on 13 Oktober 2016

by Nahimunkar.org


Sekelas Syuriah NU tidak mungkin tidak mengerti ini (masalah petingnya kepemimpinan dalam Islam, red nm). Bisunya mereka pasti ada sesuatu yg amat dahsyat hingga menyebabkan amanat agama mereka tersandera.

Berikut ini tulisan seorang kyai dari Jombang Jawa Timur (tempat lahirnya NU 1926) yang mempertanyakan keadaan NU sekarang.

***

Tanzili Syams: ini adalah tulisan dari Dr. KH. A. Mustain Syafi’i, MA (Pengasuh ponpes Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang)

“MASIHKAH NU SEBAGAI ORGANISASI KEAGAMAAN?

Keputusan pemuda NU Jakarta dlm pilgub DKI NETRAL. Identik dengan para kiainya di jajaran Syuriah yg hingga kini membisu soal ini. Tak heran, siapa dulu dong bapaknya?. Artinya :

1. Rupanya, Penguasa NU skrang tdk menganggap NASHBUL IMAM sbgai bagian dr agama, shingga tidk masalah umat nahdliyin dipimpin nonmuslim. Lalu apa gunanya kiai sbagai pewaris Nabi? Pernahkh nabi, para sahabat, tabi’in, al-salaf al-shalih, kiai-kiai pendiri NU membiarkn nonmuslim menguasai umat Islam ? Sbagai muslim, Penjajah ditumpas bkn semata krn mmbela negara, tp lebih krn agama. Mknya ada istilah perang SABIL, RESOLUSI JIHAD dll. Pejuang Yg gugur dihukumi syahid, tnpa dimandikn, tanpa dikafani, tnpa dishalati

2. Nashbul Imam adalh masalah agama yg sangat serius. Krn pemimpin adlh penentu kebijakan yg bedampak besar kpd rakyat. Jk pemimpin nonmuslim menntukan kebijakn yg merugikan Islam / umat Islam , demi Allah- mereka yg memilih dia berdosa, termasuk yg membiarkn tnpa fatwa agama, apalagi tim suksesnya.

3. Netral, memangnya NU itu KPU?. Jk pr cagub seiman, wajar NU netral. Tp ini beda. Isu SARA dilarang jika utk mmprovokasi, menfitnah, merendahkn dll. Tapi apa salahnya , apa yg dilanggar bila muslim memilih pemimpin seiman dan menolak yg tdk seiman tnpa merendahkn keimann yg lain. Adalh hak bg Setiap warga memilih pemimpn sesama Suku, tnpa merendahkn suku lain. Sesama Ras, tnpa menfitnah Ras yg lain atau sama Adat tnpa menghina adat lain. Itu hak berdemokrasi.

4. Sangat mmprihatinkn jk NU hanya vokal soal tahlilan, yasinan, ziarah kubur yg diganggu. Tp tkd punya nyali memberi fatwa politik yg agamis & demokratis. Pdhal ini masalah besar trkait kemaslahatan umat baik di dunia lbih2 di akhirat. Hanya muslim minimalis (musailim) yg mmandang politik hanya masalh dunia. Sadarilah, Trcatat 65 kali perang (ghazwah & sariyah) selama preode Nabi demi memaslahatkan umat via kekuasaan.

5. Sekelas Syuriah NU tdk mungkin Tidak mengerti ini. Bisunya mereka pasti ada sesuatu yg amat dahsyat hingga menyebabkn amanat agama mereka tersandera. Dan umat sdh tahu hal itu dr omongan mereka sendiri (?).

6. Kiai Syuriah NU bukanlah kiai pesanan, bukn pula kiai jadian yg dijadikan oleh pr broker Politik. Kiai Syuriah adalh benar2 ulama pewaris Nabi yg dipilih secara mukhlis and bersih dr sum’ah dan ambisi sehingga memiliki sifat syaja’ah yg terpuji, selalu “YAKHSYA ALLAH” dan tidak “YAKHSYA AL-NAS”. Harusnya… Kiai Syuri’ah NU bukan Kiai yg diperalat broker politik.. Kiai NU adl Kiai yg mukhlis, ikhlas.. tidak sum’ah, yg beramal untuk diperdengarkan.. Miliki sifat syaja’ah, berani karena Allah dan (membela) Rasulullah.. selalu Yakhsya Allah, hanya takut pd Allah.. tdk Yakhsya Al Naas, takut pd manusia, celaan org2 yg mencela. (KH A. Musta’in Syafi’i, Ponpes Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang)

Via FB Tanzili Syams

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 276 kali, 1 untuk hari ini)