(Disertasi doctor di Universitas Kebangsaan Malaysia)

Judul:Tafsir Al Misbah Dalam Soroton
Penulis:Afrizal Nur
No ISBN:9789795928171
Kategori:
Cover:Soft Cover
Isi:212 Halaman
Ukuran:UB04 (25×15)
Berat:200 gr
Harga:Rp 53.000,00

 Tafsir Al Misbah dalam Soroton

Mengoreksi secara ilmiah sebuah karya tulis adalah tradisi dalam khazanah keilmuan Islam. Tradisi tersebut tentu saja bertujuan untuk mengoreksi dan membangun dialektika keilmuan, agar kekeliruan dapat diluruskan dengan cara yang bermartabat. Karena itu, polemik terhadap sebuah karya tulis adalah hal  biasa, selama masing-masing pihak memiliki hujjah yang kuat dan mengedepankan cara-cara yang santun dalam menyampaikan pendapatnya.

Buku yang ada di tangan Anda, pembaca yang budiman, adalah kritik terhadap buku Tafsir Al Mishbah yang ditulis oleh M. Quraish Shihab.

Penulis (Afrizal Nur) menyoroti beberapa hal dari karya tafsir tersebut, yang dianggap perlu untuk dikoreksi. Di antaranya tentang jilbab, tentang ahli Kitab, tentang kecenderungan tasyayyu’ (Syiah), dan lain sebagainya.

Buku ini awalnya adalah disertasi penulis di Universitas Kebangsaan Malaysia. Sebuah karya yang diajukan untuk mendapatkan gelar akademik, tentu saja buku ini sudah diujikan secara ilmiah. Kami menyajikan pada anda, dengan kemasan yang lebih popular dan ringan, agar buku ini mudah untuk dibaca.

“Saya (UAS) selalu ditanya orang tentang Tafsir Al Mishbah yang ditulis oleh Prof. Qurasih Shihab. Hampir tidak pernah saya jawab. Lalu saya katakan, coba Tanya Ustadz Afrizal Nur, karena beliau menulis tentang itu, disertasi doctor di Universitas Kebangsaan Malaysia. Alhamdulillah sekarang sudah terbit bukunya, “Tafsir Al Mishbah dalam Sorotan”. Buku ini amat sangat mendidik, isinya tidak diragukan karena disertai doctor; ilmiah, tidak menghujat, tidak mencaci maki, murni ilmiah, keilmuan.

UAS Datuk Seri Ulama Setia Negara/ http://kautsar.co.id

***

Quraish Shihab Bukan Mufasir Al Quran!

Posted on 19 Juli 2014 – by Nahimunkar.com

Pati, Ahad (15/12/2013) di masjid Al-Islam di kota Pati Jawa Tengah, saat kajian rutin kitab hadits Jamius Shohih Bukhari bersama beliau Ust Mustaqim,LC yang lebih terkenal dalam dunia media Sang Singa Tauhid dari Pantura  atau Mantan Santri Tambak Beras Jombang ini kembali membuat tercengang para jama’ahnya.

Setelah menerangkan beberapa Hadits yang dibaca saat kajian sore itu, tibalah saat tanya jawab, maka sontak ada jama’ah yang menanyakan persoalan pada beliau.

“Ust sampai hari ini saya terheran-heran, mengapa orang sekelas Quraish Shihab yang mengarang tafsir Al Misbah dan mendapatkan pujian dari banyak kalangan kok mengatakan bahwa jilbab itu adalah produk budaya bukan sebuah kewajiban, sebenarnya beliau ini mufasir atau apa Ust?” demikian pertanyaan yang di sampaikan.

Tanpa panjang lebar, Ust yang lama belajar di negeri piramid Mesir ini menjawab dengan tegas “ooo perlu jamaah ketahui bahwa Quraish Shihab itu bukan seorang Mufasir, dia cuma seorang lulusan S3 di Mesir yang mempelajari tentang tafsir Al quran, jadi kita harus bisa membedakan orang yang sedang belajar dengan ahli itu beda”.

Kemudian beliau menceritakan kejadian menarik bersangkutan dengan Quraish Shihab waktu di Mesir, kata Ust yang kini tinggal di Pati ini “saya masih ingat tahun 1997 saat itu kami mahasiswa yang belajar di al Azhar Mesir dikumpulkan untuk mendengarkan presentasinya bersangkutan dengan jilbab. Setelah panjang lebar dia menerangkan, akhirnya dia mengatakan “saya tidak menemukan satu ayat pun dalam tafsir imam qurthubi yang berjumlah hampir 3 jilid itu, tentang diperintahkannya wanita berjilbab, akan tetapi imam al Qurtubi mengatakan bahwa itu adalah produk budaya” dengan sangat sungguh-sungguh ust yang sekarang lebih memilih jualan di pasar  itu menceritakan.

kemudian beliau melanjutkan “setelah itu tiba-tiba ada wanita bercadar berdiri dimana dia adalah seorang mahasiswi al Azhar yang berasal dari Kalimantan mengatakan “maaf bapak, saya telah membaca tafsir imam al Qurtubi hingga lima kali khatam, akan tetapi saya tidak pernah menemukan kalimat bahwa jilbab itu adalah hasil produk budaya, di halaman berapakah kalimat itu berada? wahh langsung saja mixnya di berikan MC lalu ke belakang” demikian akhir kisahnya.

Beliau Ust Mustaqim,Lc juga mengatakan sangat beda antara orang yang belajar dalam bidang al Quran meskipun dia seorang profesor dengan seorang Mufasir, karena seorang Mufasir pasti akan menyelaraskan amal dan ilmunya, sedangkan Quraish Shihab membiarkan anaknya telanjang tanpa jilbab.

Semoga umat Islam Indonesia tidak terkecoh kepada para Ulama atau Asatidz yang bertitle tinggi tapi liberal dibandingkan para penyeru tauhid yang lurus. (KSL)

Sumber Berita: www.islamlagi.com/  Senin, 16 Desember 2013 – 14:22:06 WIB

(nahimunkar.org)

(Dibaca 23 kali, 23 untuk hari ini)