Tahan Harga BBM, Pertamina Hisap Darah Rakyat

Ilustrasi. Ahok / foto okz

 

Direktur Eksekutif Haidar Alwi Institute (HAI), R Haidar Alwi meminta agar pemerintah Indonesia segera menurunkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak, menyusul pelemahan harga minyak mentah dunia yang terkoreksi sejak awal tahun 2020. Apalagi, sejumlah negara tetangga telah melakukan penyesuaian untuk meringankan beban rakyatnya di tengah Pandemi Covid-19.

 

Menurutnya, dalam situasi darurat bencana Pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, pemerintah khususnya Kementerian ESDM dan Pertamina harus mengambil kebijakan yang cepat dan tepat, tentunya tanpa mengabaikan perhitungan yang matang. Diharapkan paling lambat awal Mei nanti pemerintah telah menurunkan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik sehingga tidak memperberat beban rakyat Indonesia.

 

“Harga minyak Brent yang menjadi patokan sekarang sudah di level 27 Dollar per Barrel tapi kenapa harga BBM dalam negeri masih di atas harga pasar? Dalam UU APBN Solar disubsidi Rp 1.000 per liter dengan asumsi minyak Brent 63 Dollar per Barrel. Dengan demikian sekarang pemerintah tidak perlu mengeluarkan subsidi dan malah cenderung untung. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak menurunkan harga BBM,” ujar R Haidar Alwi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/4/2020).

 

Sebagai perbandingan, Malaysia menjadi negara di Asia Tenggara dengan harga BBM paling murah yakni sekitar Rp 4.540 per liter. Bahkan, hampir setiap pekan harga BBM di Malaysia mengalami penurunan mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia.

 

Sedangkan Vietnam tercatat sudah menurunkan harga BBM sejak akhir Januari 2020, dari Rp 14.265 per liter pada 27 Januari 2020 menjadi Rp 8.152 per liter pada 13 April 2020.

 

“Giliran harga minyak dunia naik pemerintah kita buru-buru menaikkan harga BBM. Tapi pas harga minyak dunia anjlok tidak mau menurunkan harga BBM dengan berbagai alasan klasik, misalnya KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama). Ujung-ujungnya mau mengambil keuntungan pribadi dengan impor BBM,” tutur R Haidar Alwi.

 

“Apa lagi yang ditunggu? Kurs Rupiah? Rupiah melemah kan juga diikuti dengan pelemahan harga minyak dunia yang terkoreksi sangat dalam. Kecuali jika harga minyak dunia tidak turun, dalam artian tetap atau naik, okelah sangat sulit. Tapi sekarang kan berbanding lurus sehingga pemerintah harus melakukan penyesuaian. Kalau tidak mungkin 50 persen seperti negara lain, setidaknya harga BBM diturunkan 25 persen, diikuti dengan penurunan Tarif Dasar Listrik karena harga batubara untuk PLN juga turun,” paparnya.

 

R Haidar Alwi menduga lambannya Pertamina dalam menyesuaikan harga BBM disebabkan karena BUMN tersebut takut kehilangan sebagian pendapatannya. Padahal, dalam skenario paling buruk pun Pertamina diprediksi hanya kehilangan sekitar 45% dari USD 2,2 Milliar (total pendapatan Pertamina dalam RKAP 2020).

 

“Keuangan Pertamina akan terbebani itu pasti. Tapi jangan sampai pertimbangan keuntungan malah mengorbankan 267 juta rakyat Indonesia. Justru dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini kepemimpinan para pejabat itu akan terlihat, benar-benar bisa kerja atau tidak. Ini sebuah tantangan bagaimana memutuskan suatu kebijakan dengan cepat dan tepat dalam situasi sulit. Kalau dalam kondisi normal sudah biasa, banyak yang bisa kok,” ungkap R Haidar Alwi.

 

Meski pemerintah tidak menanggung beban Pertamina, permasalahan keuangan yang mungkin akan terjadi memang menyebabkan pemerintah nantinya harus memberikan suntikan dana kepada perusahaan pelat merah tersebut.

 

Sebenarnya, risiko keuangan ini telah diantisipasi oleh pemerintah melalui Perppu Nomor 1 Tahun 2020, yang mana defisit anggaran boleh melebihi batas maksimalnya 3%. Sebagai konsekuensi dari naiknya defisit, utang pemerintah pun akan bertambah.

 

“Namun dengan rasio utang terhadap PDB yang masih di kisaran 30 persen, tidak terlalu berbahaya. Pelebaran defisit hingga 10 persen paling menambah rasio utang terhadap PDB menjadi 35 persen atau 40 persen. Masih jauh dari batas maksimal yang ditetapkan yakni 60 persen dari PDB,” kata R Haidar Alwi.

 

Sebagai informasi, berdasarkan rilis Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Selasa (21/4/2020), harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Mei 2020 pada akhir perdagangan Senin (20/4/2020) ditutup pada minus 37,63 Dollar AS per barrel. Rekor terburuknya sepanjang sejarah.

 

Indonesia menggunakan harga minyak acuan bernama Indonesia Crude Price (ICP). Patokannya adalah harga minyak jenis Brent. Dalam APBN 2020, ICP dipatok USD 63 per barrel, sedangkan kurs Rp 14.400 per Dollar AS. Baseline asumsi harga ICP dalam Perpres 54 Tahun 2020 adalah USD 38 per barrel untuk harga rata-rata sepanjang 2020. Saat ini, harga ICP sedikit di atas harga Brent. Brent pun terus tertekan di bawah USD 30 per barrel. ICP kemungkinan besar akan bernasib serupa.

 

Pada Januari hingga Februari lalu, harga minyak mentah di kisaran USD 55 per barrel dan kurs Rp 13.500 – Rp 14.000 per Dollar AS. Dalam periode tersebut dapat dikatakan relatif tidak ada perubahan signifikan terhadap asumsi harga minyak mentah Indonesia atau ICP maupun kurs yang ditetapkan dalam APBN.

 

Sementara pada bulan Maret hingga April ini rata-rata harga minyak dunia di kisaran USD 30 per barrel. Namun, Rupiah melemah ke level Rp 15.000 – 15.500 per Dollar AS. Pertamina mengklaim pelemahan ini yang membuat harga BBM sulit turun.

 

Saat ini, harga BBM non subsidi Pertamina untuk jenis Pertamax Turbo sebesar Rp 9.850 per liter, Pertamax Rp 9.000 per liter, dan Pertalite Rp 7.650 per liter. Sementara Pertamina Dex Rp 10.200 per liter dan Dexlite Rp 9.500 per liter.

threechannel.co –

(nahimunkar.org)

(Dibaca 284 kali, 1 untuk hari ini)