Ilustrasi anti preman di jogja/ foto m.kaskus.co.id/

.

 

JAKARTA – Kualitas pemimpin Indonesia terus menurun. Trennya bukan semakin naik. Dari waktu ke waktu terus menurun. Tidak akan pernah lagi, lahir tokoh-tokoh berkarakter negarawan, yang memiliki sifat jujur, adil, amanah, dan berempati kepada rakyatnya. Ini bisa dibuktikan sejak Indonesia merdeka.

Sejatinya, kualitas pemimpin hanyalah refleksi atau wujud dari kualitas rakyatnya. Pemimpin adalah produk rakyat. Apalagi di era demokrasi segalanya harus dipilih melalui proses pemilihan. Rakyat hanya bisa memilih tokoh-tokoh yang dicalonkan melalui partai politik.

Kualitasnya tidak pernah diuji dan dibuktikan secara jelas. Segalanya bisa dimanipulasi oleh media. Betapa media bisa mengubah apa saja. Sesuai kepentingan pemesannya. Cara berpikir dan keyakinan rakyat bisa dirubah. Hari-hari ini semuanya terbukti secara faktual. Betapa demokrasi di Indonesia sangat ‘absurd’ (hina). Karena tidak mampu melahirkan tokoh dan pemimpin yang berkualitas.

Ada tokoh yang tanpa memiliki kompetensi secuilpun dalam mengelola negara, bisa berubah menjadi tokoh yang paling kompeten, dan bahkan disulap seakan menjadi ‘dewa penyelamat’. Rakyat percaya dan yakin. Mereka langsung menggantungkan nasib dan hidupnya kepada sang ‘tokoh’ baru itu. Rakyat bisa hilang nalarnya atau akal sehatnya. Perilakunya menjadi aneh dan anomali. Bagaimana 250 juta bangsa Indonesia, kemudian bisa tersihir oleh sang ‘tokoh’ jadi-jadian ini.

Media mengkampanyekan sebagai sang ‘tokoh’ baru. Dia dicitrakan pasti akan mengantarkan kesejahteraan, keadilan, dan kebahagiaan bangsa. Isi kepala bangsa Indonesia sudah ‘diobok-obok’ dan disetting, seakan tidak ada pilihan lain, dan harus memilih sang ‘tokoh’ yang sudah digambarkan sebagai ‘juru selamat’. Betapa bangsa Indonesia sudah tidak lagi memiliki ‘commonsense’ (akal sehat). Manipulasi media dan doktrin media yang diejejalkan setiap detik bisa mengubah pikiran dan keyakinan rakyat.

Hanya sering mendatangi kampung blusukan, badannya kurus, kosa katanya sedikit, dan hanya bisa senyum-senyum, dan dibumbui tidak korup,sederhana, kemudian rakyat dibuat terpana. Rakyat dibuat tidak ada pilihan, dan secara kolektif kemudian dengan ‘kooor’ mengatakan, ‘pokoke’ harus memilih sang ‘tokoh’ yang sudah seolah-olah menjadi idola itu. Rasionalitas rakyat sudah tidak bisa berjalan. Segalanya sudah tertutup. Begitu nasib bangsa Indonesia. Bangsa yang menuju paria (jembel).

Bayangkan. Indonesia pernah dipimpin Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan SBY. Tetapi, melihat bagaimana sikap rakyat dan kecenderungan rakyat, bukannya di masa depan akan bisa lahir pemimpin baru yang lebih berkualitas, dibandingkan dengan para pemimpin sebelumnya, tetapi semakin lebih buruk lagi. Tidak ada yang bisa dibangggakan. Mungkin ini yang diinginkan oleh para ‘dalang’ yang menjadi ‘stakeholder’ berada di belakanga para ‘wayang’ atau ‘boneka’ ini.

Mungkin tahun 2019 nanti, pemimpin baru Indonesia, bisa jadi dari kalangan ‘preman’ Pasar Klewer, Solo, dan dicitrakan oleh media sebagai ‘juru selamat’. Dengan citra yang diopinikan secara terus-menerus, maka ‘mindset’ (cara berpikir) rakyat akan mengikuti ritme media.

Usai Jokowi seandainya menjadi presiden, barangkali tokoh baru nanti, yang sangat ekstrim berasal dari kalangan rakyat jelata, muncul dari Pasar Klewer’, Solo. Mungkin tokoh model yang sesuai dan cocok dengan kondisi bangsa Indonesia. Tidak perlu tokoh sekualitas BJ. Habibi. Karena tidak terjangkau oleh akal rakyat. Rakyat Indonesia ingin tokoh yang senafas dengan mereka. Rakyat Indonesia ingin tokoh yang sederajat dengan mereka. Bukan yang lain.

Termasuk memilih partai politik. Walaupun Golkar dan PDIP tak pernah bisa mengangkat nasib bangsa Indonesia. Dari waktu-waktu tetap saja rakyat memilih Golkar dan PDIP.

Sejarah secara empirik sudah membuktikan, kedua partai warisan Orde Baru itu, tak pernah bisa mengangkat kehidupan rakyat lebih baik. Korupsi, kolusi, nepotisme sudah menjadi darah daging. Ditambah lagi, perzinahan sudah mewabah, sebagai ‘virus’ dengan cepat menyebar, tanpa bisa diberantas.

Tetapi, rakyat tetap memilih mereka, seakan sudah tidak ada pilihan lagi. Ini membuktikan rakyat Indonesia bukan hanya ‘bebal’, tetapi sudah ‘stagnan’ berpikirnya. Indonesia dikuasai para maling, penzina, pemabuk, dan para penipu rakyat yang berdasi.

Kalau ada kabar dari Amerika, di mana 4000 pemilih Indonesia di Amerika yang menggunakan hak pilihnya hanya 200 orang, itu kalangan orang-orang yang sadar, bahwa pemilu legislatif dan pemilihan presiden, hanyalah sebuah sandiwara politik yang penuh dengan kebohongan dan kebusukan.

Pemilu legislatif dan pemilihan presiden, sejak reformasi, hingga kini, tak pernah bisa melahirkan tokoh dan pemimpin, yang benar-benar negarawan yang jujur, adil, dan amanah. Tapi, rakyat dan bangsa Indonesia, tak pernah bisa belajar dari sejarah masa lalu.

Mereka sudah kehilangan ‘commonsens’ (akal sehat), akibat sudah lama, mereka menjadi korban konspirasi kepentingan global. Mereka ingin secara diam-diam terus menjajah dan menguasai Indonesia. Wallahu a’lam. (voa-islam.com), 6 Jumadil Akhir 1435 H / 7 April 2014 09:38 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.776 kali, 1 untuk hari ini)