Tajassus (Memata-Matai) Sesama Muslim/ Masjid, Hukumnya: Haram


 

DOSA BESAR KE 39: MENCARI KESALAHAN ORANG LAIN (Tajassus).

 

Al Quran Surat Al Hujurat: 12

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

 

(Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang).

 

Semakna ayat ini, disebutkan di dalam hadits yang shahih.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

 

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Jauhilah persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu berita yang paling dusta. Dan janganlah kamu melakukan tahassus, tajassus, saling hasad, saling membelakangi, dan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allâh!”. [HR. Al-Bukhâri, no. 6064]

 

Makna Tajassus Dan Tahassus

Tajassus secara bahasa yaitu mencari-cari berita dan menyelidiki sesuatu yang rahasia. Adapun larangan tajassus di dalam ayat di atas dijelaskan oleh para Ulama sebagai berikut:

 

1. Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata, “Janganlah sebagian kamu mencari-cari keburukan orang lain, dan janganlah menyelidiki rahasia-rahasianya untuk mencari keburukan-keburukannya. Hendaklah kamu menerima urusannya yang nampak bagi kamu, dengan yang tampak itu hendaknya kamu memuji atau mencela, bukan dengan rahasia-rahasianya yang tidak kamu ketahui.” [Tafsir ath-Thabari, 22/304]

 

2. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Para ahli tafsir mengatakan, ‘tajassus adalah mencari-cari keburukan dan cacat kaum Muslimin. Maka makna ayat di atas adalah janganlah salah seorang diantara kamu mencari-cari keburukan saudaranya untuk diketahuinya, padahal Allâh Azza wa Jalla menutupinya”. [Al-Kabair, hlm. 159]

 

3. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata, “Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘janganlah kamu melakukan tajassus, janganlah kamu melakukan tahassus’,  ada yang mengatakan bahwa kedua kata itu memiliki makna yang sama, yaitu: mencari tahu berita-berita. Ada yang mengatakan: keduanya berbeda, tahassus yaitu engkau berusaha mendengarnya sendiri, sedangkan tajassus yaitu engkau menyelidiki berita-berita lewat orang lain. Ada yang mengatakan: tahassus adalah berusaha mendengar pembicaraan orang-orang, sedangkan tajassus adalah mencari-cari keburukan-keburukan. 

 

Dari sini dan lainnya diketahui, bahwa seseorang tidak boleh mencuri dengar dari rumah orang lain, dan tidak boleh mencium atau menyentuh pakaian orang lain, agar dia mendengar atau mendapatkan bau atau mendapati kemungkaran. Dan tidak boleh mencari berita dari anak kecil suatu rumah, atau dari tetangganya, untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah tetangganya. Memang benar, jika ada seseorang yang jujur memberitakan berkumpulnya orang-orang yang sedang melakukan maksiat, boleh menerobos mereka dengan tanpa idzin, ini dikatakan oleh al-Ghazali”. [Az-Zawajir ‘an Iqtirâfil Kabâir, 2/268]

 

Tajassus Termasuk Kabair (Dosa Besar)

Para Ulama memasukkan perbuatan tajassus ke dalam deretan dosa besar, sebagaimana imam adz-Dzahabi dalam kitab al-Kabâir dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab az-Zawâjir.

 

Selain larangan keras dalam ayat di atas, demikian pula terdapat ancaman keras dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara lain:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ، وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ، صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ القِيَامَةِ

 

Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berusaha mendengarkan pembicaraan orang-orang lain, sedangkan mereka tidak suka (didengarkan), atau mereka menjauh darinya, maka pada telinganya akan dituangkan cairan tembaga pada hari kiamat.” [HR. Al-Bukhâri, no. 7042)

 

Yang harus menjadi perhatian bersama, termasuk yang dilarang yaitu melakukan tajassus kepada suami atau istri atau tetangga, atau lainnya, yang tidak tampak keburukan pada mereka.

 

Tajassus Yang Boleh

Dari keterangan di atas jelas bahwa tajassus terlarang, bahkan dosa besar, jika dilakukan terhadap kaum Muslimin. Namun sebagian Ulama juga menjelaskan ada bentuk-bentuk tajassus (mencari-cari berita) yang tidak haram.

 

“Tajassus  memiliki tiga hukum yaitu haram, wajib dan boleh.

 

Adapun yang haram adalah tajassus kepada kaum Muslimin.

 

Tajassus yang wajib, dinukilkan bahwa Ibnul Majisyun rahimahullah berkata, “Saya berpendapat bahwa para pencuri dan pembegal harus dikejar ke tempat-tempat yang diduga sebagai tempat persembunyian mereka, perlu dibantu untuk menangkap mereka agar mereka dibunuh atau diusir dari negara. Dan mengejar mereka tentu dengan tajassus dan mencari-cari berita mereka”.

 

Adapun tajassus yang boleh adalah ketika terjadi perang antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir. Maka boleh mengirim mata-mata untuk mengetahui berita tentang jumlah dan peralatan tentara kafir, di mana mereka berada, dan semacamnya.

 

Macam-macam kafir yang menjadi mata-mata:

 

Kafir dzimmi: menundukkan diri kpd hkm islam. Haram dimata-matainya. 

 

Kisah Surat Hathib Bin Abi Balta’ah Saat Fathu Mekkah

 

Tak ada yang istimewa di hari-hari menjelang penaklukan kota Mekah (fathu Mekkah). Masyarakat Madinah saat itu melalui hidup mereka seperti biasa. Kecuali, Ali bin Abi Thalib dan seorang sahabat Rasul yang menggesa kuda mereka melesat seperti angin. Mereka seperti mengejar sesuatu.

 

Benar saja. Ali sedang menunaikan tugas Rasul menangkap seorang wanita pembawa surat. Wanita itu hampir di perbatasan Mekah dan Madinah. Dan, surat yang ia bawa berisi rahasia penaklukan Mekah. Kalau bukan informasi dari Malaikat Jibril, mungkin Rasul pun tidak pernah tahu kalau ada sahabat dekatnya di Madinah yang tega membocorkan rencana penyerbuan ke Mekah.

 

Di tengah padang pasir yang senyap itu, Ali mendapati seorang wanita berkendaraan unta. Setelah dicegat, Ali langsung menanyakan perihal surat. Wanita itu mengelak. Dan Ali pun menggertak, “Saya tidak sungkan menelanjangi kamu hingga saya temukan surat rahasia itu. Karena Rasulullah tidak pernah salah!”

 

Karena takut, wanita itu menyerahkan surat terbungkus rapi itu ke Ali r.a. Ia mengaku cuma orang suruhan. Dan yang menyuruh itu tak lain seseorang yang bernama Hathib bin Abi Balta’ah.

 

Hathib bin Abi Balta’ah sama sekali, ia bukan munafik. Apalagi agen Quraisy yang sengaja disusupi di tubuh warga Madinah.

 

Alasan sahabat Rasul yang pernah ikut berjihad di perang Badar ini mengirim surat rahasia ternyata sangat sederhana. Ia khawatir kalau orang tua angkatnya yang sejak kecil mengurus, mendidik, dan merawatnya menjadi korban huru-hara yang mungkin terjadi di Mekah. Karena itulah, surat itu ia kirimkan. Agar, orang-orang yang ia cintai di Mekah bisa mengungsi sementara.

 

Meski menjadi mata-mata, hathib yang seorang muslim tidak dihukum mati.

 

Kalau yg menjadi mata-mata kafir dzimmi, hukumannya sesuai dgn perjanjian yg dulu pernah dibuat. Bila kafir harbi menjadi mata-mata bagi kaum muslim, maka akan dihukum mati.

 

Munafik besar kekal di Neraka

 

Di awal surat al-Baqarah, Allah menyebutkan tiga jenis manusia. Pertama, orang yang beriman, Allah sebutkan dalam lima ayat, kedua, orang kafir, Allah sebutkan dalam dua ayat, dan ketiga, orang munafik, Allah singgung dalam 13 ayat. Di antaranya Allah berfirman, Di antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. al-Baqarah: 8 9)

 

Di antara sifat mereka, Apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: Kami telah beriman. dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka (gembong munafik), mereka mengatakan: Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok. (QS. al-Baqarah: 14).

 

Allah juga menyebutkan sifat mereka di ayat lain, Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai], lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa Sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (QS. al-Munafiqun: 1 3).

 

Semua ayat di atas berbicara tentang munafik besar. Allah berikan ancaman, mereka akan dihukum di keraknya neraka. Allah berfirman, Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. an-Nisa: 145). 

 

Wallohu a’lam bishowab.

 

Kajian Subuh Masjid Taufik Srondol Wetan Banyumanik Semarang bersama Ust. Muhammad Ainul Yaqin. Ngaji Kitab Al Kabair. Rabu, 9 Oktober 2019. 

 

ditulis kembali oleh Prof. Suteki

 

https://www.tintasiyasi.com/
TINTA SIYASI November 28, 2019  TSAQOFAH

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 368 kali, 1 untuk hari ini)