Foto: Sarkoma Kaposi.


KIBLAT.NET, Jakarta – Dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin dr. Dewi Inong Irana, SpKK menegaskan bahwa perzinaan akan bermuara pada penyakit menular seksual. Salah satu yang membahayakan adalah kanker sarkoma kaposi.

Dokter Inong memberikan pemaparan bahaya perzinaan bagi kesehatan dalam seminar kebangsaan Reformasi KUHP: Delik Kesusilaan dalam Bingkai Nilai-nilai Keindonesiaan di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta. Dia mengungkap sejumlah penyakit yang ditimbulkan oleh hubungan di luar pernikahan tersebut.

“Zina, cabul sesama jenis, perkosaan itu muaranya adalah infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, ingat bukan hanya HIV/AIDS,” kata dr. Inong, Senin (26/09).

Salah satu penyakit menular yang disebutkannya akibat praktik perzinaan adalah kanker sarkoma kaposi. Kanker yang menyerang dinding pembuluh darah itu umumnya diderita orang dengan HIV/AIDS. Namun kini penyakit tersebut juga muncul di kalangan orang yang tidak mengidap HIV/AIDS.

“Sebenarnya dulu (kanker) itu mucul pada penderita AIDS yang tidak diobati. Tapi kenapa sekarang kok muncul di orang HIV negatif di kalangan gay,” ujarnya.

Kanker sarkoma kaposi saat ini juga muncul pada orang-orang yang sebelumnya pernah diobati. Hal itu, dr. Inong menjelaskan, membuat kalangan dokter spesialis kulit dan kelamin kebingungan. Para ahli terus berusaha mencari obat yang dapat membunuh dengan cepat itu.

“Cepat sekali, belum ada obatnya kanker ini. Aneh, mutasi sepertinya,” ungkapnya.

Dokter Inong kemudian menjelaskan keanehan penyakit ini, yaitu sebelumnya tak muncul pada penderita yang telah diobati. Tetapi kini muncul pada pasien gay yang sebelumnya telah sembuh.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, penyakit ini juga muncul di kalangan pelaku biseksual, yaitu orang yang berhubungan dengan lawan jenis dan sesamanya. Akibatnya, panyakit ini kemudian juga menjangkiti kalangan perempuan yang terkait dengan pelaku biseks.

Dokter spesialis kulit dan kelamin itu mengimbau kepada masyarakat agar tidak menjauhi pada penderita penyakit menular seksual tersebut. Harapannya mereka kemudian akan insaf dan tak lagi melakukan perzinaan.

“Karena mau kita rangkul, jangan dijauhi,” ungkapnya.

Dia pun menekankan bahwa upaya judicial review pasal perzinaan juga penting untuk menanggulangi praktik perzinaan yang berpotensi menyebarkan penyakit menular. “Sebenarnya kita bukan mau memenjarakan, bukan segampang itu. Kita ini aware, ini bahaya lho,” pungkasnya.

Reporter: Imam S.
Editor: M. Rudy

Sumber: kiblat.net/Selasa, 27 September 2016

***

AILA Gelar Seminar Kebangsaan Reformulasi KUHP Delik Kesusilaan

0180-aila-gelar-seminar-kebangsaan-reformulasi-kuhp-delik-kesusilaan-di-gedung-parlemen-senayan-jakarta-foto-zainal

Seminar Kebangsaan Reformulasi KUHP Delik Kesusilaan gelaran AILA di gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/09/2016).


AILA mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung setiap upaya dalam memperkuat ketahanan keluarga yang sesuai dengan jati diri bangsa.

Hidayatullah.com– Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia menggelar seminar kebangsaan bertema “Reformasi KUHP: Delik Kesusilaan dalam Bingkai Nilai-nilai Keindonesiaan” di Gedung Nusantara V, Komplek MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Senin (26/09/2016).

Sekjen AILA, Nurul Hidayati mengatakan, seminar ini adalah upaya yang dilakukan oleh sejumlah warga yang taat hukum demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

“Langkah ini sesuai visi kami sebagai aliansi yang produktif dalam upaya mewujudkan keluarga beradab,” ujarnya.

Nurul mengatakan, ketahanan keluarga adalah unsur fundamental bagi terwujudnya negara yang kuat.

“Jika keluarga Indonesia tidak mampu menghadapi tantangan yang ada di hadapannya, maka dapat dipastikan akan muncul banyak permasalahan sosial di tengah-tengah masyarakat,” jelasnya.

Permasalahan tersebut, terangnya, seperti perceraian, perselingkuhan, perzinaan, dan perilaku seks menyimpang.

Ajakan Dukung JR Pasal Kesusilaan

Pihaknya pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung setiap upaya komponen bangsa, baik pemerintah, legislatif, maupun masyarakat, dalam memperkuat ketahanan keluarga yang sesuai dengan jati diri bangsa.

“Juga terlibat aktif dalam upaya penghapusan setiap bentuk ancaman bagi ketahanan keluarga, baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar negeri, yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan moral bangsa,” ungkap mantan Ketua Umum PP Salimah ini.

Termasuk, ia menyerukan agar masyarakat mendukung judicial review (JR) terhadap tiga pasal kesusilaan pasal 284, 285, 292 KUHP yang tengah berlangsung di Mahkamah Konstitusi saat ini. [Baca: Uji Materi KUHP Pasal 284,285 dan 292 Penting Selamatkan Moral Bangsa]

“Kita berharap, perjuangan bersama untuk memperkuat ketahanan keluarga ini menjadi kontribusi nyata terhadap bangsa dan negara. Demi mewujudkan masyarakat yang berkemanusiaan yang adil dan beradab dan berlandaskan Ketuhanan yang Maha Esa sebagaimana yang diamanahkan oleh pendiri bangsa melalui Pancasila,” pungkas Nurul.

Hadir sebagai pembicara pada seminar itu, Atip Latipulhayat (pakar HAM), Neng Djubaedah (pakar hukum), Maria Advianti (Komisioner KPAI), Fidiansjah Musjid Ahmad (pakar psikiatri), Bagus Riyono (Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islam), dan Dewi Inong (spesialis kulit dan kelamin).*

Rep: Yahya G Nasrullah

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Sumber: hidayatullah.com/Senin, 26 September 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.702 kali, 1 untuk hari ini)