Tak Dilibatkan Pertemuan Elit Politik, KH Ma’ruf Amin Hanya Jadi Ban Serep



KH Ma’ruf Amin yang menjadi wakil presiden terpilih hanya menjadi ban serep karena tidak dilibatkan dalam pertemuan elit politik.

“Pertemuan elit politik sama sekali tidak melibatkan KH Ma’ruf Amin. Ini membuktikan mantan Ketua Syuriah PBNU ini hanya menjadi ban serep saja,” kata pengamat politik Sahirul Alem kepada suaranasional, Selasa (15/10/2019).


Menurut Alem, Kiai Ma’ruf hanya dianggap pendulang suara di Pilpres 2019. “Berbeda dengan Jusuf Kalla ketika Pilpres 2014, punya peran termasuk mengadakan pertemuan dengan elit politik,” jelasnya.

Kata Alem, saat menjabat wapres nantinya, Kiai Ma’ruf hanya pajangan saja. “Kiai Ma’ruf tidak punya peran dalam pengambil kebijakan. Semua kebijakan dikendalikan Megawati dan elit politik lainnya,” papar Alem.

Selain itu, ia mengatakan, periode 2019-2024, kekuatan rakyat makin menguat dengan mengecilnya kekuatan oposisi di parlemen. “DPR dikuasai pemerintah, rakyat mencari saluran aspirasi di jalanan,” pungkasnya. [sn]/ demokrasi.co.id – Oktober 16, 2019

***

Eks Ketum HMI: 5 Tahun ke Depan, Permainan ala Ali Moertopo & Benny Moerdani Jadi Pemandangan Sehari-hari

 



Umat Islam di Indonesia dalam lima tahun ke depan Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) akan melihat permainan ala Ali Moertopo dan Benny Moerdani

 

“Permainan ala Ali Moertopo dan Benny Moerdani di rezim Orde Baru akan jadi pemandangan hari- hari dalam 5 tahun ke depan,” kata mantan Ketua Umum PB HMI M Fakhruddin di akun Twitter-nya @Fakhruddin_MS.

 


M. Fakhruddin@Fakhruddin_MS

 


 

Permainan ala Ali Moertopo dan Benny Moerdani di rezim Orde Baru akan jadi pemandangan hari- hari dalam 5 tahun ke depan. Islam radikal dan terorisme menjadi isu seksi. Targetnya; menyudutkan Islam, bersinergi dengan isu global, dapat dana besar dari APBN plus bantuan Barat.

 

 

Menurut Fakhruddin, permainan ala Ali Moertopo dan Benny Moerdani di periode kedua Jokowi dengan memunculkan isu terorisme dan Islam radikal.

“Targetnya; menyudutkan Islam, bersinergi dengan isu global, dapat dana besar dari APBN plus bantuan Barat,” jelas Fakhruddin.

 

Fakhruddin mengatakan, pemain isu radikal dan terorisme harus punya teamwork yang terintegrasi.


“Sejak dari penganggaran, stunman, dan pembinaan kelompok yg potensial untuk dipanas- panasi. Selanjutnya menjadi target penghancuran. Persis seperti era Komando Jihad,” ungkapnya.

 

Ia mengatakan, sepanjang anggaran besar tersedia dalam isu terorisme dan Islam radikal, orang seperti Abu Janda alias Permadi Arya akan tetap berserlancar di media sosial.

 

“Tugasnya memaki- maki kelompok radikal dan terorisme. Tapi bukan tidak mungkin, mereka sebuah tim yang kompak dan solid,” pungkasnya.[]

 

@geloranews
14 Oktober 2019

 

***

 

Lebih jelasnya, silakan baca sejarah masa lalu mengenai hal itu di sini:

 

  1. https://www.nahimunkar.org/mengenal-sosok-intelijen-diduga-anti-islam-1-sejarah/

  2. https://www.nahimunkar.org/mengenal-sosok-intelijen-diduga-anti-islam-2-sejarah/
  3.  

    (nahimunkar.org)

 

(Dibaca 2.379 kali, 1 untuk hari ini)