BEKASI,– Setelah berbagai aliran sesat puas lecehkan Masjid Agung Kota Bekasi dengan slogan ‘Kami Tidak Takut’, Senin (18/1/2016) pagi tadi, perwakilan ANNAS Bekasi Raya, LKBH dan ICMI silaturahim ke Gedung Pemerintah Kota Bekasi untuk mempertanyakan legalitas acara Festival Kuliner Lintas Iman yang sudah sangat membuat geram kaum muslimin.

Usai membacakan kronologi acara Festival Kuliner Lintas Iman dan pernyataan sikap dari ANNAS Bekasi Raya tersebut, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Supandi Budiman pun memberikan penjelasan bahwa acara tersebut tidak memiliki surat izin.

“Kewenangan untuk izinnya dari BPLH. Saya tegaskan, bahwa acara itu tidak berizin artinya BPLH tidak mengeluarkan perizinannya.” tegas Supandi d Gedung Pemerintah Kota Bekasi, Senin (18/1/2016).

Dengan adanya acara festival ilegal tersebut, sekaligus pelecehan yang telah dilakukan di Masjid Agung Bekasi, Ustadz Nasrullah berharap agar pihak pemerintah kota Bekasi bertindak tegas dan memanggil pihak terkait.

“Oleh karenanya, kami berharap bahwa pemerintah bersikap tegas dalam hal ini dan pemerintah perlu memanggil pihak terkait.” tandasnya.[] (Panjimas.com) SELASA, 08 RABI`UL AKHIR 1437H / JANUARY 19, 2016

***

Persis Kota Bekasi: Festival Kuliner Lintas Iman Upaya Unjuk Eksistensi Kalangan Sesat

BEKASI (voa-islam.com)—Pengurus Daerah Persatuan Islam (Persis) Bekasi menyesalkan atas penyelenggaraan Festival Kuliner Lintas Iman yang dilaksanan Ahad (17/1/2016) di alun-alun Kota Bekasi, Jawa Barat.

“Menyesalkan terselenggaranya kegiatan tersebut. Jika benar kegiatan itu tanpa izin, maka hal itu merupakan bentuk kelalaian pemerintah dalam menjaga kondusifitas masyarakat Kota Bekasi,” demikian rilis PD Persis Kota Bekasi yang diterima Voa-Islam, Senin (18/1/2016).

Dalam rilis yang ditandatangai KH Beben Mubarok MA, Ketua PD Persis Kota Bekasi dikatakan, “Sekaligus menunjukkan arogansi kalangan sesat dalam memperlihatkan eksistensinya.”

PD Persis Kota Bekasi menegaskan bahwa kegiatan tersebut juga merupakan bentuk provokasi kepada umat Islam.

“Kegiatan tersebut merupakan provokasi terhadap umat Islam. Karena Syiah dan Ahmadiyah yang telah difatwa sesat oleh Majelis Ulama Indonesia merupakan dua aliran yang merusak Islam dan selama ini ditentang oleh umat Islam,” demikian Kiai Beben Mubarok.* [Sendia/Syaf/voa-islam.com] Senin, 8 Rabiul Akhir 1437 H / 18 Januari 2016 19:25 wib

***

Syiah, Ahmadiyah, HKBP Bikin Festival Kuliner Lintas Iman di Alun-alun Bekasi

KIBLAT.NET, Bekasi – Sejumlah kelompok agama yang terdiri dari aliran Ahmadiyah dan Syiah beserta Kristen HKBP serta Budha menggelar event bertajuk ‘Festival Kuliner Lintas Iman’ di alun-alun kota Bekasi yang terletak persis di seberang Masjid Agung Al-Barkah, Jl Veteran, Kota Bekasi, pada Ahad, (17/01).

Pantauan Kiblat.net di lapangan, acara tersebut seperti bazaar dengan sejumlah stand penjual makanan. Ada stand yang berjualan makanan seperti bakso, mie ayam, minuman jus, dan lainnya. Namun, festival tersebut juga dimeriahkan dengan pentas musik di atas panggung sehingga mengganggu kenyamanan beribadah di Masjid Al-Barkah.

Acara yang digagas oleh Search of Commond Ground tersebut mengaku bahwa tujuan dari acara ini adalah sebagai bentuk toleransi antar agama.

“Visi acara ini untuk saling bertoleransi, meskipun kita beda tempat, beda aliran, kita saling menjaga,” ujar Abdul Kahar, dari pihak panitia.

Hal itu juga ditegaskan oleh salah satu panitia dari mahasiswa dari PMII, menurutnya acara ini bertujuan untuk menjaga keutuhan NKRI, karena menurutnya kejadian Bom di Sarinah dinilai sebagai bentuk keegoisan dan intoleransi yang mengatasnamakan agama.

Sayangnya, ketika dikonfirmasi tentang keterlibatan ormas dari Syiah dan Ahmadiyah dalam acara tersebut, dia belum menjawab dengan alasan sedang beres-beres tempat.

Menariknya, salah satu ormas Syiah yang hadir dalam Festival Kuliner Lintas Iman itu ternyata bukan berasal dari wilayah Bekasi. Mereka justru datang dari Jakarta Selatan.

Kepada Kiblat.net, Sandi, salah seorang peserta dari ormas Syiah OASE Cabang Kemang, Jakarta Selatan mengaku bahwa OASE merupakan LSM Syiah yang bergerak dalam pelayanan masyarakat kurang mampu dan yatim piatu.

“Saya dari OASE Syiah cabang Kemang. Di Depok juga ada, tapi kalau Bekasi sendiri sih belum ada,” ujarnya.

Sementara, perwakilan Ahmadiyah yang turut hadir mengaku bahwa dirinya berasal dari Ahmadiyah wilayah Bekasi. Menurut pengakuannya, ada 6 cabang Ahmadiyah di wilayah Bekasi. Di antaranya ada yang berasal dari wilayah Tambun, Kabupaten Bekasi.

“Kalau saya dari Ahmadiyah tapi wilayah Bekasi sini, kalau Ahmadiyah sendiri ada 6 cabang di wilayah Bekasi,” kata Anis.

Acara Festival Kuliner Lintas Iman berjalan sejak pagi sampai sore dengan lancar, tidak ada aksi penolakan dari masyarakat sekitar. Entah memang karena tidak ada informasi terkait acara tersebut atau karena faktor lainnya

Seperti diketahui bersama bahwa, aliran Syiah dan Ahmadiyah telah ditolak berkembang di Indonesia karena dinilai dapat membahayakan keutuhan NKRI. (Baca juga: MUI: Ideologi Imamah Syiah Ancaman Negara)

MUI Pusat telah mengeluarkan rekomendasi untuk mewaspadai gerakan Syiah di Indonesia. Sementara, Ahmadiyah telah dilarang melakukan kegiatan apapun lewat peraturan SKB 3 Menteri karena dinilai bisa memicu konflik horizontal di tengah masyarakat. (Baca juga: Konflik Ahmadiyah Jadi Jualan LSM, Pemkot Bekasi Minta Pemerintah Turun Tangan)

?

Festival Kuliner Lintas Iman di alun-alun Kota Bekasi pada Ahad, (17/01).

Reporter : Furqon Amrulloh

Editor: Fajar Shadiq/kiblat.net

***

Di media sosial ada yang berkomentar:

Coba misalnya spanduk bertulisan “Festival kuliner lintas tampang, (cakep dan jelek)”. jadi masalah ga’? padahal pada asalnya, kalau tidak ada spanduk atau ungkapan yang ditampilkan, tidak ada masalah, krn yg cakep maupun yg bertampang jelek tidak jadi persoalan. tapi ketika diungkapkan dg rangkaian kata spt tsb tentu jadi masalah. jadi, hanya orang yg mau bikin masalah saja yg membuat-buat acara semacam itu.

Dari komen tersebut bahwa tampang cakep dan jelek yang asalnya tidak ada masalah saja ketika misalnya diadakan festival lintas tampang (jelek dan cakep) maka jadi masalah. Apalagi ini festival dari aliran-aliran sesat syiah, Ahmadiyah dan lainnya, yang aliran sesat itu sendiri sudah bermasalah, maka jelas lebih bermasalah. Ditambah lagi acara itu tanpa mengantongi izin.

Oleh karena itu perlu dipertanyakan, klaim dari salah satu panitia dari mahasiswa PMII (mahasiswa NU), menurutnya acara ini bertujuan untuk menjaga keutuhan NKRI. Apakah NKRI mengajari mengada-adakan acara bermasalah dan tanpa izin?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.746 kali, 1 untuk hari ini)