Sebuah Wihara dibakar oleh warga Tanjung Balai, yang marah akibat penghinaan yang dilakukan seorang warga dari etnis Cina terhadap umat Islam di kota tersebut.


Gerhana85.com – Tanjungbalai – Kerusuhan bernuansa SARA yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara yang dipicu oleh sikap intoleransi seorang warga dari etnis Cina yang menghina umat Islam setempat, kini sudah mulai kembali kondusif. Kerusuhan yang berlangsung cepat tersebut sebelumnya sempat dikhawatirkan akan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Namun, alih-alih berusaha menjabarkan dan menjelaskan detail pokok masalah kepada seluruh rakyat Indonesia terutama umat Islam, pihak Polri sudah langsung menjatuhkan telunjuk dengan menyalahkan media sosial, yang terlanjur cepat memberitakan dan menyebarkan peristiwa tersebut.

Ini disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, terkait kerusuhan di Tanjungbalai, Sumut yang terjadi, Jumat (29/7) malam hingga Sabtu (30/7) dini hari. Mantan Kapolda Metro Jaya itu mengatakan, pihaknya menemukan indikasi adanya isu-isu provokatif di medsos terkait insiden yang terjadi di Tanjungbalai tadi malam.

“Ada macam-macam gambar (di medsos) itu jangan sampai terpengaruh. Situasi di Sumut sudah tenang. Yang di Tanjungbalai sudah ditangani juga, sudah dilokalisasi. Tidak ada masalah,” ujar Tito.

Ia pun menegaskan, kepolisian akan mengusut orang yang melakukan tindakan provokatif tersebut. “Nanti akan kita cari kalau memang ada yang mengirimkan ke media sosial yang berbau provokatif,” kata dia.

kapolri

Kapolri Jenderal Tito Karnavian

Tito juga bersumpah untuk mencari orang yang menyebarkan isu negatif melalui medsos yang diduga menjadi pemicu kerusuhan di Tanjungbalai.

Polri Belum Miliki Data Konkrit

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Raden Budi Winarso meninjau vihara, klenteng, dan gedung Yayasan Sosial Kemalangan yang dirusak massa saat terjadi kerusuhan di Kota Tanjungbalai, Sabtu.

Kapolda mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan mengenai puncak masalah yang mengakibatkan terjadinya aksi arnarkis gerombolan massa terhadap fasilitas ibadah tersebut.

“Semua masih dalam penyelidikan, kami belum mendapat data konkrit mengenai pemicu atau oknum yang memprovokasi terjadinya pembakaran dan perusakan,” ujar Kapolda.

Menurut dia, jika terungkap dan terbukti melakukan provokasi, semua pelaku akan mendapat konsekwensi hukum sesuai peraturan dan UU yang ada. “Sabar ya, kami (Polisi) pasti mendalami dan mengusut kasus ini hingga tuntas,” ujarnya di sela-sela meninjau tempat kejadian perkara.

Hingga saat ini, Polres Tanjungbalai telah mengamankan warga Cina yang memprotes penggunaan pengeras suara di rumah ibadah, yang diduga sebagai pemicu kerusuhan dan tujuh remaja yang diduga terlibat penjarahan saat aksi pengrusakan berlangsung.

Ketujuh remaja yang diamankan yakni FR (15), HK (18), AA (18), MAR (16), MRM (17), AJ (21) dan MIL (10). Sedangkan barang bukti yang diamankan di antaranya velg mobil, tabung gas elpiji, dan tape.

DPR: Kerusuhan di Tanjung Balai, Polri Harus Evaluasi Diri

Dua kerusuhan terjadi di Sumatera Utara. Pertama, penyerangan Polres Karo yang dipicu masalah relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung. Kedua, kerusuhan bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan di Tanjungbalai, Asahan, Sumut.

“Hal ini harus mendapat perhatian serius dari Polda Sumut,” kata anggota Komisi III DPR Aboe Bakar Al Habsy, Sabtu (30/7).

Aboe mengatakan, dalam menghadapi pengungsi Sinabung, aparat seharusnya mengedepankan pendekatan persuasif. “Sehingga tidak sampai terjadi penyerangan seperti ini,” katanya.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu menambahkan, pola komunikasi yang dilakukan Polres ke masyarakat harus dievaluasi. “Perlu ditelusuri pula apa sebenarnya penyebab yang menjadikan letupan kerusuhan tersebut,” ujarnya.

Dia meminta aparat juga mendalami kerusuhan di Tanjungbalai. Dia mengingatkan, jangan sampai ada yang sengaja memancing saat air keruh. “Oleh karenanya Polda perlu melakukan pendalaman terhadap persoalan ini,” pungkasnya.

BIN: Kerusuhan Tanjung Balai, Aksi Spontanitas Massa yang Marah

Kerusuhan berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di Tanjung Balai, Sumut disebut merupakan bentuk spontanitas warga. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso saat mengunjungi Danau Toba di Parapat, Simalungun, Sumut, Sabtu (30/7).

kendaraan

Kendaraan milik warga etnis Cina yang dibakar oleh warga Tanjung Balai. Aksi massa tersebut dipicu oleh sikap penghinaan yang dilakukan seorang warga Cina terhadap umat Islam setempat.

Menurut Sutiyoso, tidak ada perencanaan atau niat atas terjadinya insiden tersebut. Warga, lanjutnya, melakukan aksi tersebut secara spontan. “Itu kan spontanitas, perbuatan yang tidak direncanakan. Salah satu merasa tidak nyaman dengan suara adzan lalu secara spontan mendatangi (masjid) dan marah-marah, kan itu masalahnya. Itu terjadi juga reaksi yang spontan dari masyarakat yang mayoritas islam,” kata Sutiyoso.

Sutiyoso mengatakan, saat ini, situasi di Tanjung Balai sudah kondusif. Personel Polri dibantu TNI, lanjutnya, sudah bisa mengendalikan kondisi di kota tersebut.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini pun berharap, kericuhan yang terjadi di Tanjung Balai dapat menjadi pelajaran untuk masyarakat dalam menjaga kerukunan umat beragama. “Ini pelajaran lagi ya, karena ini masalah sensitif, masalah agama. Seharusnya ketidaknyamanan disampaikan baik-baik dan diselesaikan dengan cara mufakat,” ujar dia.

Sebelumnya, kerusuhan yang dipicu persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan terjadi di kota Tanjung Balai, Sumut, Jumat (29/7) pukul 23.30 WIB. Akibat kejadian itu, sejumlah wihara dan klenteng serta sejumlah kendaraan rusak akibat amukan massa.

Menurut polisi, kerusuhan tersebut dipicu adanya keberatan dari seorang warga etnis Tionghoa atas volume azan yang dikumandangan di salah satu masjid di Jalan Karya, Tanjung Balai. Nada bicara perempuan berinisial M tersebut saat menegur dinilai kasar dan menyinggung jamaah di dalam masjid.

Rumah milik warga etnis Cina

Rumah milik warga etnis Cina yang dibakar oleh warga Tanjung Balai. Aksi massa tersebut dipicu oleh sikap penghinaan yang dilakukan seorang warga Cina terhadap umat Islam setempat.

Informasi itu pun cepat menyebar dan memancing emosi warga. Kericuhan berbau SARA tak terhindarkan. Sejumlah tempat beribadah umat Buddha pun dibakar massa yang emosi.

Berdasarkan catatan, rumah ibadah yang dibakar dan dirusak terdiri dari enam vihara dan kelenteng yakni, Vihara Tri Ratna, Vihara Avalokitesvera, Klenteng Dewi Ratna, Klenteng Dewi Samudera, Klenteng Tio Hai Bio di Jalan Asahan, Klenteng Lyoung Jalan Sudirman.

Sedangkan yang dirusak yakni Vihara Vimalakirty, Klenteng Hien Tien Siong, Klenteng Macho, Klenteng Lin Kioe Ing Tong Jalan A Yani, Klenteng Huat Cu Keng Jalan Juanda.

Massa juga merusak dua gedung Yayasan Sosial Kemalangan dan Yayasan Putra Esa. Selain itu, enam unit mobil dibakar dan dirusak termasuk tiga sepeda motor dan satu unit becak bermotor.

Sumber: Gerhana85.com/CNNindonesia/Republika.co.id/jpnn/Sindonews

***

Kenapa Umat Islam Tanjung Balai Marah

Peristiwa (kemarahan umat Islam di Tanjung Balai) menjadi puncak kemarahan warga akibat sikap warga etnis Cina yang selama ini arogan. “Mereka suka menyepelekan, suka semena-mena, jika kesenggol sedikit langsung marah dan tak segan-segan mengajak berkelahi,” ujar Sekretaris Forum Umat Islam (FUI) Tanjung Balai, Ustaz Luthfi Ananda Hasibuan saat dihubungi Suara Islam Online, Sabtu (30/7/2016).

“Dan sudah menjadi rahasia umum, sekitar Vihara sering terjadi prostitusi, mereka menjual anak-anak kita dari kaum muslimin,” tambah Ustaz Luthfi.

Karena itulah, kata dia, warga sudah lama geram. “Selama ini kita sudah bersikap sabar, namun karena sudah keterlaluan dan kemarahan warga tak terbendung jadi sekarang ini puncaknya,” ungkapnya.

Sebenarnya, lanjut Ustaz Luthfi, jika masyarakat dari golongan manapun bisa saling menghormati dan menghargai itu tidak akan ada masalah. “Kalau kita gak diganggu, agama kita gak diusik, itu gak akan ada masalah,” jelasnya. (suara-islam.com/Sabtu, 30/07/2016).

Diberitakan, kerusuhan terjadi di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara, Sabtu (30/07/2016) dini hari. Kericuhan bermula saat seorang warga etnis Cina yang identitasnya belum diketahui, warga Jalan Karya Tanjung Balai, mengamuk saat mendengar suara adzan di masjid Al Maksum Jl. Karya Tanjung Balai tepatnya di depan rumahnya sendiri.

Warga yang tidak terima dengan sikap warga etnis Cina tersebut akhirnya marah, dan informasi tersebut beredar di media sosial sehingga memicu kemarahan yang meluas hingga terjadi sejumlah pembakaran Vihara.

“Dari keterangan masyarakat bahwa warga tersebut membuat keributan di mesjid dan memaki imam yang sedang adzan di masjid karena tidak senang akan adanya adzan di mesjid hingga menyebabkan umat Islam menjadi marah,” bunyi status yang beredar di media sosial, dikutip dari dnaberita.com

***

Petunjuk dari Al-Qur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Al Qur’an, Surat Muhammad Ayat 7).

Apabila orang kafir sudah berani menghina Allah, Rasul-Nya, dan ajaran Islam; memerangi kaum muslimin karena agama mereka, dan mengusirnya dari negeri mereka, maka umat Islam tidak boleh berbaik-baik dan bermuka manis kepada mereka, sebaliknya harus mengumandangkan permusuhan terhadap mereka. Allah Ta’ala berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

(lihat Fatwa Mati Buat Penghujat, Abdul Mun’im Halimah “Abu Bashir” hal. 52-59/ http://ayudarakharisma.blogspot.com.au/)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.494 kali, 1 untuk hari ini)