Tamparan Keras Buat Calon Kapolri: Hukum Jangan Hanya Tajam untuk yang di Luar Pemerintah!

Pilihan Calon Tunggal Kapolri oleh Presiden Patut Dipertanyakan

  • KontraS) blak-blakan bongkar Bareskrim Polri di bawah Komjen Listyo Sigit gagal mengungkap aktor intelektual insiden penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.
  • Tak hanya itu, Polri juga dianggap tak adil dalam menegakkan hukum terhadap anggotanya yang terbukti bersalah.
  • “Kegagalan tersebut merupakan tanggung jawab Listyo Sigit Prabowo selaku Kepala Badan Reserse Kriminal Polri. Oleh karena itu, pilihan calon tunggal Kapolri oleh presiden patut dipertanyakan,” kata Koordinator KontraS Fatia Maulidiyanti dalam diskusi daring, Kamis (14/1).

  • Pengamat kepolisian Bambang Rukminto menilai rekam jejak karier Komjen Listyo Sigit sama sekali tak istimewa.

    Silakan simak berikut ini.

    ***

 

PLAK! Tamparan Keras Buat Calon Kapolri: Hukum Jangan Hanya Tajam untuk yang di Luar Pemerintah!


Calon Kapolri Komjen Listyo Sigit Prabowo menjalani fit and proper test atau uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR, Rabu (20/1/2021) kemarin.

 

Dalam penyampaian visi-misi dan program sebagai calon Kapolri, Komjen Listyo diantaranya menyampaikan akan menegakkan hukum yang adil, tidak boleh tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas.

 

Anggota Komisi III dari Fraksi Demokrat Benny K Harman menambahkan: Selain hukum tidak boleh tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, penegakkan hukum juga tidak boleh tajam ke kanan tetapi tumpul ke kiri.

 

“Saya tambahkan jangan hanya tajam ke kanan tetapi tumpul ke kiri,” kata Benny dalam uji kepatutan dan kelayakan calon kapolri, Rabu (20/1/2021).

 

“Jangan hanya tajam ke pada kami yang ada di luar pemerintahan, sedangkan teman-teman yang ada di dalam kok tumpul,” kata dia.

 

Benny juga mengingatkan soal hak atas kebebasan berserikat dan berkumpul.

 

Ia mendukung Polri melakukan penegakkan hukum terhadap pelaku ujaran kebencian dan penyebar informasi hoaks.

 

Namun, ia mempertanyakan bagaimana upaya Sigit menjamin bahwa penegakkan hukum itu tidak hanya menyasar kelompok tertentu.

 

“Kami dukung penuh, tetapi apa yang Anda (Sigit) lakukan untuk menjamin supaya penegakkan hukum ini tidak hanya ditujukan pada kelompok tertentu, tetapi keompok lain semacam dikasih keleluasaan,” tutur dia. 

 

Selengkapnya video:

https://youtu.be/YBFrGxYz4mM

 

[PORTAL-ISLAM.ID] Kamis, 21 Januari 2021 BERITA NASIONAL

***

Waketum MUI Anggap Aneh Jika Kapolri Dijabat Nonmuslim


Posted on 17 Januari 2021

by Nahimunkar.org

Waketum MUI Anggap Aneh Jika Kapolri Dijabat Nonmuslim

  • “Seorang pemimpin nonmuslim mengendalikan keamanan negara di mana mayoritas penduduknya muslim adalah sebuah keanehan dan tugasnya pasti amat berat,” kata Muhyiddin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/11).

 Wakil Ketua Umum MUI Muhyiddin Junaidi mengatakan jika Kapolri dijabat seorang nonmuslim, maka akan banyak kendala psikologis yang dia hadapi. (ANTARA FOTO/Audy Alwi)

 
 

Jakarta, CNN Indonesia — 

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi menganggap aneh bila Kapolri pengganti Jenderal Idham Aziz nantinya dijabat oleh seseorang yang bukan beragama Islam atau nonmuslim.

Meski Indonesia bukan negara Islam, Muhyiddin berpendapat sangat aneh bila pemimpin aparat keamanan berlatar belakang nonmuslim memimpin penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

  

“Seorang pemimpin nonmuslim mengendalikan keamanan negara di mana mayoritas penduduknya muslim adalah sebuah keanehan dan tugasnya pasti amat berat,” kata Muhyiddin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/11).

 
 

Muhyiddin menyebut wajar bila pemimpin di negara manapun memiliki agama yang sama dengan yang dianut oleh mayoritas penduduknya. Contohnya seperti Amerika Serikat yang penduduknya mayoritas nonmuslim, maka presiden atau kepala aparat keamanannya juga mengikuti latar belakang nonmuslim.

Ia memprediksi akan banyak kendala psikologis yang akan dihadapi oleh pemimpin beragama nonmuslim di negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim.

https://www.nahimunkar.org/waketum-mui-anggap-aneh-jika-kapolri-dijabat-nonmuslim/?

***

Pengamat kepolisian Bambang Rukminto menilai rekam jejak karier Komjen Listyo Sigit sama sekali tak istimewa.

***

Memilih Komjen Listyo Sigit Prabowo untuk jabatan Kapolri adalah tindakan tidak realistis.

Pasalnya, ia tidak punya track record yang dibanggakan yang menjadi kredit point untuk jabatan Kapolri. 

Hal itu dikatakan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Petrus Selestinus kepada wartawan, Selasa (12/1).

Selain tak punya kredit point, Bareskrim Polri di bawah Listyo Sigit Prabowo dinilai melakukan mismanagement terkait penanganan Djoko S. Tjandra.

Akibat masalah itu, dua Jenderal Polisi dikatakan Petrus harus menjadi tumbal.

 

https://www.nahimunkar.org/tak-realistis-listyo-sigit-prabowo-jadi-kapolri-alasannya/?

***

KontraS Bongkar Fakta Calon Kapolri Pilihan Jokowi, Mengejutkan


Posted on 20 Januari 2021

by Nahimunkar.org

KontraS Bongkar Fakta Calon Kapolri Pilihan Jokowi, Mengejutkan

Pilihan Calon Tunggal Kapolri oleh Presiden Patut Dipertanyakan

  • KontraS) blak-blakan bongkar Bareskrim Polri di bawah Komjen Listyo Sigit gagal mengungkap aktor intelektual insiden penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.
  • Tak hanya itu, Polri juga dianggap tak adil dalam menegakkan hukum terhadap anggotanya yang terbukti bersalah.
  • “Kegagalan tersebut merupakan tanggung jawab Listyo Sigit Prabowo selaku Kepala Badan Reserse Kriminal Polri. Oleh karena itu, pilihan calon tunggal Kapolri oleh presiden patut dipertanyakan,” kata Koordinator KontraS Fatia Maulidiyanti dalam diskusi daring, Kamis (14/1).

  • Pengamat kepolisian Bambang Rukminto menilai rekam jejak karier Komjen Listyo Sigit sama sekali tak istimewa.

 
 Sejumlah pihak mempertanyakan keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memilih Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai calon tunggal Kapolri.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) blak-blakan bongkar Bareskrim Polri di bawah Komjen Listyo Sigit gagal mengungkap aktor intelektual insiden penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Tak hanya itu, Polri juga dianggap tak adil dalam menegakkan hukum terhadap anggotanya yang terbukti bersalah.

“Kegagalan tersebut merupakan tanggung jawab Listyo Sigit Prabowo selaku Kepala Badan Reserse Kriminal Polri. Oleh karena itu, pilihan calon tunggal Kapolri oleh presiden patut dipertanyakan,” kata Koordinator KontraS Fatia Maulidiyanti dalam diskusi daring, Kamis (14/1).

Berdasarkan catatan KontraS, penanganan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan anggota Polri menjadi pekerjaan rumah bagi Kapolri baru.

Fatia berharap bahwa Kapolri yang baru dapat menindak anggota-anggota Polri yang bertindak sewenang-wenang.

“Siapapun yang menjadi kapolri nanti, memiliki sebuah tanggung jawab dan PR yang cukup besar untuk berani melakukan evaluasi secara keseluruhan, untuk berani menindak para anggota kepolisian melakukan tindakan sewenang-wenang,” ujarnya.

Tindakan sewenang-wenang yang dimaksud adalah kasus-kasus penyiksaan, penembakan, serta penahanan dan penangkapan yang dilakukan kepolisian tanpa mengedepankan asas praduga tak bersalah.

Di sisi lain, pengamat kepolisian Bambang Rukminto menilai rekam jejak karier Komjen Listyo Sigit sama sekali tak istimewa.

Bambang Rukminto bahkan menyebut pemilihan Listyo Sigit disebabkan kedekatannya dengan Presiden Jokowi. Pasalnya, Listyo Sigit sempat menjadi ajudan Jokowi pada 2014.

Kedekatan keduanya sudah terjalin sejak sama-sama dinas di Solo. Saat itu, Sigit menjabat Kapolres Surakarta dan Jokowi menjabat Wali Kota Solo.

“Ini menunjukkan bahwa upaya untuk membangun merit sistem dan profesionalisme dalam organisasi Polri sudah benar-benar dikacaukan dengan keputusan presiden yang menunjuk orang dekatnya,” kata Bambang Rukminto.

GenPI.co – 20 Januari 2021 07:50    

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 188 kali, 1 untuk hari ini)