Boedi Oetomo_825342387543

https://www.nahimunkar.org/18557/tokoh-tokoh-ini-anggota-freemasonry-1/#comment-23603

Komentar abumuawwidz:

Afwan, Ustadz. Dalam tulisan ustadz diatas terdapat makna pengkafiran terhadap Jokowi, apakah ini benar ataukah saya yang salah faham ? Jika benar, apakah syarat takfirnya sudah terpenuhi dan mawaani’nya telah tiada ? Dan bolehkah kita, sebgai orang awam untuk memberikan vonis atau “mendekati” pemberian vonis kafir bagi orang tertentu ?

Jawab red nm:

Tulisan itu sebenarnya copas dari tempat lain, yang ketika dimuat di nahimunkar.com, karena bukan asli tulisan nahimunkar.com, maka  seperti biasanya dibedakan dengan latar belakang berwarna coklat muda.

Dalam tulisan itu, penekanannya justru untuk mengingatkan setiap Muslim agar hati-hati. Sehingga pembacaannya ketika walau tokohnya disebut nama, misalnya salah satunya Jokowi, maka perlu diingat, di sana ada kata-kata: orang-orang seperti Jokowi. Sehingga pembahasan sebenarnya secara umum.

Kemudian masalah pengkafiran, sifatnya hanya menyebut adanya gejala pihak-pihak yang mengkafirkan orang-orang yang berbuat tawalli, dan ada yang tidak atau belum berani. Kemudian dikutip penjelasan tentang tawalli, lalu ada kalimat:

“Sungguh perbuatan tawalli yang mengkafirkan. Seperti diketahui, wakil-wakil yang diajukan untuk menjadi orang nomor dua setelah Jokowi adalah nasrani tulen.”

Sampai di situ, bagi nahimunkar.com, tetap masih melihat, yang dinilai adalah perbuatan. Artinya, perbuatan tawalli di situ secara umum adalah perbuatan yang mengkafirkan. Tetapi bukan otomatis memvonis orang yang berbuat begitu. Jadi bukan memvonis orangnya. Lagi pula, tulisan itu mengemukakan adanya gejala pihak yang mengkafirkan orang-orang yang bertawalli dan ada yang belum berani. Kemudian memberi penjelasan, dan arahnya adalah tentang perbuatan tawalli. Di tambah lagi, penekanannya adalah mengingatkan Ummat Islam agar berhati-hati. Dan kalimat sebelum-sebelumnya, ada ungkapan tentang tidak tanggap dan tidak memiliki sensitivitas terhadap masalah-masalah akidah. Sehingga sampai pada perbuatan tawalli yang mengkafirkan pun dilakukan. Jadi artinya, itu hanya untuk menjawab perkataan awal tentang  tidak tanggap dan tidak memiliki sensitivitas terhadap masalah-masalah akidah.

Ketika artikel itu tidak secara sharih mengkafirkan seseorang secara nyata, sedang gejala tidak tanggap dan tidak memiliki sensitivitas terhadap masalah-masalah akidah justru banyak disebarkan oleh media massa di mana-mana, yang kemungkinan akan banyak orang akan menganggap tidak pentingnya menjaga aqidah, maka sebenarnya tulisan ataupun dakwah dengan bentuk apapun yang syar’i yang menjelaskan bahayanya sikap seperti itu, sangat perlu disampaikan kepada masyarakat.

Oleh karena itu nahimunkar.com memuat artikel tersebut, di saat sebenarnya sangat diperlukan untuk menjelaskan bahaya yang mengancam aqidah Ummat. Bila Antum ada tulisan yang lebih selamat dan sesuai untuk mengingatkan Ummat Islam, maka tafaddhal. Mari kita upayakan untuk menyelamatkan Ummat Islam dari gejala tidak tanggap dan tidak memiliki sensitivitas terhadap masalah-masalah akidah ini.

Syukran.

Redaksi nahimunkar.com

(Dibaca 2.878 kali, 1 untuk hari ini)