Tanggapi Said Aqil Ketum PBNU, Muhammadiyah: Jika Ada Teroris Salafi, Tak Berarti Salafiyah Identik Terorisme

  • “… Jika ada teroris berbangsa Indonesia, tidak berarti bangsa Indonesia itu teroris. Terorisme bisa masuk melalui pintu agama, ideologi, ekonomi dan lain-lain. Berwacana memerlukan logika, tidak sekedar retorika,” kata Syafiq lewat pesan singkat, Rabu (31/3/2021).

     


Ilustrasi. Syafiq Mughni: Soekarno Seorang Wahabi Kritis

Syafiq Mughni: Soekarno Seorang Wahabi Kritis. Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Syafiq Mughni dalam acara “Ngaji Bareng Bung Karno” di Megawati Institute, Jakarta, Selasa (06/6) menyatakan bahwa sebenarnya Bung Karno itu seorang pemikir muslim puritan yang ingin membersihkan Islam dari tahayul, bid’ah dan khurafat. “Itu dibentuk saat Bung Karno berinteraksi dengan Tjokroaminoto, A Hassan dan pertemuan dengan Ahmad Dahlan di Surabaya,” ujar Syafiq Mughni Guru Besar Sejarah Islam UIN Sunan Ampel Surabaya. (Jakarta, Kanigoro.com – 7 Juni, 2017).

 

Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni, merespons pernyataan Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, yang menyebut ajaran Wahabi dan Salafi sebagai pintu masuk terorisme. Syafiq menegaskan terorisme bisa masuk melalui berbagai pintu.

 

“Salafi itu bukan mazhab yang monolitik. Ada banyak varian di dalamnya. Kalau ada teroris yang berfaham salafi, tidak berati salafiyah identik dengan terorisme. Jika ada teroris yang beragama Islam, tidak berarti Islam mendorong terorisme. Jika ada teroris berbangsa Indonesia, tidak berarti bangsa Indonesia itu teroris. Terorisme bisa masuk melalui pintu agama, ideologi, ekonomi dan lain-lain. Berwacana memerlukan logika, tidak sekedar retorika,” kata Syafiq lewat pesan singkat, Rabu (31/3/2021).

 

Syafiq lantas menjelaskan peran Muhammadiyah dalam menyuarakan Islam berkemajuan. Dalam pandangan Muhammadiyah, kata Syafiq, perbedaan mazhab merupakan kekayaan yang harus dikelola untuk kemajuan.

 

“Muhammadiyah itu menyuarakan Islam berkemajuan karena Islam yang benar akan mendorong umatnya untuk maju, bukan memecah belah. Di dalam kemajuan ada perdamaian, persaudaraan, kasih sayang yang dinamis bukan yang statis. Muhammadiyah memandang perbedaan mazhab sebagai kekayaan yang dikelola untuk kemajuan. Pilihan Muhammadiyah untuk tidak bermazhab misalnya Salafi atau Wahabi menjadikannya berfikir lebih jernih karena tidak terbebani sebagai stigma sektarianisme,” tutur Syafiq.

 

Sebelumnya, Said Aqil berbicara mengenai strategi untuk menghabisi jaringan terorisme. Said Aqil menyebut pemberantasan jaringan terorisme dilakukan harus dari benihnya atau pintu masuknya ajaran ekstremisme, yaitu ajaran Wahabi.

“Ini artinya, kalau kita benar-benar sepakat, benar-benar kita satu barisan ingin menghabisi jaringan terorisme, benihnya dong yang harus dihadapi. Benihnya, pintu masuknya yang harus kita habisi. Apa? Wahabi, ajaran Wahabi itu adalah pintu masuk terorisme,” kata Said Aqil dalam webinar ‘Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial’ yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3).

 

Said Aqil menegaskan ajaran Wahabi bukan terorisme, tetapi pintu masuk terorisme. Sebab, ajarannya dianggap ajaran ekstremisme.

 

“Ajaran Wahabi bukan terorisme, bukan, Wahabi bukan terorisme, tapi pintu masuk. Kalau udah Wahabi ‘ini musyrik, ini bid’ah, ini sesat, ini nggak boleh, ini kafir, itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi sudah halal darahnya boleh dibunuh’. Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan salafi adalah ajaran ekstrem,” ujarnya.

Source: detik.com

Diterbikan: oposisicerdas.com, Rabu, Maret 31, 2021 Nasional

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 887 kali, 1 untuk hari ini)