Tanggapi soal Buku ‘Ganjar Tak Pernah Solat’, Christ Wamea: Para kader PDIP hanya memikirkan soal radikal dan intoleransi

  • Christ Wamea menyebut bahwa sempitnya pemikiran tersebut lantaran para kader PDIP hanya memikirkan soal radikal dan intoleransi sehingga melupakan hal-hal lainnya.

Silakan simak ini.

***

 

Tanggapi soal Buku ‘Ganjar Tak Pernah Solat’, Christ Wamea: Cetakan 2009, Pak Ganjar Belum Jadi Gubernur

Beberapa saat lalu publik tengah dihebohkan dengan ditemukannya sebuah soal ujian dalam buku pelajaran yang membahas “Ganjar Tak Pernah Sholat,”.

Diantara banyaknya tanggapan yang merasa keberatan bahkan mengaitkan hal tersebut dengan propaganda, fitnah dan mencemarkan nama baik, tokoh asal Papua Christ Wamea justru memberi tanggapan yang berbeda.

Dalam cuitannya yang diunggah baru-baru ini, Christ Wamea menjelaskan bahwa buku tersebut diterbitkan pada tahun 2009 lalu.

Dimana Ganjar Pranowo sebagai pihak yang dikait-kaitkan dengan sosok Ganjar dalam buku tersebut belum menjabat sebagai seorang Gubernur Jawa Tengah.

Lebih lanjut, Christ Wamea juga menyebut bahwa beberapa pihak yang mengamuk dan merasa ada tindakan fitnah dalam hal ini tidak memahami bahwa ada ribuan nama Ganjar di Indonesia.

Bahkan, Ia menyebut bahwa sempitnya pemikiran tersebut lantaran para kader PDIP hanya memikirkan soal radikal dan intoleransi sehingga melupakan hal-hal lainnya.

Soal ‘Ganjar Tidak Pernah Sholat’, Penerbit: Itu Cetakan tahun 2009, Pak Ganjar Pranowo belum jadi gubernur Jateng,” ujar Christ Wamea melalui akun twitternya @PutraWadapi sebagaimana dikutip PikiranRakyat-Tasikmalaya.com, Rabu, 10 Februari 2021.

“Kader partai bocah-bocah ngamuk dengan drama pak Ganjar Pranowo kader PDIP difitnah. Padahal ada ribuan nama Ganjar di Indinesia. Ini akibat dari diotak hanya ada radikal & intoleransi,” sambungnya.


Tangkap layar unggahan Christ Wamea twitter.com/PutraWadapi

Sebelumnya diketahui, banyak pihak yang kemudian memberikan respon negatif pada polemik tersebut, termasuk mantan politikus partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean.

Dalam cuitannya, Ia menyebut bahwa digunakannya nama Ganjar dalam soal yang ada di buku tersebut adalah tindakan kurang ajar.

Bahkan, Ferdinand juga menilai bahwa hal tersebut merupakan pola propaganda untuk mencemarkan nama baik seseorang bernama Ganjar.

Sesungguhnya ini pola propaganda yang jahat dan bentuk pencemaran nama baik orang bernama “Ganjar” terlepas itu dari politik, Terlebih saat ini ada politisi Ganjar yang sedang naik daun karena kinerjanya.” ujar Ferdinand Hutahaean sebagaimana dikutip PikiranRakyat-Tasikmalaya.com dari akun Twitternya @FerdinandHaean3 pada Senin, 8 Februari 2021.***

Ega Fausta

PR TASIKMALAYA- – 10 Februari 2021, 11:10 WIB

(nahimunkar.org)

(Dibaca 294 kali, 1 untuk hari ini)