ilustrsi

Dr. Slamet Muliono[Dosen UIN Sunan Ampel dan Direktur Pusat Kajian Islam dan Peradaban (PUSKIP)]

Tidak dipungkiri bahwa dunia dan segala kemewahannya menggoda orang yang beriman untuk merusak orientasi akheratnya. Oleh karena godaan untuk menyimpang dari tali agama yang lurus, hingga Allah memperingatkan Nabi-Nya untuk waspada. Nabi adalah utusan Allah yang bebas dari dosa, tetapi Allah masih mengingatkan bahwa kekayaan dunia bisa menggeser orientasi akheratnya.

Pernyataan orang-orang kafir bahwa seorang nabi seharusnya memiliki kekayaan dan penjaga keselamatannya. Sehingga hampir membuat nabi hampir meninggalkan sebagian pesan wahyu dan membuat dadanya sempit. Hal ini sebagaimana diabadikan Allah sebagaimana firan-Nya :

فَلَعَلَّكَ تَارِكُۢ بَعۡضَ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيۡكَ وَضَآئِقُۢ بِهِۦ صَدۡرُكَ أَن يَقُولُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ كَنزٌ أَوۡ جَآءَ مَعَهُۥ مَلَكٌۚ إِنَّمَآ أَنتَ نَذِيرٞۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٌ ١٢

Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu. (QS. Hud : 12)

Orang-orang yang menolak kebenaran berpandangan bahwa kekayaan merupakan tolok ukur dan kunci keberhasilan. Dengan kekayaan yang memadai maka pengikutnya akan memperoleh dam[ak positif sehingga akan tercukupi kebutuhan hidupnya. Apabila seorang nabi itu sederhana atau miskin, maka kehidupannya akan mengalami banyak tantangan dan hambatan. Melihat bahaya dunia itu, Allah memperingatkan nabi-Nya untuk senantiasa memperhatikan orang-orang yang serius dalam mengabdi kepada Allah, dan tidak terlena dengan bujukan dan perhiasan dunia. Hal ini sebagaimana firman-Nya :

وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُۥۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُۥ فُرُطٗا ٢٨

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas (QS. Al-Kahfi : 28)

Disadari atau tidak, ketika manusia sibuk dengan urusan dunia, maka akheratnya terkurangi porsinya. Betapa banyak orang-orang yang kaya jarang terlihat beraktivitas dan memakmurkan masjid. Mereka lebih banyak beraktivitas dan fokusterhadap sesuatu yang menghasilkan uang. Sementara masjid lebih banyak dipenuhi dan dimakmurkan oleh orang yang ekonominya kurang beruntung. Sehingga Allah mengabadikan ucapan pembesar-pembesar kafir sebagaimana ayat-Nya :

فَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ مَا نَرَىٰكَ إِلَّا بَشَرٗا مِّثۡلَنَا وَمَا نَرَىٰكَ ٱتَّبَعَكَ إِلَّا ٱلَّذِينَ هُمۡ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ ٱلرَّأۡيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمۡ عَلَيۡنَا مِن فَضۡلِۢ بَلۡ نَظُنُّكُمۡ كَٰذِبِينَ ٢٧

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta (QS. Hud : 27)

            Pengikut Nabi kebanyakan orang-orang yang ekonominya pas-pasan, dan mereka inilah yang memiliki spirit beragama yang besar, sehingga orang-orang yang merasa dirinya berpengaruh dan terpandang tidak pantas bergaul dengan orang-orang yang berada di bawahnya.

Fokus dan Keberhasilan

Cara pandang orang kafir dalam memandang kesuksesan diukur dengan tercukupinya kehidupan dunia dengan kekayaan yang melimpah. Hal ini jawab oleh Allah bahwa fokus sangat menentukan sukses tidaknya tujuan. Ketika seorang hamba fokus kepada kehidupan dunia, maka Allah menyanggupi dan menunuhinya. Tetapi akibat terburuknya, dia tidak akan memperoleh tempat (kebahagiaan). Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ ١٥ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٦

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Hud : 15-16)

Manusia yang berhasil dalam kehidupan dunia adalah mereka yang fokus dalam bekerja hingga tidak sempat memirkan akheratnya. Akherat terlupakan karena konsentrasi dunia, sehingga berimplikasi hilangnya kesempatan menikmati kebahagiaan di akherat.

Allah menunjukkan sejarah kesuksesan manusia disebabkan oleh pengabdiannya yang utuh dalam memelihara orientasi akheratnya. Ketika orientasi akherat terjaga, maka Allah akan  mencukupi dan menjamin kehidupan dunianya. Bahkan anggota masyarakat akan hormat dan mengagungkan dirinya karena dirinya telah mengagungkan Allah dengan menjaga orientasi akheratnya. Hal ini ditegaskan Allah dengan mengutip kisah Nabi Tusuf, sebagaimana firman-Nya :

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُۥٓ ءَاتَيۡنَٰهُ حُكۡمٗا وَعِلۡمٗاۚ وَكَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٢٢

Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (QS. Yusuf : 22)

Nabi Yusuf merupakan salah satu contoh nabi yang berhasil dalam kehidupan dunia. Dia berhasil diangkat menjadi seorang tangan kanan raja yang mengurusi ekonomi negeri Mesir. Nabi Yusuf sangat dihormati masyarakatnya berbagai kebaikan yang telah dilakukan. Di antara kebaikan nabi Yusuf adalah tidak berzina dengan perempuan yang cantik dan bergelimang kekayaan. Nabi Yusuf juga terus berdakwah, ketika di penjara, dengan menegakkan nilai-nilai tauhid. Berkat pengabdiannya kepada akherat ini, maka Nabi Yusuf dimulakan oleh masyarakatnya dan dimuliakan oleh Allah.

Surabaya, 30 Juli 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 885 kali, 1 untuk hari ini)