.

 

Oleh : Mush’ab

Dalam mencapai tahapan kemenangan gerakan Syi’ah di berbagai belahan dunia, paham Syi’ah dengan menggunakan strategi ajaran yang di halalkan dan wajib dilaksanakan dengan taqiyyah. Sehingga tidak mudah secara dini diketahui oleh ummat yang menentang aqidahnya, khususnya oleh ahlus Sunnah wa jama’ah.

Definisi Taqiyyah

Taqiyyah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Menyembunyikan dan menjaga.(Lisanul Arab 15/401 dan Al Qamus Al Muhith hal. 1731)

Sedangkan secara terminologi syariat, taqiyyah memiliki arti: Menyembunyikan keimanan karena tidak mampu menampakkannya ditengah-tengah orang kafir dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan dan hartanya dari kejahatan mereka. (Disarikan dari Atsarut Tasyayyu’ hal 33 – 34)

Faham syi’ah beranggapan bahwa Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam pernah melakukan taqiyyah, yaitu ketika seorang tokoh munafiqin yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dunia, Beliau mendo’akan untuknya, kemudian Umar bin Khattab berkata kepadanya “Tidakkah Allah telah melarangmu untuk melakukan hal itu (berdiri di atas kuburannya dengan mendo’akannya), maka Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam menjawab “Celakalah engkau, tahukah engkau apa yang saya baca? sesungguhnya aku mengucapkan penuhilah kuburannya dengan api dan bakarlah ia” (Furu’ul Kaafi hal 188)

Taqiyyah Berdasarkan Kitab-Kitab Syiah:

Riwayat dari hadits Imam kelima mereka, Muhammad Al Baqir yang berbunyi :

“At Taqiyyah ialah kebiasaanku dan kebiasaan bapak-bapakku, dan tidak beriman orang yang tidak bertaqiyyah.” (Al Ushul Minal Kafi, bab: At Taqiyyah jilid: 2 hal: 219).

Syaikh ahli hadits mereka, Muhammad bin Ali bin Al Hasan bin Babuyah Al Kummi menyebutkan dalam sebuah risalahnya yang berjudul Al I’tiqadaat:

“Bertaqiyyah wajib hukumnya, barang siapa yang meninggalkannya, maka ia bagaikan orang yang meninggalkan sholat.” Ia juga berkata: “Bertaqiyyah wajib hukumnya, dan tidak boleh dihapuskan hingga datang sang penegak keadilan (imam mahdi -pent), dan barang siapa yang meninggalkannya sebelum ia datang, maka ia telah keluar dari agama Allah Ta’ala, dan dari agama Al Imamiyyah, serta menentang Allah, Rasul-Nya dan para Imam.” (Baca risalah Al I’tiqadaat, pasal At Taqiyyah, terbitan Iran tahun: 1374 H).

قال أبوعبدالله عليه السلام: يا معلى اكتم أمرنا ولاتذعه، فإنه من كتم أمرنا ولم يذعه أعزه الله به في الدنيا وجعله نورا بين عينيه في الآخرة، يقوده إلى الجنة، يا معلى من أذاع أمرنا ولم يكتمه أذله الله به في الدنيا ونزع النور من بين عينيه في الآخرة وجعله ظلمة تقوده إلى النار، يا معلى إن التقية من ديني ودين آبائي ولادين لمن لاتقية له

Artinya : Abu Abdillah a.s. berkata: “Wahai Mu’alla! Sembunyikan urusan (agama) kami dan jangan nyatakannya, kerana sesungguhnya orang yang menyembunyikan agama kami dan tidak menyatakannya akan dimuliakan oleh Allah di dunia dan Allah akan menjadikannya sebagai cahaya di antara dua matanya di akhirat yang akan membawanya ke syurga. Wahai Mu’alla! Orang yang menyatakan agama kami dan tidak menyembunyikannya akan di hina oleh Allah di dunia dan Allah akan membuang cahaya di antara dua matanya di akhirat dan akan menjadikannya kegelapan yang mengheretnya ke neraka. Wahai Mu’alla! Sesungguhnya taqiyyah adalah agamaku dan agama datuk nenekku dan tidak ada agama bagi orang yang tidak bertaqiyyah“.(Usul al-Kafi jilid 2 hal 225)

عن سليمان ابن خالد قال: قال أبوعبدالله عليه السلام: يا سليمان إنكم على دين من كتمه أعزه الله ومن أذاعه أذله الله

Artinya : Dari Sulaiman bin Khalid, dia berkata bahwa, Abu Abdillah a.s. berkata, “Wahai Sulaiman, sesungguhnya kamu berada di atas satu agama yang sesiapa yang menyembunyikannya akan dimuliakan oleh Allah dan sesiapa yang menyatakannya akan dihina oleh Allah”.(Usul Kafi jilid 2 hal 223)

Kedudukan taqiyyah berdasarkan kitab-kitab syiah.

Ibnu Babawaih mengatakan: “Keyakinan kami tentang taqiyyah itu adalah wajib. Barangsiapa meninggalkannya maka sama dengan meninggalkan sembahyang”. [Al-I’tiqadat,hal.114].

Selain itu menisbatkan kepada imam keenam Ja’far Ash-Shadiq, dia berkata, “Seandainya saya mengatakan bahwa meninggalkan taqiyyah sama dengan meninggalkan sembahyang tentu saya benar.” [Al-I’tiqadadat, hal.114]

عن أبي عبدالله عليه السلام قال: اتقوا على دينكم فاحجبوه بالتقية، فإنه لا إيمان لمن لا تقية له، إنما أنتم في الناس كالنحل في الطير لو أن الطير تعلم ما في أجواف النحل ما بقي منها شئ إلا أكلته ولو أن الناس علموا ما في أجوافكم أنكم تحبونا أهل البيت لاكلو كم بألسنتهم ولنحلوكم في السر والعلانية، رحم الله عبدا منكم كان على ولايتنا.

Artinya: Dari ‘Abdullah ‘alaihi salam (Muhammad Al-Kulaini) berkata: “Bertaqwalah kalian kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam agama kalian dan lindungilah agama kalian dengan taqiyah, maka sesungguhnya tidaklah mempunyai keimanan orang yang tidak bertaqiyah. Dia juga mengatakan “Siapa yang menyebarkan rahasia berarti ia ragu dan siapa yang mengatakan kepada selain keluarganya berarti kafir.” .[Al-Kafi 2/371,372 & 218].

Munculnya Amalan-Amalan Kemungkaran Sebagai Realisasi Pandangan Sesat Mereka Terhadap Taqiyyah

1. Pengkafiran kaum muslimin yang tidak melakukan taqiyyah ala Syi’ah Rafidhah

Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat ketika menyebutkan tentang kewajiban taqiyyah, mengatakan: “… Barangsiapa meninggalkan (taqiyyah) sebelum munculnya Imam Mahdi maka dia telah keluar dari agama Allah, agama Imamiyyah dan menyelisihi Allah, Rasul serta para imam mereka.”

2. Pembolehan untuk melakukan taqiyyah didalam segala keadaan walaupun dalam keadaan tidak terpaksa

Ath Thusi meriwayatkan –dengan dusta– di dalam Al Amaali hal. 229 dari Ash Shadiq, beliau berkata: “Bukanlah dari golongan kami, seseorang yang tidak menjadikan taqiyyah sebagai syiar dan bajunya walaupun ditengah orang-orang yang dia percayai. Hal itu tetap dia lakukan agar selalu menjadi tabiatnya ketika ditengah orang-orang yang mengancamnya.”

3. Ibadah yang diiringi dengan taqiyyah memiliki keutamaan besar

Ash Shaduq di dalam Man Laa Yahdhuruhul Faqih 1/266 meriwayatkan –dengan dusta– dari Abu Abdillah, berkata: “Tidaklah salah seorang diantara kalian menunaikan shalat wajib sesuai waktunya lalu shalat lagi dengan taqiyyah bersama mereka (kaum muslimin) dalam keadaan berwudlu’ kecuali Allah tulis (keutamaan) baginya sebesar 25 derajat. Oleh karena itu berharaplah kalian untuk mendapatkannya.”

4. Riwayat-riwayat para Imam mereka yang bertolak belakang dengan aqidah mereka dianggap sebagai taqiyyah (diringkas dari Firaqusy Syi’ah hal. 85-87 karya An Naubakhti)

5. Penafsiran yang batil terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala

Surat Fushshilat 34 :

وَلاَ تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

yang artinya: “Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejelekan. Balaslah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik.”

Abu Abdillah (paham Syi’ah) berkata: “Kebaikan itu adalah taqiyyah, sedangkan kejelekan itu adalah terang-terangan di dalam beragama.” (Al Kafi 2/173 karya Al Kulaini)

Sedangkan ‘cara yang lebih baik’ itu adalah taqiyyah. (Al Kafi hal. 482 karya Al Kulaini)

Surat Al Hujurat 13 :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling taqwa.”

Ash Shadiq seorang syi’i berkata: “Yaitu orang-orang yang paling mengetahui tentang taqiyyah.”(Al I’tiqadaat karya Al Qummi)

Maka Aqidah Taqiyyah merupakan ciri khas dari Syi’ah Rafidhah, karena dalam kitab Al I’tiqadaat karya Al Qummi meriwayatkan –dengan dusta– dari Ali bin Husain, berkata: “Kalau seandainya tidak ada taqiyyah maka wali-wali kami tidak akan dikenal diantara musuh-musuh kami.”

Hakekat Taqiyyah Syi’ah Rafidhah Sama dengan Kemunafikan

Sangat tepat untuk dinyatakan bahwa hakekat taqiyyah mereka tidaklah beda dengan kemunafikan di masa kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Padahal Allah Ta’ala banyak memperingatkan sifat-sifat mereka (kaum munafik) di dalam kitab-Nya, diantaranya:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Artinya : “Dan jika mereka (kaum munafik) bertemu dengan orang-orang beriman mereka berkata: ‘Kami beriman.’ Namun bila mereka bertemu dengan para syaithan, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanyalah mengejek mereka (kaum muslimin).” (Al Baqarah: 14)

Allah juga berfirman :

يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ

Artinya: “Mereka (orang-orang munafik) mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di hatinya.” (Al Fath: 11)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mengingatkan tentang keadaan mereka: “Dan kalian akan dapati sejelek-jelek manusia adalah yang bermuka dua, yaitu dia mendatangi suatu kaum dengan satu wajah dan mendatangi kaum yang lain dengan wajah yang lain pula.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Bukti taqiyyah para penganut Syi’ah (INDONESIA)

Taqiyyah ON (yang nampak)

  1. Harian Fajar, Minggu, 6 Februari 2011, menurunkan berita tentang IJABI, dengan judul berita “IJABI Tentang Sikap Menjelek-jelekkan Sahabat Nabi”, di dalam salah satu ulasan berita itu ditulis: “Melalui ketuanya, Syamsuddin Baharuddin, dia menegaskan IJABI Sulsel sama sekali tidak pernah membuat gerakan yang menjelek-jelekkan sahabat Nabi saw sebaliknya, IJABI sangat menentang gerakan atau upaya menjelek-jelekkan sahabat Rasulullah saw.”

Taqiyyah OFF (tersembunyi)

  1. 1.       Paham Syi’ah berpendapat bahwa Para sahabat sering menentang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam pada saat masih hidup.( Emilia Renita AZ. 40 Masalah Syiah. Bandung: IJABI. Cet ke 2. 2009. hal. 82)

Bila yang dimaksud adanya penentangan itu adalah Utsman bin Affan dan para Sahabat  yang lari dari medan perang, maka tidaklah pantas dicela dan disebut-sebut lagi sebagai orang yang menentang perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam karena mereka sudah diampuni oleh Allah Subhanahu Wata’ala. (lihat QS. Ali Imran: 155. Ibid hal.79)

  1. Dalam ceramah Hari Asyura oleh Jalaluddin Rakhmat (Ketua Dewan Syuro IJABI) menyinggung bahwa Aisyah itu bermuka hitam, suka memoles pipinya dengan sejenis akar sebuah pohon sehingga berwarna merah, dengan itu beliau dijuluki Al Humairo (yang kemerah-merahan pipinya). Ia sangat pencemburu, dan suka membuat makar. (Rec. 07 Arsip LPPI Perw. IndTim)
  2. Amr bin Ash adalah anak dari hasil promiskuitas (ibunya digagahi oleh beberapa orang yang tidak jelas), Jalaluddin Rakhmat. (Ketua Dewan Syuro IJABI) Al Mushthafa (Manusia Pilihan yang Disucikan). Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2008. hal. 14)*

(an-najah.net), Publikasi: Selasa, 24 Rabiul Akhir 1435 H / 25 Februari 2014 14:58

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.939 kali, 1 untuk hari ini)