Komunitas Salihara adalah sebuah kantong budaya yang berkiprah sejak 08 Agustus 2008, dan pusat kesenian multidisiplin swasta pertama di Indonesia.Berlokasi di atas sebidang tanah seluas sekitar 3.800 m2 di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kompleks Komunitas Salihara terdiri atas tiga unit bangunan utama: Teater Salihara, Galeri Salihara, dan ruang perkantoran. Saat ini, Teaterblackbox Salihara adalah satu-satunya yang ada di Indonesia. Pada saat ini kompleks Komunitas Salihara sedang diperluas dengan tambahan fasilitas untuk studio latihan, wisma seni dan amfiteater./ http://salihara.org

Taruna Muslim menekankan agar seluruh elemen bangsa harus bersatu menuntut proses hukum bagi penyair Sitok Srengenge, yang telah memperkosa mahasiswi. “Salihara” juga harus ditutup, karena telah menjadi tempat prostitusi terselubung.

Seruan itu disampaikan Pimpinan Taruna Muslim, Alfian Tanjung, kepada itoday (01/11) menanggapi aksi pelecehan seksual yang dilakukan Sitok Srengenge. “Seluruh elemen bangsa harus bersatu menyeret Sitok ke meja hijau. Tutup juga Salihara, komunitas tempat prostitusi,” tegas Alfian.

Menurut Alfian, ideologi Salihara dan juga pemimpin Tempo Group melegalkan perzinahan.”Lihat saja kasus Sitok, Tempo memberitakannya sebagai perbuatan ‘suka sama suka’ agar pelaku tidak terjerat hukum,” ungkap Alfian.

Alfian menegaskan, kelompok pendukung Sitok yang tergabung di Komunitas Salihara dan Komunitas Utan Kayu telah melegalkan perzinahan. “Sudah menjadi rahasia umum Utan Kayu, dan Salihara menjadi tempat mabuk-mabukan dan perzinahan,” tuding Alfian.

Terkait pelecehan seksual Sitok, menurut Alfian, aktivis perempuan yang biasa bersuara keras, kali ini tidak bereaksi.  “Mana suara Djenar Mahesa Ayu, yang mengklaim sebagai pembela perempuan. Mana protes mereka? Mereka munafik. Goenawan Muhammad sendiri diam seribu bahasa,” kecam Alfian.

Fakta bahwa Theater Salihara sebagai ajang pertunjukan amoral tidak bisa dibantah. Situs resmi salihara.org sempat merilis liputan terkait tari telanjang bertajuk “Tari Telanjang Tanpa Rangsang”.  Tampilan Daniel Leveille Dense dari Kanada, pada Festival Salihara Keempat, Selasa (09/11/2012) menjadi bukti pertujukkan erotis itu.

Dalam tulisan itu dibeberkan satu sikap bahwa tari telanjang pun tak selalu berkutat dalam bingkai erotis pemancing syahwat. Penampilan Daniel Leveille Dense itu ditonton 230-an penonton di Teater Salihara.

“Selama 60 menit, empat penari, salah satunya perempuan, menunjukkan bahwa ketelanjangan memberikan keleluasan penontonnya melihat detail tubuh seperti otot, tarikan napas perut dan dada, hingga cucur keringat sebagai bagian penting dari sebuah koreografi. Dada membusung dan otot perut mengencang seiring tarikan napas, gelayut pantat usai sebuah gerak melompat, dan bergoyangnya buah zakar atau buah dada saat tubuh bertumpu pada satu kaki mustahil terlihat pada tubuh berbalut kostum,” demikian salihara.org mereportase penampilan itu.

Terkait adanya “Tari Telanjang Tanpa Rangsang”  itu, petinggi Komunitas Salihara, Goenawan Mohamad membantah bahwa itu pertunjukan erotis.

Nafsiah Mboi sebaiknya tak hanya membagikan kondom ke daerah lokalisasi yang hingga kini masih di rahasiakan lokasinya, pembagian kondom tersebut seharusnya dibagikan saja kepada istri pejabat yang suka dengan brondong atau dibekalkan ke suami-suami mereka ketika dinas ke luar kota? Karena perilaku sex bebas itu banyak dilakukan oleh mereka dan akhirnya menular ke anak-anak mereka yang masih remaja. Atau berikan saja kepada Komunitas Salihara yang mendukung liberalisme toh karena memang kaum liberal doyan sex bebas dan zina!

Tak salah rupanya Justin Bieber menyebut Indonesia sebagai ‘random country’ alias negeri antah berantah. Ketika yang muda mabuk, yang tua korup dan gila free sex. [dbs/alfian/voa-islam.com]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.705 kali, 1 untuk hari ini)