Ilustrasi : Meminta bantuan kepada jin (Muslim.Or.Id)


Sebelumnya, kami memohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan dalam praktek ibadah dan muamalah, sadar sengaja maupun tidak sadar atau tidak tahu sebelumnya. Kemudian, merupakan hal yang kerap tidak disadari oleh sebagian peruqyah, bahwa sesungguhnya dirinya ber-isti’anah (meminta bantuan) kepada jin atau memakai jasa jin.

Di antara bentuknya adalah ketika peruqyah scanning jin di diri pasien. Seolah-olah jiwa peruqyah ini bisa menyelami dada pasien. Kemudian mengatakan, “Ini jin nasab. Ini jin fulan. Ini jin allan.” Atau mengatakan, “Di antum ada ribuan jin.” Padahal jin yang bercokol di pasien tidak pernah berucap begitu.

Pertanyaannya: “Darimana antum tahu?”

Sebagian peruqyah akan mengatakan, “Dari pengalaman.”

Pertanyaan berikutnya, “Apakah dengan pengalaman, antum kemudian bisa scanning jenis dan jumlah jin padahal indikator manusiawi (seperti tingkah, geraman dan seterusnya) tidak ada?”

“Atau, karena kebiasaan mendapatkan bantuan halus dari kalangan jin?”

Bantuan halus yang kita maksud adalah: peruqyah ketika meruqyah, ia kerap mendapat bisikan batin bahwa di pasien ada jin ini jin itu jumlahnya sekian pengirimnya fulan allan. Kemudian, jin yang ada di tubuh pasien membenarkan, baik itu benar atau tidak.

Kebiasaan menerima sugesti bisikan itulah -terlebih dibenarkan oleh jin pasien- yang membuat sebagian peruqyah makin sok tahu. Merasa bahwa itu adalah ilham. Makin lama akan makin banyak varian ritual, statement dan sikap yang bagi manusia normal awam, itu adalah kesalehan, ibadah dan kebaikan.

Sebagaimana kalangan awam sekarang banyak digiring bahwa yang namanya ruqyah itu mesti disertakan setelahnya rintihan, geraman, auman, tangisan, dan gejala gejolak di tubuh pasien. Kemudian dalam waktu singkat tak lama, terkesan sembuh.

Sebagaimana kalangan awam disuguhi kenyataan bahwa wajar jika kumpulan peruqyah membuka klinik dengan tarif segini segitu. Jika pun wajar, kenyataan yang terjadi adalah bahwa banyak dari para penjaga klinik adalah para peruqyah karbitan, yang disuruh menghafal al-Qur’an tidak mau kecuali ayat-ayat ‘andalan’ untuk meruqyah. Disuruh fokus belajar Aqidah juga kurang minat kecuali hal-hal yang ada kaitannya dengan alam jin, ain, gejala Kiamat.

Sampai-sampai akan melahirkan dai-dai spesialis jin dan hari kiamat. Karena kedua tema tersebut menyedot perhatian awam. Tapi membuat banyak dari thullab al-ilm geleng-geleng kepala.

Jika tulisan faqir ini menyetrum dan membuat reaksi emosional yang kurang wajar, maka wajar. Karena tidak ada jin pembantu yang suka trick dan track nya diungkap. Selama ini rapih dan halus. Namun mari kita nasehati tanpa men-ta’yin person: bahwa ruqyah itu asalnya adalah mendoakan dan membacakan wirid-wirid. Ruqyah tetap bukan produk liberal, yang semua fajir dan fasiq layak diundang untuk mendoakan, dengan cara masing-masing.

Semoga Allah beri hidayah pada kami dan teman-teman sekalian.

Berikut cuplikan ringkas dari Syaikh Abdul Karim al-Khudhair.

Oleh Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.052 kali, 1 untuk hari ini)