Tasnya Oemar Bakri sang guru berbakti itu, rupanya dari kulit buaya. Sementara, buaya diharamkan untuk dimakan, berdasarkan pandangan jumhur ulama. Kalau buaya meninggal, maka ia dihukumi sebagai maytah (ميتة), yaitu ‘bangkai‘. Dan bangkai, hukumnya najis, kecuali dua bangkai: bangkai ikan dan bangkai belalang.

Namun suatu kala, Rasulullah membolehkan memanfaatkan kulit bangkai kambing, dengan syarat: disamak terlebih dahulu. Berdasarkan itu, maka para ulama Syafi’iyyah mengatakan: “Kulit bangkai yang disamak, menjadi SUCI, selama itu bukan kulit anjing atau babi.”

Konsekuensinya: Anda boleh menjual kulit itu atau menghadiahkannya ke orang.

Contoh: kulit ular. Ular hukumnya haram untuk dimakan. Kalau ular dibunuh, maka pasti menjadi bangkai. Bahkan, kalaupun ular itu dibunuh dengan cara disembelih dan penyembelihnya menyebut nama Allah, tetap saja ia menjadi bangkai. Najis. Begitu juga jika ular itu matinya dengan cara bunuh diri. Ia jadi bangkai. Najis. Nah, menurut Syafi’iyyah, kulitnya boleh disamak sehingga bisa suci. Konsekuensinya: Anda boleh menjual kulit ular atau menghadiahkannya ke orang.

Konsekuensi lainnya: Shalat Anda sah kalau sambil membawa dompet dari kulit ular.

Tapi, kalau saya pribadi, lebih memilih pendapat ulama yang merincikan begini:

Hewan yang asalnya boleh dimakan dagingnya namun mati membangkai, maka boleh dimanfaatkan kulit bangkainya setelah disamak. Berdasarkan hadits.

Sebaliknya, hewan yang asalnya haram dimakan dagingnya, mati bagaimanapun caranya, maka kulitnya tidak boleh dimanfaatkan dan tetap dihukumi NAJIS walau disamak. Berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad:

دباغُها ذكاتها

“Penyamakannya adalah dzakat (penyembelihannya).”

NAH! Merupakan maklum bahwa tidak ada satu pun hewan yang asalnya haram dimakan, menjadi halal dan bermanfaat hanya karena disembelih.

Kasusnya: buaya. Buaya haram. Buaya lalu mati. Najis. Lalu dikuliti. Lalu disamak. Apakah menjadi suci kulitnya? Tidak. Kenapa? Karena penyamakan kulit hewan ibarat penyembelihan yang melegalisir bolehnya dimanfaatkan. Sementara, buaya mau bagaimanapun juga, bukan hewan yang sah disembelih. Maka: kulit buaya: najis. Haram.

Konsekuensi: haram menyimpannya, haram menjualnya, haram memakainya, haram menghibahkannya dst.

Ini adalah salah satu studi kasus dalam kajian Kifayatul Akhyar tadi pagi. Simak mari. Insya Allah bermanfaat. Videonya ada teksnya. Puas insya Allah.

KIFAYATUL AKHYAR (11) – “THAHARAH: Kulit Bangkai”

https://www.youtube.com/watch
https://www.youtube.com/watch…

Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 14.472 kali, 1 untuk hari ini)