Tatkala Good Looking Dipermasalahkan

 


 

Oleh: Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial

Terjemahan bebas dari istilah “Good Looking” (GL) artinya “Bagus Dilihat”. Jika GL ini disandarkan pada sosok seseorang maka layak yang bersangkutan dikatakan ganteng, rupawan, cakep, bagus, tampan, cantik mempesona dan dalam bahasa milenialnya sering dikatakan “keren full“.

Biasanya bagi “manusia yang normal” tentu dari sisi fisik yang bersangkutan akan berupaya untuk bisa tampil GL. Fenomena kekinian dengan banyaknya pemuda hijrah, tentu bagi “manusia yang normal” akan merasa bersyukur dan bahagia melihat para pemuda dengan tampilan GL mau memakmurkan masjid, mengikuti kajian ilmu bahkan bersemangat menghafal Al Qur’an dan fasih berbahasa arab.

Pertanyaannya, ada apakah tatkala para pemuda yang berpenampilan GL rajin memakmurkan masjid, aktif mengikuti kajian ilmu agama, fasih berbahasa arab dan hafal Al Qur’an kok dipermasalahkan? Bahkan sosok-sosok pemuda yang sholeh seperti ini malah dituduh menjadi cikal-bakal tumbuhnya faham radikalisme. Sungguh tuduhan semacam ini hanya keluar dari mulut manusia-manusia jahil, tak faham agama bahkan mungkin anti agama walau tampilannya seperti orang yang mengerti agama.

Tidak mudah dan harus penuh perjuangan bagi para orang tua yang ingin anaknya bisa hafidz Qur’an, butuh waktu bukan hanya satu atau dua tahun bahkan bisa puluhan tahun harapan orang tua tersebut baru bisa membuahkan hasil. Setelah anak berhasil menghafal Al Qur’an lantas ada sosok manusia yang menuduh bahwa para hafidz Qur’an dan fasih bahasa arab menjadi cikal bakal gerakan radikalisme. Tuduhan semacam ini tentu hanya keluar dari mulut orang-orang yang akal dan pikirannya terseret pengaruh wadyabala iblis.

Tulisan ini sengaja tak menyebut nama seseorang yang telah menstigmakan negatif bagi para hafidz Qur’an, karena dikhawatirkan jika disebutkan namanya malah yang bersangkutan merasa besar kepala seolah diakui eksistensinya. Hal ini mengingat adanya larangan mencela setan. 

Kisahnya, ketika terjadi kecelakaan, tatkala salah seorang sahabat pernah membonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ontanya terjatuh. Sahabat ini langsung mengatakan, Ta’isa as-Syaithan “Celaka setan”. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,

لاَ
تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Jangan kamu mengucapkan ‘celaka setan’. Karena ketika kamu mengucapkan kalimat itu, maka setan akan membesar, hingga dia seperti seukuran rumah. Setan akan membanggakan dirinya, ‘dia jatuh karena kekuatanku.’ Namun, ucapkanlah, ‘Bismillah, karena jika kamu mengucapkan kalilmat ini, setan akan mengecil, hingga seperti lalat. (HR. Ahmad 21133, Abu Daud 4984, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Redaksi ANNAS Indonesia

06 September 2020 00:02

(nahimunkar.org)

(Dibaca 278 kali, 1 untuk hari ini)