Kita sering dengar tuduhan dusta dan fitnah yang di sebarkan oleh ahlul hawa kepada ahlussunnah, bahwa ahlussunnah mengharamkan tawassul, melarang tawassul. Karena beginilah hakikatnya ahlul hawa wal bid’ah mereka akan membuat tuduhan-tuduhan dusta, untuk membuat makar sesat kepada yang di tuduh. Karena kalau mereka jujur maka ajarannya tidak akan laku. Karena akan nampak sekali kebathilan dalam ajarannya.

Tawassul masuk dalam perkara aqidah, maka Aqidah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalam­nya. Karena itulah sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam Ail-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagi-Nya dan apa yang harus disucikan dari-Nya melainkan Allah sendiri. Dan tidak seorang pun sesudah Allah yang lebih mengetahui tentang Allah selain Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa Salam.

Tawassul adalah mendekatkan diri dan berupaya sampai kepada sesuatu, wasilah yaitu keadaan kedekatan, atau apa yang mendekatkan kepada orang lain.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya.” [Al-Ma’idah: 35]

Yakni dengan mentaati-Nya dan mengikuti keridhaan-Nya.

Tawassul ada dua macam: Tawassul yang dibolehkan dan tawassul yang tidak dibolehkan.

Pertama, tawassul yang dibolehkan

Tawassul yang dibolehkan ada beberapa macam:

  1. Tawassul kepada Allah dengan Asma’ dan Sifat-Nya, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan hal tersebut dalam firman-Nya,
    Artinya:”Hanya milik Allah Asma’ul Husna (nama-nama yang indah) maka mohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma’ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Asma’Nya, nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-A’raf: 180]
  2. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan iman dan amal shalih yang dilakukan oleh orang yang bertawassul. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang orang-orang yang beriman,Artinya:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” [Ali Imran: 193]

    Sebagaimana juga terdapat dalam hadits tentang tiga orang yang keruntuhan batu besar sehingga menutup pintu gua (tempat mereka singgah), dan mereka tidak bisa keluar daripadanya, lalu mereka bertawassul dengan amal shalih mereka, sehingga Allah Subhanahu waTa’ala membukanya dan mereka keluar pergi.

  3. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mentauhidkan-Nya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yunus ’alaihissalam,
    Artinya:”Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau.” [Al-Anbiya’: 87]
  4. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan menampakkan kelemahan, hajat dan kebutuhan kepada Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana dikatakan oleh Ayyub ’alaihissalam,Artinya:”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” [Al-Anbiya’ : 83]
  5. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan doa orang-orang shalih yang masih hidup. Hal itu sebagaimana ketika para sahabat mengalami kekeringan lalu mereka meminta kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar berdoa untuk mereka, dan ketika beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam meninggal, mereka meminta kepada pamannya, Abbas Radiyallaahu ‘anhu, lalu ia pun berdoa untuk mereka.

Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mengakui dosa-dosa.Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:”Musa berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku’.”
[Al-Qashash: 16]

Kedua, Tawassul yang tidak diperbolehkan

Tawassul yang tidak diperbolehkan ada empat macam:

  • Tawassul dengan meminta doa kepada orang mati. Ini tidak boleh. Karena mayit tidak mampu berdoa seperti ketika dia masih hidup. Meminta syafaat kepada orang mati juga tidak dibolehkan. Karena Umar bin al-Khaththab, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan para sahabat yang bersama mereka, juga para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul dan meminta syafaat kepada orang yang masih hidup, seperti kepada al-Abbas dan Yazid bin al-Aswad Radiyallallahu ‘anhumaa. Mereka tidak bertawassul, meminta syafaat dan memohon diturunkannya hujan melalui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik di kuburan beliau atau di kuburan orang lain, tetapi mereka mencari pangganti (dengan orang yang masih hidup) seperti al-Abbas dan Yazid. Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu, berkata, “Ya Allah, dulu kami bertawassul kepadaMu dengan NabiMu, sehingga Engkau memberi kami hujan, dan kini kami bertawassul dengan paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami.” Mereka menjadikannya sebagai pengganti dalam bertawassul ketika mereka tidak bisa bertawassul dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sesuai dengan yang disyariatkan sebagaimana yang pernah mereka lakukan sebelumnya.Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk datang ke kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan bertawassul dengan beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam, demikian itu jika diperbolehkan. Dan mereka meninggalkan hal tersebut merupakan bukti tidak dibolehkannya bertawassul dengan orang-orang mati, baik dengan meminta doa atau syafaat kepada mereka. Seandainya meminta doa atau syafaat kepada orang mati atau hidup itu sama saja, tentu mereka tidak berpaling kepada orang lain yang lebih rendah derajatnya.
  • Tawassul dengan kedudukan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam atau kedudukan selainnya. Ini tidak boleh. Adapun hadits yang berbunyi,

    إذا سا لتم الله فاسألوه بجاهي، فإن جاهي عند الله عظيم

    “Jika kalian memohon kepada Allah maka memohonlah kepadaNya dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah adalah agung.”

    Hadits di atas adalah hadits yang didustakan atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak dimuat dalam kitab-kitab umat Islam yang menjadi sandaran, juga tidak seorang ulama pun yang menyebutnya sebagai hadits. Dan jika tidak ada satu pun dalil shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.

  • Tawassul dengan dzat makhluk-makhluk. Ini tidak boleh. Sebab jika ba’ (الـباء) tersebut untuk sumpah maka berarti sumpah dengannya terhadap Allah Subhanahu waTa’ala . Jika sumpah makhluk terhadap makhluk tidak dibolehkan, bahkan syirik, sebagaimana disebutkan dalam hadits, lalu bagaimana sumpah makhluk terhadap al-Khaliq (Sang Pencipta).
    Dan jika ba’ tersebut menunjukan sebab (للسببية) maka sungguh Allah tidak menjadikan permohonan kepada makhluk sebagai sebab dikabulkannya doa dan ia tidak mensyariatkan hal tersebut kepada para hambaNya.
  • Tawassul dengan hak makhluk. Ini tidak boleh pula karena dua alasan.
    Pertama, bahwasanya Allah Subhanahu waTa’ala tidak wajib memenuhi hak atas seseorang (makhluk), tetapi sebaliknya Allah Subhanahu waTa’ala yang menganugerahi hak tersebut kepada makhlukNya sebagaimana firmanNya,Artinya:”Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman.”
    [Ar-Rum: 47]

    Orang yang taat mendapatkan balasan (kebaikan) dari Allah Subhanahu waTa’ala adalah karena anugerah dan nikmat, dan tidak karena balasan setara sebagaimana makhluk kepada makhluk yang lain.
    Kedua, yang dianugerahkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada hambaNya adalah hak khusus bagi dirinya dan tidak ada kaitannya dengan orang lain dalam hak tersebut. Jika ada yang bertawassul dengannya, padahal dia bukan yang berhak berarti dia bertawassul dengan perkara asing yang tidak ada kaitannya antara dia dengan hal tersebut, dan tidak bermanfaat untuknya sama sekali.

    Adapun hadits yang berbunyi,

أسألك بحق السائلين

“Aku memohon kepadaMu dengan hak orang-orang yang memohon.” [HR. Ibnu Majah dan Ahmad]

Maka ini adalah hadits yang tidak tetap dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena di dalam sanadnya terdapat Athiyyah al-Aufi dan ia adalah perawi dha’if yang disepakati kedha’ifannya, demikian seperti yang dikatakan oleh para ahli hadits. Jika demikian halnya, maka tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah penting ini, yang termasuk masalah akidah.

Dan banyak sekali hadist-hadist dha’if tentang perkara tawassul, dan Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang hadist dha’if, beliau berkata,

وعلى كل حال فإن الأئمة لا يروون عن الضعفاء شيئا يحتجون به على انفراده فى الاحكام فإن هذا شيء لا يفعله امام من أئمة المحدثين ولا محقق من غيرهم من العلماء وأما فعل كثيرين من الفقهاء أو أكثرهم ذلك واعتمادهم عليه فليس بصواب بل قبيح جدا وذلك لأنه ان كان يعرف ضعفه لم يحل له أن يحتج به فانهم متفقون على أنه لا يحتج بالضعيف فى الاحكام وان كان لا يعرف ضعفه لم يحل له أن يهجم على الاحتجاج به من غير بحث عليه بالتفتيش عنه ان كان عارفا أو بسؤال أهل العلم به ان لم يكن عارفا والله أعلم

“Intinya, para Imam sedikitpun tidaklah meriwayatkan (hadits) dari para Dhuafaa’ (orang-orang yang lemah) yang berhujjah dengan hadits itu sendiri (tanpa ada penguat, pent) dalam permasalahan hukum-hukum. Karena hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Imam Ahlul Hadits atau para Ulama lain dari kalangan Muhaqqiqin (para peneliti). Sedangkan perbuatan kebanyakan para fuqahaa’ (Ahli Fiqh) yang bersandar dengan hadits lemah maka ini tidak benar, bahkan itu buruk sekali. Karena jika mereka sudah mengetahui kelemahan hadits itu tidak halal baginya untuk berhujjah dengannya. Mereka telah sepakat bahwa tidak boleh berhujjah dengan hadits dhaif dalam permasalahan hukum. Jika dia tidak mengetahui kelemahannya, tidak halal baginya segera berhujjah dengan hadits itu sebelum ia kaji dan memeriksanya jika memang ia memiliki kemampuan dalam hal itu, atau ia harus bertanya kepada orang yang berilmu tentang hal itu (dalam masalah hadits, pent) kalau ia tidak mengetahuinya. Wallaahu A’lam” [Syarh Shahih Muslim lin Nawawiy (1/126)]

 Facebook Dimas Rianto

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.486 kali, 2 untuk hari ini)