Ilustrasi : Dari Siapa Engkau Mengambil Ilmu – YouTube


Beberapa rekan kita adalah kolektor ilmu. Luar biasa bermental predator untuk urusan ilmu; terlebih soal masalah polemik dan khilafiyyah. Rajin meraupnya. Kendatipun dari beragam manhaj dan madzhab. Alasannya: perbandingan. Ambil yang baik, sortir yang buruk. Ini metodologi belajar agama yang tak terdidik. Uneducated. Sebagian mengambil sikap ekstrimis dalam memilih pendapat mukhtalaf fiih yang khilafnya mu’tabar. Tapi sebagian mengambil sikap liberal dalam meraup ilmu.

Dulu, ilmu itu ditanyakan untuk diamalkan. Kini, sebagian rekan memburu ilmu sekadar bahan khazanah dan wacana. Tak ada faedah amal. Takwa dan iman tak meningkat.

Dulu, kalangan Salaf berhati-hati terhadap kebid’ahan, terutama dalam lingkup aqidah, dan manhaj. Kini, sebagian sudah pintar memilah mana yang baik mana yang buruk.

Generasi terbaik waspada. Generasi belakangan, tidak punya alarm dan virus-detector mereka non-aktifkan. Demi menumpulkan runcingan perselisihan, klaimnya. Pluralis, liberalis dan orang-orang kafir pun banyak mengklaim serupa.

Untuk urusan media sosial, gemar kesana-kemari. Aqidah lintas manhaj dan fiqh lintas madzhab sebagai menu sehari-hari. Kesulitan kemudian meneteskan air mata karena takut pada Allah. Mau membimbing saudara, tetangga dan umat pun tidak bisa. Coba saudara pembaca refleksikan di hidup bertetangga. Ilmu Anda banyak tersimpan di dunia maya. Soal khilafiyyah, perselisihan kelompok di masa kini dan fulan berkata apa allan membantah apa. Tapi, apa yang sudah Anda suguhkan ke tetangga, atau anak istri?

Kolektor ilmu dengan metodologi belajar lintas madzhab dan manhaj. Tidak Anda temukan hidung mereka di majelis ilmu di rumah-rumah Allah. Tapi tanda tangan mereka ditemukan secara riuh di dunia maya. Karena di sanalah kehidupan ‘ilmiah’ mereka. Jika ada kalangan ngaji yang menohok mereka yang belajar di Internet, maka para liberalis ini lebih pantas untuk dielus kepalanya. Bukan untuk diruqyah. Karena takkan kejang-kejang dengannya.

Sebagian pedagang buku tidak tahu isi yang dijual. Yang penting koleksi update. Dapat uang. Loper koran saban hari antar berita yang dia sendiri tak membaca alih-alih memahaminya. Yang penting tawaran korannya update.

Berteman dengan sekadar kolektor ilmu, tidak seperti kolektor prangko; yang mungkin menjiwai prangkonya. Tapi prangko dicari bukan untuk diamalkan. Melainkan ILMU SYAR’I; dicari untuk diamalkan. Dan tidak dicari dari semua pihak. Dicari, maka usahakan sama-sama datang ke majelis ilmiah. Kalau gentar, karena kakinya tertancap di depan laptop. Gurunya adalah semua pembicara. Kitabnya adalah kitab wajah (Face Book). Catatannya adalah copas serampangan. Hasilnya adalah limbah hasil daur ulang. Segala ada di sana.

Ilmu itu pun, jika dicari semata karena ilmu, tak bermanfaat. Yang bermanfaat adalah yang mewariskan suatu kedekatan kepada Allah. Berkata Abu Abdillah ar-Rudzbary:

مَنْ خَرَجَ إِلَى الْعِلْمِ يُرِيدُ الْعِلْمَ لَمْ يَنْفَعْهُ الْعِلْمُ، وَمَنْ خَرَجَ إِلَى الْعِلْمِ يُرِيدُ الْعَمَلَ بِالْعِلْمِ نَفَعَهُ قَلِيلُ الْعِلْمِ

“Barangsiapa keluar menuju (majelis) ilmu, (karena sekadar) menginginkan ilmu, maka ilmunya tak memberinya manfaat. Barangsiapa keluar menuju (majelis) ilmu, (karena) menginginkan amalan terhadap ilmu, maka ilmunya (walau) sedikit akan memberinya manfaat.” [Iqtidha’ al-Ilm al-Amal, al-Khathib al-Baghdady, hal. 31]

Perhatikan. Itu yang ‘keluar’ menuju majelis ilmu saja, tetap belum tentu bermanfaat. Bagaimana dengan kita yang memakukan jemari kaki kita di depan laptop, hilang keberanian untuk datang ke majelis dan beragam kepalsuan lainnya?

Aduhai, ada lilin menerangi sekitar dengan cara membakar diri. Aduhai, ada sendal sedang menjaga orang-orang yang sebenarnya menginjak-injak dirinya.

Oleh Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.org)

(Dibaca 912 kali, 1 untuk hari ini)