TEGAS! Majelis Rakyat Papua Tolak Investor Miras: Silakan Jika Mau Investasi di Papua, tapi yang Baik-baik Saja

Silakan simak ini.

***

TEGAS! Majelis Rakyat Papua Tolak Investor Miras: Silakan Jika Mau Investasi di Papua, Tapi Yang Baik-baik Saja


JAYAPURA – Majelis Rakyat Papua (MRP) secara tegas menolak investasi produksi minuman keras di wilayah tersebut. Hal ini disampaikan sehubungan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang menetapkan Papua sebagai salah satu wilayah tempat minuman keras alias minuman beralkohol boleh diproduksi secara terbuka.

 

“Kami menolak dengan tegas. Jika mau investasi di Papua, silakan, tapi bawa yang baik-baik. Jangan bawa yang membunuh generasi muda Papua,” kata anggota Kelompok Kerja Agama MRP, Dorius Mehue, kepada Republika.co.id, Jumat (26/2/2021). 

 

MRP adalah majelis yang diamanatkan UU Otonomi Khusus Papua dan harus dimintai persetujuannya terkait kebijakan-kebijakan di Papua. Namun, menurut tokoh perempuan Papua itu, pihaknya sama sekali belum diajak bicara soal perpres tersebut.

 

Dorius yang juga ketua Persekutuan Wanita Gereja Kristen Indonesia (PW GKI) Papua menekankan, dampak minuman keras di Papua selama ini sangat merugikan warga. “Pertama, warga minum-minum, kemudian mabuk, dan dari situasi itu muncul banyak kekerasan,” ujarnya.

 
 

Sejauh ini, ia menekankan, pihak-pihak di Papua telah berupaya mengikis persoalan miras ini. MRP juga telah membentuk Koalisi Antimiras guna menanggulangi persoalan yang dipandang serius di Papua tersebut. Sebab itu, ia tak menginginkan upaya-upaya tersebut dikandaskan lagi dengan regulasi yang lebih permisif soal miras di Papua.

 

Ia menyarankan, pemerintah semestinya berupaya membawa investasi yang bisa membangun lapangan kerja di Papua secara positif. “Silakan datang berinvestasi, kami punya banyak sumber daya, tapi investasi yang baik-baik saja,” ujar dia.

 

Ia juga mengingatkan, sejauh ini, Pemprov Papua telah menerbitkan Perda Provinsi Papua Nomor 15 Tahun 2013 tentang Pelarangan Produksi, Pengedaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol. Pada Pasal 6 regulasi itu diatur, “Setiap orang atau badan hukum perdata dilarang memproduksi minuman beralkohol Golongan A, Golongan B, dan Golongan C.”

 

Kemudian pada Pasal 7 diatur, “Setiap orang, kelompok orang, atau badan hukum perdata dilarang memproduksi minuman beralkohol yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan/atau bahan alami serta memproduksi minuman beralkohol dengan cara racikan atau oplosan.” “Peraturan itu yang harus ditegakkan di Papua. Implementasikan pembatasannya yang sekarang belum optimal,” kata Dorius Mehue.

 

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan industri minuman keras sebagai daftar positif investasi (DPI). Padahal sebelumnya, industri minuman beralkohol merupakan bidang insdustri tertutup. 

 

Kebijakan itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Beleid yang merupakan aturan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja ini telah diteken Presiden Joko Widodo dan mulai berlaku per tanggal 2 Februari 2021.

 

Aturan tersebut merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Dalam Lampiran III Perpres Nomor 10/2021 pada angka 31, 32, dan 33 ditetapkan bahwa bidang usaha industri minuman keras mengandung alkohol, alkohol anggur, dan malt terbuka untuk penanaman modal baru di Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya serta kearifan setempat. 

 

(Sumber: Republika)

[PORTAL-ISLAM.ID] Jumat, 26 Februari 2021 BERITA NASIONAL

***

Penguasa Ingkari Dasar Negara ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’?

Kalau penguasa membuka pintu sahnya pabrik arak hingga tuak ini dibiarkan tetap berangsung, dikhawatirkan penentanganya terhadap dasar negara “Ketuhanan Yang Maha Esa” akan lebih berani lagi dan seolah mengundang azab Allah Ta’ala. Misalnya sampai kemudian melegalkan kemusyrikan di mana2, melegalkan perdukunan, santet dan sebagainya. Itu sangat menentang Tuhan Yang Maha Esa. Padahal negaranya jelas berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Tapi manusia yang diberi amanah untuk memimpinnya dan para pembantunya justru seolah memperlihatkan penentangannnya dan keingkarannya.

Semoga laknat Allah untuk para penginkar yang menyulitkan Umat Islam, sebagaimana doa Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam: https://www.nahimunkar.org/bahlatullah-doa-nabi…/


Bahlatullah, Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk Pemimpin yang Menyulitkan Umat Islam

Posted on 21 November 2018

by Nahimunkar.org

Bahlatullah, Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Ummat Islam.

 اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة) 

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi peringatan keras kepada penguasa yang menipu rakyatnya diharamkan dari surga.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidak ada seorang hamba yang Allâh memberikan kekuasaan kepadanya mengurusi rakyat, pada hari dia mati itu dia menipu rakyatnya, kecuali Allâh haramkan surga atasnya.” [HR. Muslim, no. 142]

***

Doa Seorang Dosen Senior di Bandung

“Wa tilka’l ayyamu nudawiluha bainan nas” (hari kejayaan itu dipergilirkan diantara manusia).

“Kejayaan” Pak Jokowi dari Solo ke Jakarta, lalu menjadi Presiden, sudah selesai.
Moga perjalanannya tidak berawal dari got dan berakhir di got pula. (Akhir tulisan ‘Politik Bumi Hangus Jokowi’ Oleh: M Rizal Fadillah

https://www.facebook.com/HartonoAhmadJaiz/posts/1871323459651328?__tn__=K-R )

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 296 kali, 1 untuk hari ini)