Surat Edaran (dari Kemenag mengenai pengaturan pengeras suara di masjid-masjid) ini memberi peluang bagi orang-orang yang membenci syiar Islam dan kaum muslimin dalam hal ini adzan dan kajian Islam untuk memperkarakan penggunaan pengeras suara dalam kegiatan Umat Islam.

Pengaturan yang terlalu rinci dalam persoalan penggunaan pengeras suara membawa dampak kesulitan dalam kegiatan umat Islam.

Inilah beritanya.

***

Tegas, MUI Sumbar Tolak Pengaturan Pengeras Suara Azan

Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar (Riki Chandra/JawaPos.com)/Share this image   

JawaPos.com –Kementerian Agama (Kemenag) RI meminta setiap jajarannya di daerah untuk menyosialisasikan kembali aturan penggunaan suara di setiap masjid. Himbauan tersebut dituangkan Kemenag dalam surat edaran (SE) Dirjen Bimas Islam  Nomor B. 3940/DJ.III/HK.00.07/08/2018 tanggal 24 Agustus 2018 lalu.

Namun, edaran tersebut ditolak tegas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar). “Adzan panggilan ilahi yang membawa ketenangan batin. Sesuai hadits Rasulullah SAW Arihna bi al-shalat ya bilal. Pengaturan itu berdampak pada pembatasan syiar dan akan menyentuh persoalan yang sangat sensitif dalam diri kaum muslimin,” kata Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, Kamis (6/9).

Menurut Buya Gusrizal, pengaturan tentang pengeras suara akan menimbulkan keresahan umat. Sebab, secara tidak langsung, pengaturan penggunaan pengeras suara dengan sendirinya telah membatasi gerakan dakwah dan syiar agama  Islam.

Ketegasan menolak aturan Kemenag itu telah disepakati MUI Sumbar dalam Rapat MUI di Padang pada tanggal 4 September 2018, terkait Masyarakat Islam Nomor B.3940/DJ.III/HK.00.07/08/2018 tentang pelaksanaan instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: KEP/D/101/1978 tentang pengeras suara di masjid, langgar dan musala.

“SE yang sudah tidak berlaku efektif sejak tahun 1978, lalu dimunculkan lagi tahun 2018. Tentu menimbulkan pertanyaan dan gejolak di tengah umat. Makanya, MUI Sumbar sepakat menolak,” katanya. (rcc/JPC)/ jawapos.com

***

Pernyataan Sikap MUI Sumatera Barat

Berikut Pernyataan Sikap MUI Sumatera Barat Terkait dengan Pengaturan penggunaan pengeras suara di mesjid, langgar dan Mushalla.

Berdasarkan Keputusan Rapat MUI Sumatera Barat Padang, pada tanggal 4 September 2018, terkait Masyarakat Islam Nomor B.3940/DJ.III/HK.00.07/08/2018 Tentang Pelaksanaan Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: KEP/D/101/1978 Tentang pengeras Suara Di Mesjid, Langgar dan Mushalla, maka dikemukakan beberapa pertimbangan sebagai berikut:

  1. Bahwa Surat Edaran yang sudah tidak berlaku efektif pada tahun 1978, kemudian dimunculkan lagi pada tahun 2018, menimbulkan pertanyaan dan gejolak di tengah umat.
  2. Surat Edaran ini memberi peluang bagi orang-orang yang membenci syiar Islam dan kaum muslimin dalam hal ini adzan dan kajian Islam untuk memperkarakan penggunaan pengeras suara
    dalam kegiatan mereka.
  3. Pengaturan yang terlalu rinci dalam persoalan penggunaan pengeras suara membawa dampak kesulitan dalam kegiatan umat.
  4. Pengaturan penggunaan pengeras suara dengan sendirinya telah membatasi gerakan dakwah dan syiar agama Islam.
  5. Penggunaan pengeras suara dalam pelaksanaan ibadah umat Islam tidak dapat dikatakan sebagai sikap intoleran terhadap penganut agama lain, sebaliknya penganut agama lain justru seharusnya menghargai umat Islam dalam melaksanakan ibadahnya.
  6. Bagi kaum muslimin adzan merupakan panggilan ilahi yang membawa ketenangan bathin, sebagaimana dalam hadits Rasulullah saw, (Arihna bi al-shalat ya bilal), sehingga pengaturan yang berdampak pada pembatasan syiar ini akan menyentuh persoalan yang sangat sensitif dalam diri kaum muslimin.
  7. Penggunaan dalil-dalil yang dipakai dalam Surat Edaran tersebut tidak pada tempatnya.
  8. Bila ada hal-hal yang kurang tepat dan bisa menimbulkan kerancuan dalam penggunaan pengeras suara, tidak diperlukan pengaturan seperti edaran tersebut, tapi cukup diperbaiki dengan saling mengingatkan sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Berdasarkan pertimbangan di atas maka Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat menyatakan penolakan terhadap Surat Edaran Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Nomor: B.3941/DJ.III/HK.00.7/08/2018 Tentang Pelaksanaan Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: KEP/D/O1/1978 Tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara Di Mesjid, Langgar dan Mushalla.

MUI Sumbar juga menghimbau kepada pihak-pihak terkait untuk mengabaikan peraturan tersebut.

Sumber: muisumbar.or.id

(ameera/arrahmah.com)/ 6/09/2018 15:06

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.408 kali, 1 untuk hari ini)