Tentang Tahlilan

Mochamad Santoso

13 menit  · 



 

Alfan Edogawa

tSpo5o nsohrjeahtmdfm  · 

PERSIAPAN SETAHUN KEMATIAN

Alhamdulillah sudah sampe dikampung halaman tadi sebelum Jumatan, cukup dikagetkan karena persiapan ‘setahun kematian’ mbah sudah mulai hari ini, padahal acaranya masih Ahad malam, saya kira persiapannya masih ahad pagi.

 

Umat memang perlu terus menerus diedukasi tentang ketidak-tepatan perkara ini disebut sebagai Bid’ah Hasanah, minimal dimulai dari diri kita sendiri, yakni memutus tradisi keliru ini dari thabaqat kita. Karena kekeliruan perkara ini sudah diperingatkan oleh para ulama, misalnya (sbg contoh), Kadi Abu Bakr Ath-Thurthusi al-Maliki (w. 520 H), setelah menukil kalam Imam Asy-Syafii, ia berkata:

فأما المأتم، فممنوعة بإجماع العلماء، والمأتم هو الاجتماع على المصيبة، وهو بدعة منكرة، لم ينقل فيه شيء، وكذا ما بعده من الاجتماع في الثاني والثالث والرابع والسابع والشهر والسنة، فهو طامة

“Adapun acara ma’tam, maka itu dilarang berdasarkan ijmak ulama. Ma’tam adalah acara berkumpul atas musibah. Ia adalah bid’ah yang diingkari dan tidak ada penukilan dalam hal ini sedikit pun (dikalangan ulama Salaf Ahlusunah). Demikian pula acara ma’tam pada hari kedua, ketiga, keempat, ketujuh, sebulan, SETAHUN dari kematian. Itu adalah bencana.” [Al-Hawadis wal-Bida’: 130]

 

Ini baru dari segi “berkumpul pada acara kematian” saja sudah dibid’ahkan, adapun jamuan makanan dari keluarga mayit kepada orang² yang berkumpul itu juga dibid’ahkan. Misalnya (sbg contoh), sebagaimana yang diterangkan oleh Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i (w. 676 H):

قال صاحب الشامل وغيره وأما اصلاح أهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة هذا كلام صاحب الشامل ويستدل لهذا بحديث جرير بن عبد الله رضى الله عنه قال “كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياحة” رواه احمد بن حنبل وابن ماجه باسناد صحيح

“Berkata penulis kitab asy-Syamil dan lainnya: ‘Adapun perbuatan keluarga mayit membuat jamuan makanan dan mengumpulkan manusia atasnya, maka tidak pernah dinukil sedikit pun dari ulama Salaf. Acara tersebut adalah bid’ah yang tidak dianjurkan.’ Demikian ucapan penulis Asy-Syamil dan ini berdalilkan pada hadis Jarir bin Abdullah RA bahwa ia berkata: ‘Kami (para sahabat Nabi SAW) menganggap berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat jamuan makan setelah penguburannya termasuk perbuatan meratap mayit (yang tercela).”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad sahih).” [Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab: 5/290]

Saya tahu bahwa dalam ritual Tahlilan yang dilakukan oleh kaum Aswaja “taat” itu ada amalan yang masyru’, seperti mendoakan almarhum/ah. Tetapi mengumpulkan (mengundang) orang² dalam satu majelis, untuk membaca zikir dan sebagian Al-Quran (untuk dihadiahkan pahalanya) serta berdoa bersama², membuat berkat dan/ jamuan makan untuk para undangan, maka ini adalah bid’ah idhafiah, yakni menambah² dalam syariat dari segi cara, bentuk, kaifiat, dll.

Saya jadi teringat statusnya Al-Fadhil Ustadzuna

Hafez Mohamed

Al-Mishri tempo lalu (lihat SS), semoga di Nusantara segera menyusul, amin. Wallahu a’lam…

[https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2760199587565629&id=100007268449111]

Salam Persahabatan,


Alfan Edogawa

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 615 kali, 1 untuk hari ini)