.

Seakan tampaknya Tempo bermain « cantik » dalam membela aliran syiah yang menodai Islam.

Soal syiah menodai Islam itu telah terbukti, Tajul Muluk pentolan Syiah di Sampang telah divonis penjara karena menodai agama, melanggar pasal 156a tentang penodaan agama.

Tajul Muluk sudah divonis 2 tahun penjara oleh PN Sampang pada Juli 2012 lalu. Dia terbukti melanggar pasal 156 a KUHP tentang penodaan agama.

Kemudian Tajul Muluk naik banding, namun justru divonis lebih berat, menjadi 4 tahun penjara.

detiknews membeitakan, Seperti diketahui, Tajul Muluk didakwa telah melakukan penistaan agama sehingga memicu kerusuhan Sampang, Madura pada 2011 lalu. Pada 12 Juli 2012 Pengadilan Negeri (PN) Sampang memvonis dengan hukuman 2 tahun penjara atas dakwaan penodaan agama. Putusan ini diperberat menjadi 4 tahun seiring dengan keluarnya putusan banding Pengadilan Tinggi Surabaya pada 21 September 2012. Atas vonis banding ini, Tajul Muluk mengajukan kasasi dan kandas. (Kamis, 14/02/2013 10:52 WIB  Kasasi Ditolak, Pemimpin Syiah Tetap Divonis 4 Tahun karena Nodai Agama / Andi Saputra – detikNews).

Syiah galau

Seperti diberitakan sebelumnya, Tajul Muluk, pemimpin kelompok Syiah di Sampang, Madura mengajukan permohonan uji materi Pasal 156 (a) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) jo Pasal 4 Undang-Undang Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Dalam sidang panel pemeriksaan pendahuluan di Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jumat (14/9/2012), ternyata Tajul Muluk tidak sendirian mengajukan permohonan uji materi. Salah satu pimpinan Syiah di Indonesia itu mengajukan permohonan bersama ketiga rekannya masing-masing Hassan Alaydrus, Ahmad Hidayat, dan Umar Sahab.

Iqbal Tawakkal Pasaribu, kuasa hukum pemohon, mengungkapkan, permohonan yang diajukan Tajul Muluk meminta agar MK memberikan penafsiran mengenai Pasal 156 a KUHP jo Pasal 4 UU PNPS.

Pasal 156a KUHP berbunyi, “Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bcrsifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Pasal ini dinilai cukup ampuh dalam memberantas aliran sesat seperti Syiah yang dibawa Tajul Muluk yang dikenakan pasal penodaan agama ini, sebelumnya juga ada aliran Ahmadiyah, penganut ateisme di Sumatera Barat dan juga pemimpin kelompok Kerajaan Tuhan, Lia Eden, serta sejumlah orang lainnya juga pernah dikenakan pasal penodaan agama.

Dengan ditolaknya kasasi oleh MA, tokoh Syiah Sampang-Madura, Tajul Muluk harus gigit jari dan menerima kenyataan, ia tetap harus mendekam selama 4 tahun penjara karena menodai agama. Bukti, Syiah adalah ajaran sesat dan tak berbeda dengan aliran sesat lainnya, sama-sama menodai agama.

– See more at: https://www.nahimunkar.org/kasasi-tajul-muluk-ditolak-ma-bukti-ajaran-syiah-menodai-agama/#sthash.M4hYWRPM.MWAPrAty.dpuf

Meskipun sudah terbukti pentolan syiah divonis penjara 4 tahun karena menodai agama, namun tampaknya media Tempo seolah “bermain cantik” untuk membela syiah. Dan ternyata baunya tercium juga.

Berikut ini berita Tempo yang bernada membela syiah.

***

JUM’AT, 20 DESEMBER 2013 | 03:41 WIB

Muhammadiyah dan NU Tolak MUI Fatwakan Sesat Syiah

TEMPO.COJakarta – Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Muthi menolak adanya fatwa sesat terhadap Syiah dari lembaga keagamaan mana pun di Indonesia, termasuk Majelis Ulama Indonesia. Menurut dia, fatwa sesat dari MUI di sejumlah daerah, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, terbukti menjadi alat melegitimasikan kekerasan terhadap pengikut Syiah dan memicu konflik horizontal antar umat Islam. “Fatwa dari mana pun harus tidak untuk mengkafirkan dan menyesatkan,” ujar Muthi kepadaTempo, Kamis, 19 Desember 2013.

Muthi menanggapi desakan Front Jihad Islam (FJI) yang mendesak MUI DIY mengeluarkan fatwa sesat terhadap aliran Syiah di Yogyakarta. FJI mengklaim mencatat 10 organisasi berhaluan Syiah di DIY. (Baca: Front Jihad Desak MUI Yogya Nyatakan Syiah Sesat)

Menurut Muthi, fatwa sesat itu berpotensi besar menimbulkan persoalan kebangsaan serius di Indonesia. Lembaga seperti MUI di daerah mana pun sebaiknya tidak lagi mengeluarkan fatwa penyesatan, khususnya untuk Syiah. Alasannya, hal itu memperbesar konflik antar umat Islam. “Umat Islam sudah mengalami banyak situasi sulit dan persoalan, jangan ditambah dengan masalah-masalah seperti ini,” ujar dia.

Dia menyarankan MUI Pusat maupun daerah menghindari fatwa semacam pengadil kebenaran atau kesesatan akidah dan keyakinan setiap kelompok Umat Islam mana pun. Sebaliknya, dia menambahkan, MUI mengambil posisi tegas untuk memediasi perbedaan dan pertentangan pendapat antar organisasi Islam di Indonesia. “MUI harus berperan sebagai pemersatu umat Islam,” kata Muthi.

Muthi tidak sepakat dengan pendapat FJI mengenai salah satu alasan desakannya, yakni buku terbitan MUI Pusat yang berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia. Menurut dia, buku itu keluar justru sebagai pernyataan sikap MUI Pusat untuk menolak memberikan fatwa penyesatan ke Syiah Indonesia. “Umat Islam harus bisa memberikan sumbangan konstruktif untuk Indonesia,” kata dia.

Sikap serupa muncul dari Pengurus Wilayah NU Daerah Istimewa Yogyakarta. Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta, KH. Asyhari Abta, menyatakan MUI DIY tidak perlu menggubris permintaan FJI. Kyai dari Pesantren Yayasan Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta ini menganggap fatwa sesat malah bisa memicu konflik antar kelompok berbeda paham agama. “Bisa memperuncing perbedaan dan memicu tabrakan antar kelompok,” ujar dia.

Asyhari mengatakan, sekalipun MUI DIY menemukan ada indikasi penyimpangan upaya maksimal hanya perlu dilakukan dengan dialog dan nasihat. Penyesatan pada ajaran malah bisa mendorong tudingan sesat ke kelompok-kelompok lain. “Sesat atau tidak sesat itu keputusannya di Allah Subhanahu Wataala,” ujar dia.

ADDI MAWAHIBUN IDHOM

http://www.tempo.co/read/news/2013/12/20/173538851

***

Berita tersebut untuk menanggapi berita sebelumnya tentang desakan terhadap MUI Yogyakarta untuk memfatwakan sesatnya syiah. Inilah beritanya.

***

KAMIS, 19 DESEMBER 2013 | 18:21 WIB

Front Jihad Desak MUI Yogya Nyatakan Syiah Sesat

 

Sejumlah santri membawa spanduk dalam Istighosah penolakan aliran Syiah di alun alun Wijaya Kusuma, Sampang, Madura, (20/6). Mereka menolak keberadaan warga Syiah yang tinggal di pengungsian di Madura. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.COYogyakarta – Belakangan ini di Yogyakarta banyak ditemukan poster yang ditempelkan di dinding kota bertulis pernyataan bahwa Syiah merupakan ajaran sesat. Bahkan belasan anggota Front Jihad Islam (FJI) mendatangi kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mendesak MUI DIY mengeluarkan fatwa sesat bagi kelompok Syiah, Kamis, 19 Desember 2013.

“Syiah itu menyesatkan akidah umat Islam karena mengkafirkan tiga khalifah setelah nabi,” ujar Wakil Ketua Umum FJI, Muhamad Ganis Rustiawan.

Muhammad menyerahkan surat resmi FJI berisi desakan organisasi itu agar MUI DIY segera menerbitkan fatwa aliran sesat terhadap semua organisasi Syiah di DIY. Mereka juga meminta MUI DIY menyerukan penutupan semua kegiatan kelompok Syiah di DIY.

Menurut Muhammad, Front juga meyakini gerakan Syiah di Indonesia membawa misi untuk mendorong revolusi seperti di Iran, saat Imam Khomeini memimpin gerakan menjatuhkan rezim Syah Reza Pahlevi pada akhir 1970-an. Dia menilai ancaman itu merupakan bahaya laten seperti ancaman komunis pada 1965. “Bahaya latennya jelas,” kata dia.

Muhammad menjelaskan, surat itu merupakan permintaan kedua yang dikirim oleh Front ke MUI DIY. Surat pertama, bertanggal 26 November 2013, dikirim sepekan lalu. Dia mengatakan, salah satu alasan organisasinya meminta MUI DIY menerbitkan fatwa itu karena sudah ada fatwa yang sama oleh MUI Jawa Timur.

Selain itu, MUI Pusat telah menerbitkan buku berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia pada November 2013. Buku ini didiskusikan di Masjid UGM bersamaan dengan Deklarasi Masyarakat Pecinta Sunnah Yogyakarta pada Ahad, 15 Desember lalu. Salah satu pimpinan MUI Pusat, Yunahar Ilyas, dan Bupati Sleman Sri Purnomo datang ke acara itu.

Adapun Sekretaris MUI DIY, Akhmad Mukhsin Kamaludinningrat, menolak secara halus desakan itu. Menurut dia, upaya MUI sudah maksimal dengan menerbitkan buku mengenai Syiah (Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia). “Itu sudah cukup,” kata dia.

Akhmad mengatakan, MUI harus mendorong munculnya kerukunan antar-umat agama dan beragam aliran. Apalagi, kemajemukan merupakan realitas masyarakat di DIY. “MUI sikapnya jelas, berusaha mengingatkan (Syiah) lewat dakwah dengan cara menyampaikan hikmah, pesan kebaikan, pendidikan, dan dialog,” ujar dia.

ADDI MAWAHIBUN IDHOM

http://www.tempo.co/read/news/2013/12/19/058538791/Front-Jihad-Desak-MUI-Yogya-Nyatakan-Syiah-Sesat

***

Tenggapan dari Sebuah Situs Islam.

Setelah Tempo membuat berita tanggapan atas desakan terhadap MUI Yogyakarta untuk memfatwakan sesatnya syiah, maka ada tanggapan terhadap Tempo.

Berikut ini tanggapan singkat terhadap Tempo dari sebuah situs Islam di Jakarta, di bawah naungan Perhimpunan Al-Isryad. Selamat menyimak.

***

 

Muhammadiyah dan NU Tolak MUI Fatwakan Sesat Syiah ?

Jakarta (Gema Islam) – Jum’at (20/12 2013), tempo.co, melansir sebuah berita dengan judul “Muhammadiyah dan NU Tolak MUI Fatwakan Sesat Syiah”. (http://www.tempo.co/read/news/2013/12/20/173538851/Muhammadiyah-dan-NU-Tolak-MUI-Fatwakan-Sesat-Syiah)

Diberitakan di dalamnya bahwa salah seorang tokoh Muhammadiyah, Abdul Muthi, yang merupakan Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah menolak adanya fatwa sesat terhadap Syiah dari lembaga keagamaan mana pun di Indonesia, termasuk Majelis Ulama Indonesia. Dan selanjutnya tempo.co menyitir perkataan Abdul Muthi bahwa fatwa dari mana pun harus tidak untuk mengkafirkan dan menyesatkan.

Selain itu, dalam berita tersebut disebutkan juga pernyataan serupa dari salah satu pengurus Pimpinan Wilayah NU Yogyakarta, KH. Asyari Abta. Abta menyebutkan bahwa fatwa seperti ini bisa memperuncing perbedaan dan memicu tabrakan antar kelompok. Dan “sesat atau tidak sesat itu keputusannya di Allah Subhanahu Wataala,” ujar dia.

Berikut beberapa  catatan dari kami untuk berita tersebut :

[1] Addi Mawahibun Idhom, reporter berita tersebut, memberikan sebuah judul berita yang bersifat kesimpulan, yaitu “Muhammadiyah dan NU Tolak MUI Fatwakan Sesat Syiah”. Padahal dalam berita yang berisi 7 paragraf tersebut tidak ada satu indikasipun bahwa Muhammadiyah dan NU menolak MUI fatwakan sesat syi’ah. Karena kedua tokoh yang menjadi sumber beritanya hanyalah individu yang ‘kebetulan’ memiliki kedudukan di dua ormas tersebut.

[2] Berita tersebut sangat beraromakan pembelaan terhadap kelompok syi’ah. Karena berita tersebut diakhiri dengan penggalan pernyataan KH. Asyari Abta, “sesat atau tidak sesat itu keputusannya di Allah Subhanahu Wataala”.

[3] Pemberiaan judul seperti itu, jelas sangat bertentangan dengan kenyataan yang ada. Karena mayoritas para tokoh Muhammadiyah dan NU telah memfatwakan sesat syi’ah.

[4] Jadi teringat dengan pemberitaan di media lain beberapa bulan yang lalu, yang menyebutkan bahwa MUI menganggap syi’ah tidak sesat, berdasarkan pernyataan salah seorang yang memiliki kedudukan di MUI, Umar Shihab.

[5] Pemberitaan seperti ini jelas merupakan akal-akalan (baca : makar) media sekuler dalam memutar balikkan fakta, dan menggiring opini masyarakat pada pengkaburan aqidah dan keyakinan ummat Islam.

[6] Kaum muslimin hendaknya waspada terhadap pemberitaan-pemberitaan semacam ini, terlebih yang ditulis di media-media sekuler. (Aminullah Yasin/ZB) Written by Admin Gema 21 des 2013

– See more at: http://www.gemaislam.com/rubrik/aktualita/1759-muhammadiyah-dan-nu-tolak-mui-fatwakan-sesat-syiah#sthash.vmrofBC2.dpuf

***

Berseberangan dengan Islam karena berbau Yahudi

Soal membela kesesatan tampaknya Tempo memang jagonya. Bahkan perkosaan pun Tempo bela. Hingga Sitok Srengenge penyair bejat yang dilaporkan memperkosa bukan hanya satu mahasiswi pun dibela Tempo. Hingga muncul kritikan “nyaman” berjudul 9 Dosa Tempo dalam Kasus Sitok Srengenge https://www.nahimunkar.org/9-dosa-tempo-dalam-kasus-sitok-srengenge/

Dosa membela kebejatan moral seperti perkosaan tidak akan dilakukan kecuali oleh pihak yang berseberangan dengan Islam dan tak bermoral. Bagaimana tidak berseberangan dengan Islam, lha wong bos Tempo, Goenawan Mohamad, adalah orang yang telah mendapatkan penghargaan jurnalisme ala Israel. Hingga ada penghargaan ‘Dan David Prize’ oleh Tel Aviv University kepada Goenawan Mohammad.
Seperti dilaporkan sejumlah media massa di Jakarta, pemberian penghargaan yang dilakukan oleh Universitas Tel Aviv (TAU) itu didasarkan kepada aktivitas Goenawan selama 30 tahun terakhir yang memperjuangkan kebebasan pers dan jurnalisme yang independen di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia. ( http://www.dandavidprize.com/ )
Seperti telah diberitakan harian lokal Israel, “Haaretz”, edisi 18 April (2006) lalu, Goenawan Mohamad akan menerima hadiah uang senilai 250 ribu dolar AS (sekitar Rp 2,3 milyar). – See more at: https://www.nahimunkar.org/duh-cerobohnya-orang-akkbb/#sthash.0WumuKqG.dpuf

Dalam kasus syiah yang jadi pembicaraan ini, bagaimana Tempo tidak membela syiah, lha wong bos Tempo, Goenawan Mohamad, telah makan duit dari Yahudi, sedangkan syiah adalah agama ciptaan orang Yahudi Abdullah bin Saba’ .

Kita tinggal kembali merujuk kepada Al-Qur’an bahwa yang paling memusuhi orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin.

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS Al-Maaidah/ 5: 82).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.196 kali, 1 untuk hari ini)