Terhimpit Kezaliman, Betapa Banyak Derita di Depan Mata, Betapa Banyak Peluang untuk Beramal

 


 

Betapa banyak derita di depan mata kita.

Ada yang kesulitan untuk makan.

Ada yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan.

Ada yang dizalimi hak-haknya.

Ada yang dihina agamanya.

Ada yang dibunuh karakternya karena penampilannya good looking, taat dalam menjalani Islam dengan baik dan istiqomah.

Ada yang dizalimi dengan dipersulit untuk menegakkan syariah Islam dalam kehidupan demi meraih akherat yang bahagia dan selamat dari neraka.

Ada yang jomblo kesulitan untuk menikah.

Dan seribu satu macam keadaan sulit di depan mata kita.

Semua itu, adakah yang sudah kita ikut cawe2 memperhatikan, lalu melepaskan salah satu penderitaan di depan mata kita itu?

Ataukah justru kita ikut menambah derita mereka?

Entah sikap kita yang cuwek tak peduli

Atau bahkan lebih dari itu, misalnya memberikan dukungan agar yang zalim lebih sadis lagi dalam kezalimannya?

Atau bahkan bagian dari mesin itu sendiri, baik mengenai urusan dunia maupun bahkan kezaliman terhadap agama Islam dan Umat Islam?

Atau justru hanya melirik dan bagian dari yang melirik kantong2 saku umat Islam?

Ingat, harta Umat Islam itu haram untuk diambil tanpa haq (tanpa syar’i, sesuai kebolehan syari’at).

Telah ada dalam kaidah yang terkenal dengan ad-doruriyyatul khams (Lima Kebutuhan Penting yang Harus Dijaga oleh Kaum Muslimin) :

Dharuriyyatul-Khams yang dimaksudkan, yaitu
حفظ الدين، حفظ النفس، حفظ العقل، حفظ النسب، حفظ المال

meliputi penjagaan terhadap:

1.    Din (agama),

2.    Jiwa

3.    Keturunan

4.    Akal, dan

5.    Harta.

Seluruhnya itu wajib dijaga, dilindungi. Apabila seseorang tidak menjaga dirinya mengenai 5 hal tersebut, maka berarti menzalimi dirinya sendiri, dan mendapatkan dosa, bahkan hukuman di dunia selain di akherat. Lebih2 kezaliman orang lain terhadap orang yang dizalimi. Maka si zalim itu sama dengan zalim ganda. Tingkah zalimnya itu menzalimi orang lain, dan hakekatnya juga menzalimi diri sendiri, yang akibat hukuman dan dosanya akan diderita di dunia dan akherat.

Seringkali di dunia ini kezaliman itu tidak ditegakkan hukumnya, hingga merajalela kezaliman, dan korbannya pun banyak.

Misal pemiskinan, suatu kezaliman yang mengakibatkan orang menjadi miskin, dan kemiskinan tambah banyak.

Petunjuk dari Hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam

HR. Bukhari: 2264 – Tentang Tolonglah Saudaramu

Tolonglah saudaramu saat ia terzalimi!

 

Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 2264

 

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

 

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah bersabda:

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.

Mereka bertanya:

Wahai Rasulullah , jelas kami faham menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zalim?

Beliau bersabda:

Pegang tangannya (hentikan ia agar tidak berbuat zalim). (HR Al-Bukhari 2264).

Pesan hadits yang disampaikan:

1. Kewajiban seorang muslim untuk menolong saudaranya yang muslim saat ia dizalimi.

2. Kewajiban seorang muslim untuk menolong saudaranya yang muslim saat ia zalim, yaitu dengan menghentikannya agar tidak berbuat zalim.

3. Anjuran untuk peduli terhadap lingkungan sekitar dan tidak diam saja ketika melihat adanya kezaliman./ risalahmuslim.id

***

Upaya penyelamatan dari kezaliman

Ketika kezaliman berlangsung, (bahkan bisa2 korbannya pun banyak). Ada perintah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menolong muslim yang dizalimi, dan menghentikan pihak yang berbuat zalim.

Sudah kah kita mengerjakan perintah itu?

Yang miskin (baik karena kondisi mereka sendiri maupun karena dizalimi) di sekitar kita banyak. Sudahkah kita menyantuninya?

Yang menzalimi mungkin kita tahu, sudahkah kita berupaya untuk menghentikannya?

Bila mampu menghentikan satu kezaliman saja, ketika korbannya hanya satu, dan yang zalim hanya satu, maka berarti telah mengakibatkan selamatnya dua orang. Yang dizalimi sudah terlepaskan, sedang yang menzalimi sudah menghentikan kezalimannya. Betapa banyak yang akan terselamatkan bila mampu menghentikan kezaliman yang korbannya banyak, bahkan sangat banyak, bahkan jutaan, puluhn juta, bahkan ratusan juta?

Betapa banyak yang akan terselamatkan, bila kita mampu menghentikan kezaliman itu. Berarti kita telah berupaya melepaskan kesulitan sekian banyak orang yang menderita. Dan hal itu ada janji yang menyenangkan di akherat kelak.

Silakan simak hadits berikut ini.

***

Petunjuk dalam hadits

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebtu menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

  • Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang maknanya), “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.”

Karena balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. Hadits-hadits tentang masalah ini banyak sekali, misalnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِنَّـمَـا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

Sesungguhnya Allâh menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang [Shahih: HR. Bukhâri (no. 1284), Muslim (no. 923), Abu Dâwud (no. 3125), dan lainnya dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu].

Al–Kurbah (kesempitan) ialah beban berat yang mengakibatkan seseorang sangat menderita dan sedih. Meringankan (at-tanfîs) maksudnya berupaya meringankan beban tersebut dari penderita. Sedangkan at-tafrîj (upaya melepaskan) dengan cara menghilangkan beban penderitaan dari penderita sehingga kesedihan dan kesusahannya sirna. Balasan bagi yang meringankan beban orang lain ialah Allâh akan meringankan kesulitannya. Dan balasan menghilangkan kesulitan adalah Allâh akan menghilangkan kesulitannya.[Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (II/286)]

Seorang Muslim hendaknya berupaya untuk membantu Muslim lainnya. Membantu bisa dengan ilmu, harta, bimbingan, nasehat, saran yang baik, dengan tenaga dan lainnya.

Seorang Muslim hendaknya berupaya menghilangkan kesulitan atau penderitaan Muslim lainnya. Bila seorang Muslim membantu Muslim lainnya dengan ikhlas, maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan balasan terbaik yaitu dilepaskan dari kesulitan terbesar dan terberat yaitu kesulitan pada hari Kiamat. Oleh karena itu, seorang Muslim mestinya tidak bosan membantu sesama Muslim. Semoga Allâh Azza wa Jalla akan menghilangkan kesulitan kita pada hari Kiamat./ https://assunnah-qatar.com/

***

Betapa banyak lahan kebaikan di depan mata kita

Betapa banyak lahan kebaikan di depan mata kita, berkaitan dengan perlunya menolong untuk melepaskan kesulitan Umat Islam.

Ketika diri kita sendiri bukan orang yang mampu menolong dengan harta, misalnya, maka nasihat yang baik, yang memberikan kesejukan, kesenangan, bahkan jalan keluar, misalnya, maka hal semacam itu pun insyaAllah terhitung suatu kebaikan dan berpahala.

Bagi yang punya ilmu, kewibawaan, kekuatan, dan semacamnya yang bisa digunakan untuk menghentikan kezaliman agar orang yang zalim itu sendiri selamat, dan sekian banyak korban pun selamat, maka betapa mulianya bila bertandang untuk menghentikan kezaliman itu.

Kadang kezaliman tidak bisa dihadapi ataupun dihentikan oleh pribadi, sekelompok kecil orang, bahkan sejumlah besar orang pun belum tentu bisa mengatasinya. Ketika seperti itu, maka perlu kebersamaan dengan pengarahan orang2 yang berilmu dan sholeh yang memiliki jiwa kepedulian tinggi. Bagaimanapun, Allah tetap akan menolong hambaNya apabila hamba itu menolong saudaranya.

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebtu menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

Apabila masyarakat Muslim saling tolong menolong, maka Allah akan menolong masyarakat Muslim tersebut.

Dakwah menyelamatkan aqidah adalah pertolongan yang sangat penting, jangan ditolak

Di antara bentuk pertolongan terhadap sesama Muslim adalah memberikan petunjuk, nasihat agar menghindari kemusyrikan, bid’ah, maksiat, kezaliman dan aneka pelanggaran. Jadilah Muslim yang taat, shalat berjamaah ke masjid (bagi laki2 yang sehat dan tidak berhalangan seperti sakit, safar dsb), jangan mengada-dakan acara ibadah yang tidak syar’i dan sebagainya.

Jangan dikira bentuk petunjuk, nasihat dan peringatan2 seperti itu merupakan celaan hingga dibalas dengan mangar2 mencak2 dan semacamnya hingga justru pengajiannya ditolak, dibubarkan, didemo dan semacamnya, yang tingkah semacam itu justru merupakan penolakan terhadap kebenaran yang dalam hadits disebut sebagai kesombongan.

Jangan pula mendemo orang yang menasihati kebenaran itu dikilahi dengan stigma buruk misalnya dilontarkanlah ucapan bahwa itu memecah belah umat, tidak menjaga persatuan dan kesatuan… dan aneka dalih yang dibuat-buat, padahal itu hanya untuk menolak kebenaran.

Sebenarnya, pertolongan dan penyelamatan yang paling utama dan pertama adalah mengenai selamatnya akidah dari kezaliman kemusyrikan dan kemaksiatan. Karena bila akidahnya (keyakinannya) tidak selamat, masih tercampur kemusyrikan dan penyelewengan2, maka dikhawatirkan tidak selamat di akherat. Sehingga tugas para Rasul ‘alaihimussalam adalah menyelamatkan manusia dari aqidah yang tidak benar, untuk beraqidah yang benar, bertauhid, menyembah hanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syari’at yang diturunkan kepada rasulNya.

Nah, di masa sesulit apapun, penyelamatan aqidah itu tetap menjadi prioritas utama, sebab selamatnya aqidah itu berdampak di dunia maupun akherat.

Oleh karena itu di saat kezaliman merajalela, korban-korbannya pun ada di mana-mana, maka kezaliman itu perlu diatasi, korban2 kezaliman diselamatkan, yang zalim diupayakan untuk dihentikan, dan da’wah untuk menunjuki aqidah yang benar lagi selamat harus tetap ditegakkan. Karena penyelamatan aqidah itu justru solusi dari adanya kezaliman, dan solusi dari ancaman siksa di akherat. Ketika aqidahnya benar, maka walau dizalimi, tetap akan selamat di akherat, dan insyaAllah di dunia juga ditolong Allah Ta’ala. Karena orang yang aqidahnya selamat/ benar itulah yang bisa mencapai derajat taqwa. Sedangkan orang yang bertaqwa maka akan diberi jalan keluar oleh Allah Ta’ala.

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (4) ذَلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا } [الطلاق: 4، 5]

Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. [At Talaq:4]

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. [At Talaq:5]

 

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا} [الطلاق: 2، 3]

 

… Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. [At Talaq:2]

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. [At Talaq:3]

 

Pertolongan Allah akan diberikan bila…

Keadaan dengan aneka kesulitan masyarakat muslim seperti digambarkan di atas, semua itu merupakan lahan kebaikan, lahan amal yang sangat luas, kesempatan yang sangat luas untuk memperbaiki diri dan menolong sesama Muslim. Apabila masyarakat Islamnya telah bersedia dan berjibaku memperbaiki diri dan mau diperbaiki aqidahnya agar selamat dunia akherat, sedang para penolong yang menyelamatkan aqiah itu tetap bertandang, maka insyaAllah janji tersebut (yaitu pertolongan Allah akan diberikan) itu akan terwujud.

Tinggal bagaimana sikap dan kemauan Umat Islam ini dalam menyikapi petunjuk yang benar dari Allah Ta’ala yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang diteruskan oleh para ulama dan da’i yang tsiqqah sholeh good looking menyenangkan lagi benar aqidahnya. Menerima dengan sami’naa wa atha’naa (kami dengar dan kami patuhi), atau sebaliknya justru menolak dan memfitnah dengan aneka dalih demi membela kemunkaran dan menolak kebenaran.

Bila Umat Islam menerima kebenaran dan mengamalkannya dengan baik, insyaAllah jadi manusia-manusia yang taqwa. Dan itu ada janji menyenangkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekaligus ancaman untuk sebaliknya.

{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [الأعراف: 96]

96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [Al A’raf:96]

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufiqNya kepada siapapun yang cenderung kepada kebenaran serta menolak kebatilan dan kezaliman. Dan semoga para pengusung kebatilan dan kezaliman, serta pendukung2nya menyadari kekeliruannya hingga menghentikan kezalimannya dan kebatilannya, hingga tidak menjadi penyakit kehidupan di dunia ini yang akan menyeretnya ke azab yang pedih di dunia maupun di akherat kelak.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

 

Ilustrasi. Tepat Bersikap terhadap Orang Lain yang Kita Bantu/ foto islamindonesia.id

 

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 135 kali, 1 untuk hari ini)