Al-Qur'an Mushaf Al-Kaffah_823562384275

Ilustrasi: pustaka-elba.blogspot.com

  • Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Tegal ini perlu direvisi dan ditashih Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an Kementerian Agama RI, baik dari sisi tata tulis maupun substansi, bacaan dan dzauq-nya.

KOMUNITAS Mahasiswa Tegal yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Komisariat IAIN Walisongo Semarang  meluncurkan terjemah Al Qur’an bahasa Tegal sekaligus memberikan santunan kepada anak yatim piatu di Perum Pondok Hijau Semarang, kemarin, seperti dilansir situs resmi IAIN Walisongo.

Ketua Panitia, Gus Fahmi mengatakan, kegiatan tersebut dapat berlangsung sangat meriah karena keberhasilan IMT dalam menjalin kerja sama kegiatan dengan Keluarga Besar Perum Pondok Hijau.

Kegiatan dihadiri lurah bersama perangkat desa Pondok Hijau dan Wates, Yayasan Darul Ulum, serta dimeriahkan oleh Rebana Al-Imtaq.

Ketua Umum IMT IAIN Walisongo Winahto Adha menyampaikan, bahwa usaha temen-temen IMT untuk menerjemahkan al-Qur’an merupakan sumbangan nyata keluarga besar IMT untuk masyarakat Tegal. Tujuannya yaitu syi’ar islam, membumikan al-Qur’an sekaligus bahasa tegal.

Aji Sofanudin menambahkan, terjemahan Al-Qur’an Bahasa Tegal ini perlu direvisi dan ditashih Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an Kementerian Agama RI, baik dari sisi tata tulis maupun substansi, bacaan dan dzauq-nya.

“Saran saya perlu dibuatkan forum, kalau dalam bahasa research itu semacam FGD,focus group discussion, kelompok diskusi terfokus atau disukusi kecil yang menghadirkan para pakar; pakar al-Qur’an dan sekaligus pakar bahasa Tegal,” tandasnya.

IMT perlu menghadirkan KH Karim Assalawy, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Mangkang yang asli Tegal. Beliau adalah ketua MUI Kota Semarang dan juga ketua FKUB Kota Semarang, Prof Dr KH Abu Su’ud, mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah dan Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), beliau berasal juga dari Tegal, Prof Dr H Gunarto, Pembantu Rektor II Unisula dan lain sebagainya untuk mendiskusikan secara intensif substansi terjemahan. (Pz/Islampos) By Pizaro on December 13, 2012

***

Al-Qur’an Bahasa Tegal

Oleh Aji Sofanudin

Kedudukan Al-Qur’an bagi seorang muslim adalah sentral. Ia adalah norma yang menjadi petunjuk segala gerak dan aktivitas seorang muslim. Memahami dan mengamalkan al-Qur’an adalah kewajiban setelah kita bisa membacanya. Mafhum bahwa bahasa Al-Qur’an adalah bahasa Arab, yang tidak semua orang Indonesia memahami bahasa Al-Qur’an tersebut. Oleh karena itulah, maka Departemen Agama (Kementerian Agama RI) telah menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa Indonesia dengan harapan bisa dipahami oleh muslim Indonesia. Pengendalian (kontrol) penerjemahan Al-Qur’an saat ini ditangani oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Tugas membumikan al-Qur’an bukanlah semata-mata tugas kementerian agama. Usaha membumikan Al-Qur’an adalah usaha bersama seluruh umat yang peduli dan cinta terhadap agamanya. Ada banyak cara untuk menunjukkan cara kita cinta kepada agama kita. Salah satunya adalah dengan kita menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa kita. Penerjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Daerah sangat mungkin  untuk dijadikan proyek nasional. Maklum bahwa bangsa kita terdiri atas beratus-ratus bahasa. Konon, sudah ada al-Qur’an dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan sebagainya.

Ketika berbicara bahasa Jawa, maka pikiran kita tentu adalah Jawa Kromo, terutama yang lazim digunakan di Solo dan Jogjakarta. Mafhum bahwa pusat-pusat kerajaan zaman dahulu adalah derah tersebut. Bahkan sampai sekarang pun di Jogja masih ada Sultan Yogyakarta dan di Surakarta juga masih berdiri kasunanan. Meskipun realitasnya, tidak semua jawa menggunakan bahasa Solo dan Jogja tersebut. Bahkan, tidak sedikit yang tidak paham bahasa tersebut. Pengalaman saya sendiri, ketika di SD adalah pelajaran Bahasa Daerah dan yang diajarkan adalah bahasa Solo/Jogja, dalam benak saya ada jarak yang sangat jauh antara di sekolah dengan realitas keseharian. Sulit sekali memahami pelajaran bahasa daerah. Beda dengan bahasa keseharian saya bahasa Tegal.

Sebagai orang yang lahir di Tegal dan memilih pasangan hidup juga dari Tegal serta bahkan menikah pun kebetulan berbarengan dengan HUT Kota Tegal (12 April), demikian juga anak-anak pun dilahirkan di Tegal, ada perasaan kuat bahwa saya adalah orang Tegal. Meskipun separuh perjalanan hidup saya telah saya habiskan di Semarang, perasaan sebagai orang Tegal tidak pernah luntur. Oleh karena itu, saya berpikiran apa yang bisa saya sumbangkan untuk Tegal. Saya bukan pejabat, yang bisa menggelontorkan program, saya juga bukan anggota Dewan yang bisa mengusulkan perbaikan2 tertentu. Saya adalah peneliti, yang tentu dari sisi finansial sulit untuk membangun Tegal dengan kekuatan uang.

Tapi saya punya pikiran, punya kesehatan, punya kesempatan, dan insya Allah juga kemampuan. Saya alumni IAIN tentu disiplin saya adalah tentang keislaman. Meskipun disadari bahwa ilmu agama saya pas-pasan. Tapi yang pas-pas an bukan berarti tidak bisa menyumbangkan sesuatu. Salah satu yang paling memungkinkan adalah menerjemahkan al-Qur’an dalam bahasa Tegal. Ini saya anggap paling penting, karena kedudukan al-Qur’an adalah sentral bagi muslim, demikian juga bahasa Tegal adalah bahasa yang hidup dan dipergunakan oleh 1,5 Juta penduduk kabupaten saja. Belum lagi kota Tegal, Brebes, Pemalang, Purwokerto, Cilacap, Banyumas, dan sebagainya yang memiliki kemiripan-kemiripan. Tapi karena saya orang Tegal, tentu pilihan saya jatuh pada bahasa Tegal.

Ada pikiran untuk mengembangkan Martabak, Warteg, Teh Poci, dan sebagainya. Tapi saya kira itu untuk waktu-waktu yang akan datang saja. Jika ada kesempatan bisa juga, meskipun hal tersebut agak jauh dari aktivitas saya sebagai peneliti. Sebagai peneliti agama saya berkepentingan untuk memahami realitas kebudayaan tertentu, tanpa kecuali budaya saya sendiri.

Tempat tinggal saya tidak jauh dari sumber pengetahuan dan pengamalan Islam Jawa Tengah yakni IAIN Walisongo Semarang. Demikian juga kehidupan rumah tangga saya semuanya orang Tegal. Jadi menerjemahkan al-Qur’an insya Allah tidak menjadi kendala. Apalagi jika kemudian temen2 yang merasa orang Tegal concern terhadap persoalan ini. Tentu aktivitas ini akan menyenangkan. Andai misalnya, Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) mempelopori ini sebagai salah satu program kegiatan, tentu akan banyak sekali manfaatnya. Selain menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa Tegal, juga insya Allah akan mendapat pahala dengan kita mempelajarinya. Acara kumpul2 IMT juga menjadi lebih gayeng jika di setiap dada orang Tegal, ada keinginan untuk memahami al-Qur’an melalui bahasa Tegal. Tentu kegiatan2 lain yang telah diprogramkan juga harus dijalankan.

Wallahu’alam

Indonesia, 25 April 2012

ISLAMIC RESEARCH / http://ajisofanudin.blogspot.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 636 kali, 1 untuk hari ini)