Jailani dan keluarganya ketika dievakuasi oleh aparat keamanan.

ACEHTREND.CO. Banda Aceh- Pengusiran dan upaya pembatalah berdirinya Yayasan At Tamassuk Bissunnah yang dipimpin oleh Ustad Abdul Qadir Jailani di Gampong Lam Awee, Peukan Bada, Aceh Besar pada Selasa (29/3/2016) terus menuai berita baru. Sang pimpinan yayasan membantah semua tudingan yang diarahkan kepadanya.

Kepada aceHtrend.CO, Kamis malam (31/3/2016) Abdul Qadir Jailani menceritakan latar belakang persinggungan dirinya dengan beberapa oknum tokoh masyarakat di sana dan upaya pengusiran dirinya yang berbuntut anarkis.

Abdul Qadir Jailani mengatakan, sekira tahun 2008 dia sudah menyewa rumah di Lam Awee. Ketika itu dia melaporkan diri ke aparatur gampong setempat. Ketika itu dia mengundang aparatur ke rumahnya dalam sebuah acara syukuran. Di sana dia menyampaikan keinginan untuk membuka pengajian baca Quran.

“Karena saya dulunya adalah penghafal Quran, maka saya berniat berbagi ilmu kepada umat Islam lainnya terkait pengetahuan saya itu. Saat itu saya sampaikan keinginan untuk membuka semacam pengajian hafidz alias penghafal Quran.” ujar Abdul Qadir Jailani.

Saat itu saya meminta izin untuk menggunakan mushalla kampung sebagai tempat pengajian. Kegiatan itu kemudian berjalan lancar. Tidak ada singgungan dengan masyarakat setempat.

Melihat potensi bahwa pengajian yang dibangunnya akan berkembang maka butuh payung hukum, kemudian Abdul Qadir Jailani berniat membangun yayasan. Namun saat itu Geuchik Mafriadi tidak memberikan izin. Baru di masa Geuchik Muslim memimpin La Awee, surat persetujuan itu dikeluarkan.

“Geuchik sebelumnya yaitu Mafriadi memang menolak memberikan izin. Saya tidak tahu alasannya apa. Izin baru diberikan ketika Teungku Muslim memerintah di Lam Awee,” terangnya.

Terkait tujuan mendirikan yayasan, Dia menyebutkan untuk menghindari fitnah dan kecurigaan berlebihan. Apalagi ada sinyalemen bahwa kegiatannya mirip-mirip ISIS–karena perempuan mereka memakai cadar– “Saya tidak mau dicap sebagai teroris. Itu saja alasannya. Kita ingin resmi dan terdaftar di pemerintah,” katanya.

Merasa Difitnah

Abdul Qadir Jailani merasa tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan kepadanya. Dia mengatakan tidak ada praktik keagamaan yang menyimpang. Dia pun sangat menghormati aparatur Gampong Lam Awee.

“Kalau soal zikir dan qunut, kalau itu yang diperdebatkan, kapan akan selesai?, karena itu khilafiyah,” katanya.

Bila dituduh bersikap kasar kepada aparatur, dia juga merasa heran. “Memang ada persinggungan itu waktu Geuchik Mafriadi masih memerintah di Lam Awee. Saat itu saya agak keras berdebat dalam rapat gampong. Tapi saat itu juga saya sudah minta maaf. Kemudian saya dituduh tidak sopan dan bersikap kasar, ini jelas fitnah,” terangnya.

Lelaki asal pangkalan Susu yang kedua orang tuanya adalah Aceh Tulen, kepada aceHTrend.Co mengatakan, perdebatan itu dipicu oleh permintaan dari beberapa orang agar dia segera membubarkan yayasan yang sudah dibangun dalam tempo 24 jam.
Dia merasa diperlakukan tidak adil. Karena selama ini di pondok yang dia pimpin, aktivitasnya adalah mendidik anak-anak untuk bisa menghafal Quran. Bahkan peserta didiknya banyak anak yatim dan fakir miskin. 15 orang diantaranya sudah hafal Quran sebanyak 30 juz.

“Jumlah santri yang sudah selesai 15 orang hafal 30 Juz yang lagi belajar hafal alquran sekarang 15 orang yang semuanya perempuan. Mengenai PAUD belum jalan normal muridnya baru ada 3-4 orang, terkait nama yayasan sebenarnya At Tamassuk Bissunnah artinya berpegangan teguh dengan sunnah Nabi, seperti jubah merupakan sunnah, walaupun bukan perintah. Ini juga diperdebatkan di gampong itu,”

Ada yang Memprovokasi

Ketika kemudian secara beramai-ramai warga Lam Awee bergerak dan mendobrak pintu gerbang Yayasan At tamassuk Bissunnah, Abdul Qadir Jailani terkejut bukan kepalang. Selama ini dia mengenal warga di sana adalah orang baik dan punya tatakrama.

“Sudah delapan tahun saya di sana (Lam Awee-red) belum pernah saya bersinggungan dengan mereka,” katanya.

Kaca mobil pecah.

Kaca mobil pecah. Diduga dilempar oleh massa.

Dia menceritakan, Yayasan At Tamassuk Bissunnah di Gampong Lam Awe – Aceh Besar, sudah berjalan kurang lebih enam tahun. Dia sendirinya, Abdul Qadir Jailani, Lc, MA sudah menetap di sana selama delapan tahun.

Gejolak muncul ketika tersebar bahwa Abdul Qadir Jailani semakin luas membeli tanah di sana. Padahal menurut pengakuannya, itu hanya tanah pinjaman. “Ketika panflet PAUD didirikan, gejolak muncul. Ditambah dengan gossip bahwa saya telah membeli tanah yang luas di Lam Awee. Padahal itu tanah pinjaman,” ujarnya.

Pada tgl 26/03/2016 diadakan pertemuan di Meunasah Lam Awe dengan tokoh masyarakat, kepala desa dan masyarakat Gampong Lam Awe, juga dihadiri Babinsa juga warga dari Gampong lain, salah satunya pimpinan dayah.

Kaca jendela yayasan At Tamassuk

Kaca jendela yayasan At Tamassuk Bissunnah yang ikut dilempar dengan benda keras.

Inti permasalahan mereka menggugat pendirian yayasan tanpa sepengetahuan masyarakat dan tokoh-tokohnya.

Saat itu tidak ada singgungan tentang isu Wahabi dan lainnya. Saya digugat hanya karena mereka menilai bahwa saya bertindak illegal. Keputusan rapat malam itu mereka meminta aktivitas saya dihentikan. Yayasan harus bubar dan panflet PAUD harus dibongkar,”.

Pada tanggal 27 Maret 2016 sore Ustad Abdul Qadir Jailani menurunkan sendiri panflet yang sudah dipasang.

Pada tanggal 28 Maret 2016 Abdul Qadir dan beberapa tokoh masyarakat bertemu di kantor kapolsek Peukan Bada-Aceh Besar. Turut hadir pihak Yayasan, MPU dan tokoh masyarakat untuk membicarakan masalah Yayasan tersebut. Di sana juga tidak disinggung masalah Wahabi.

Pada malamnya kembali digelar rapat yang meminta dirinya untuk menghadirkan surat pembatalan pendirian yayasan. Abdul Qadir Jailani tidak membawa surat itu.

“Aneh, saya yang mendirikan yayasan, Geuchik pula yang diminta untuk membubarkan yayasan saya. Saya mendirikan yayasan ini dengan mendaftar ke notaries dan melalui pengesahan pengadilan. Kepada Geuchik saya hanya mengajukan surat pemberitahuan domisili lembaga. Itu memang sudah aturannya demikian,” terangnya.

Saat itu beberapa warga marah karena mereka menilai telah dibodohi oleh Abdul Qadir Jailani. Mereka berdalih mendirikan yayasan bisa dalam satu hari, kok ketika dibubarkan tidak bisa selesai dalam satu hari?.

Suasana makin panas ketika salah seorang pimpinan Dayah dari gampong lain diberi kesempatan untuk berbicara. Maka keluarlah kata-kata cacian dan makian di depan Kapolsek dan Koramil yang tidak layak untuk di tulis yang intinya menghasut dan memprovokasi masyarakat untuk mengusir Abdul Qadir serta mencabut KTP nya dan diberi waktu sampai besok pagi deadline-nya.

Dua jam sebelum penyerangan, kepala desa menjumpai ustadz Abdul Qadir dengan membawa blangko kosong surat pindah untuk ditanda tangani. “Jika tidak pindah, massa akan bergerak pada sore harinya. Saya bersedia pindah jika aset pondok diganti oleh masyarakat,” katanya.

Sore harinya ketika massa sudah berkumpul, mereka tidak mengindahkan Aparat keamanan, warga mendobrak blokade, membuka paksa gerbang dengan anarkis, mereka berteriak supaya ustad Abdul Qadir keluar dari gampong tersebut. Beberapa kaca juga dilempar hingga pecah.

Sudah Membuat Laporan

Untuk kasus ini Abdul Qadir Jailani sudah lapor ke pihak keamanan dan dalam waktu dekat tim pengacara dari Jakarta akan datang,

“Dalam dua hari ini, mereka memberitahu akan datang ke sini. Mereka advokat pembela muslim. Saya dizalimi. Kasus ini harus selesai dan harus terungkap siapa yang bermain,” imbuhnya. []

BFauzi Cut Syam/acehtrend.co/01/04/2016

***

Muakhir Muhammad Salah satu hasil IR terbaru

KRONOLOGI PERISTIWA PENGUSIRAN USTADZ ABDUL QADIR ZAILANI,LC,MA DAN SANTRI TAHFIDZ DARI MA’HAD MEREKA, LAM AWE, PEUKAN BADA, ACEH BESAR

Terkait Peristiwa di Lam Awee, Abdul Qadir Jailani: Saya Difitnah

ACEHTREND.CO. Banda Aceh- Pengusiran dan upaya pembatalan berdirinya Yayasan At Tamassuk Bissunnah yang dipimpin oleh Ustad Abdul Qadir Jailani di Gampong Lam Awee, Peukan Bada, Aceh Besar pada Selasa (29/3/2016) terus menuai berita baru. Sang pimpinan yayasan membantah semua tudingan yang diarahkan kepadanya.

Kepada aceHtrend.CO, Kamis malam (31/3/2016) Abdul Qadir Jailani menceritakan latar belakang persinggungan dirinya dengan beberapa oknum tokoh masyarakat di sana dan upaya pengusiran dirinya yang berbuntut anarkis.

Abdul Qadir Jailani mengatakan, sekira tahun 2008 dia sudah menyewa rumah di Lam Awee. Ketika itu dia melaporkan diri ke aparatur gampong setempat. Ketika itu dia mengundang aparatur ke rumahnya dalam sebuah acar syukuran. Di sana dia menyampaikan keinginan untuk membuka pengajian baca Quran.

“Karena saya dulunya adalah penghafal Quran, maka saya berniat berbagi ilmu kepada umat Islam lainnya terkait pengetahuan saya itu. Saat itu saya sampaikan keinginan untuk membuka semacam pengajian hafidz alias penghafal Quran.” ujar Abdul Qadir Jailani.

Saat itu saya meminta izin untuk menggunakan musalla kampung sebagai tempat pengajian. Kegiatan itu kemudian berjalan lancar. Tidak ada singgungan dengan masyarakat setempat.

Melihat potensi bahwa pengajian yang dibangunnya akan berkembang maka butuh payung hukum, kemudian Abdul Qadir Jailani berniat membangun yayasan. Namun saat itu Geuchik Mafriadi tidak memberikan izin. Baru di masa Geuchik Muslim memimpin La Awee, surat persetujuan itu dikeluarkan.

“Geuchik sebelumnya yaitu Mafriadi memang menolak memberikan izin. Saya tidak tahu alasannya apa. Izin baru diberikan ketika Teungku Muslim memerintah di Lam Awee,” terangnya.

Terkait tujuan mendirikan yayasan, Dia menyebutkan untuk menghindari fitnah dan kecurigaan berlebihan. Apalagi ada sinyalemen bahwa kegiatannya mirip-mirip ISIS–karena perempuan mereka memakai cadar– “Saya tidak mau dicap sebagai teroris. Itu saja alasannya. Kita ingin resmi dan terdaftar di pemerintah,” katanya.

Merasa Difitnah
Abdul Qadir Jailani merasa tidak melakukan hal-hal yang dituduhkan kepadanya. Dia mengatakan tidak ada praktik keagamaan yang menyimpang. Dia pun sangat menghormati aparatur Gampong Lam Awee.

“Kalau soal zikir dan qunut, kalau itu yang diperdebatkan, kapan akan selesai?, karena itu khilafiyah,” katanya.

Bila dituduh bersikap kasar kepada aparatur, dia juga merasa heran. “Memang ada persinggungan itu waktu Geuchik Mafriadi masih memerintah di Lam Awee. Saat itu saya agak keras berdebat dalam rapat gampong. Tapi saat itu juga saya sudah minta maaf. Kemudian saya dituduh tidak sopan dan bersikap kasar, ini jelas fitnah,” terangnya.

Lelaki asal pangkalan Susu yang kedua orang tuanya adalah Aceh Tulen, kepada aceHTrend.Co mengatakan, perdebatan itu dipicu oleh permintaan dari beberapa orang agar dia segera membubarkan yayasan yang sudah dibangun dalam tempo 24 jam.
Dia merasa diperlakukan tidak adil. Karena selama ini di pondok yang dia pimpin, aktivitasnya adalah mendidik anak-anak untuk bisa menghafal Quran. Bahkan peserta didiknya banyak anak yatim dan fakir miskin. 15 orang diantaranya sudah hafal Quran sebanyak 30 juz.

“Jumlah santri yang sudah selesai 15 orang hafal 30 Juz yang lagi belajar hafal alquran sekarang 15 orang yang semuanya perempuan. Mengenai PAUD belum jalan normal muridnya baru ada 3-4 orang, terkait nama yayasan sebenarnya At Tamassuk Bissunnah artinya berpegangan teguh dengan sunnah Nabi, seperti jubah merupakan sunnah, walaupun bukan perintah. Ini juga diperdebatkan di gampong itu,”

Ada yang Memprovokasi
Ketika kemudian secara beramai-ramai warga Lam Awee bergerak dan mendobrak pintu gerbang Yayasan At tamassuk Bissunnah, Abdul Qadir Jailani terkejut bukan kepalang. Selama ini dia mengenal warga di sana adalah orang baik dan punya tatakrama.

“Sudah delapan tahun saya di sana (Lam Awee-red) belum pernah saya bersinggungan dengan mereka,” katanya.

Dia menceritakan, Yayasan At Tamassuk Bissunnah di Gampong Lam Awe – Aceh Besar, sudah berjalan kurang lebih enam. Dia sendirinya, Abdul Qadir Jailani, Lc, MA sudah menetap di sana selama delapan tahun.

Gejolak muncul ketika tersebar bahwa Abdul Qadir Jailani semakin luas membeli tanah di sana. Padahal menurut pengakuannya, itu hanya tanah pinjaman. “Ketika panflet PAUD didirikan, gejolak muncul. Ditambah dengan gossip bahwa saya telah membali tanah yang luas di Lam Awee. Padahal itu tanah pinjaman,” ujarnya.

Pada tgl 26/03/2016 di adakan pertemuan di Meunasah Lam Awe dengan tokoh masyarakat, kepala desa dan masyarakat Gampong Lam Awe, juga di hadiri Babinsa juga warga dari Gampong lain, salah satunya pimpinan dayah.

Inti permasalahan mereka menggugat pendirian yayasan tanpa sepengetahuan masyarakat dan tokoh-tokohnya.

Saat itu tidak ada singgungan tentang isu Wahabi dan lainnya. Saya digugat hanya karena mereka menilai bahwa saya bertindak illegal. Keputusan rapat malam itu mereka meminta aktivitas saya dihentikan. Yayasan harus bubar dan panflet PAUD harus dibongkar,”.

Pada tanggal 27 Maret 2016 sore Ustad Abdul Qadir Jailani menurunkan sendiri panflet yang sudah dipasang.

Pada tanggal 28 Maret 2016 Abdul Qadir dan beberapa tokoh masyarakat bertemu di kantor kapolsek Peukan Bada-Aceh Besar. Turut hadir pihak Yayasan, MPU dan tokoh masyarakat untuk membicarakan masalah Yayasan tersebut. Di sana juga tidak disinggung masalah Wahabi.

Pada malamnya kembali digelar rapat yang meminta dirinya untuk menghadirkan surat pembatalan pendirian yayasan. Abdul Qadir Jailani tidak membawa surat itu.

“Aneh, saya yang mendirikan yayasan, Geuchik pula yang diminta untuk membubarkan yayasan saya. Saya mendirikan yayasan ini dengan mendaftar ke notaries dan melalui pengesahan pengadilan. Kepada Geuchik saya hanya mengajukan surat pemberitahuan domisili lembaga. Itu memang sudah aturannya demikian,” terangnya.

Saat itu beberapa warga marah karena mereka menilai telah dibodohi oleh Abdul Qadir Jailani. Mereka berdalih mendirikan yayasan bisa dalam satu hari, kok ketika dibubarkan tidak bisa selesai dalam satu hari?.

Suasana makin panas ketika salah seorang pimpinan Dayah dari gampong lain diberi kesempatan untuk berbicara. Maka keluarlah kata-kata cacian dan makian di depan Kapolsek dan Koramil yang tidak layak untuk di tulis yang intinya menghasut dan memprovokasi masyarakat untuk mengusir Abdul Qadir serta mencabut KTP nya dan diberi waktu sampai besok pagi deadline-nya.

Dua jam sebelum penyerangan, kepala desa menjumpai ustadz Abdul Qadir dengan membawa blangko kosong surat pindah untuk ditanda tangani. “Jika tidak pindah, massa akan bergerak pada sore harinya. Saya bersedia pindah jika aset pondok diganti oleh masyarakat,” katanya.

Sore harinya ketika massa sudah berkumpul, mereka tidak mengindahkan Aparat keamanan, warga mendobrak blokade, membuka paksa gerbang dengan anarkis, mereka berteriak supaya ustad Abdul Qadir keluar dari gampong tersebut.Berepa kaca juga dilempar hingga pecah.

Sudah Membuat Laporan
Untuk kasus ini Abdul Qadir Jailani sudah lapor ke pihak keamanan dan dalam waktu dekat tim pengacara dari Jakarta akan datang,

“Dalam dua hari ini, mereka memberitahu akan datang ke sini. Mereka advokat pembela muslim. Saya dizalimi. Kasus ini harus selesai dan harus teruingkap siapa yang bermain,” imbuhnya.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.143 kali, 1 untuk hari ini)