Marsudi Syuhud merupakan salah seorang Ketua PBNU hadir dalam acara Aksi Bela Palestina, Minggu (17/12/17). Namun sayangnya kehadirannya dinilai merusak jalannya tertib acara. Hal itu terjadi ketika tiba-tiba Marsudi mengambil alih pembawa acara yang seharusnya di bawa oleh Ustadz Bachtiar Nasir.

Saksi mata pun mengungkap keganjilan pada Aksi Bela Palestina 1712.

Ketua PBNU ini juga diduga merupakan oknum dibalik pelarangan Ust Felix Siauw untuk berotasi di Aksi Bela Palestina kemarin.

Dan ternyata Marsudi Syuhud merupakan salah satu dari dua orang anggota MUI yang pernah mengunjungi Israel dan menjadi polemik pada 18 Januari 2017 yang lalu.

Seperti dikutip dari albalad.co Marsudi Syuhud merupakan Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama MUI mengunjungi Israel bersama Profesor Istibsyaroh, Ketua Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI.

Berikut berita lengkapnya:

Ternyata ada dua pejabat MUI ikut dalam rombongan ke Israel


Delegasi muslim asal Indonesia, termasuk dua pejabat MUI – Profesor Istibsyaroh dan Kiai Mayshudi Suhud – saat diterima di kediaman Presiden Israel Reuven Rivlin pada 18 Januari 2017. (Albalad.co/Istimewa)

Ternyata bukan hanya satu pejabat MUI (Majelis Ulama Indonesia) ikut dalam rombongan ke Israel. Selain Profesor Istibsyaroh, Ketua Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI, juga ada Kiai Marsudi Syuhud, Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama MUI. 

Dalam foto diterima Albalad.co hari ini, Marsudi duduk ketiga dari kanan. Hanya dipisahkan satu lelaki setelah Istibsyaroh (berjilbab kuning). Foto ini diambil saat mereka sedang diterima di kediaman resmi Presiden Israel Reuven Rivlin Rabu lalu. 

Sedangkan dalam berita dilansir situs Kementerian Luar Negeri Israel, tidak ada Marsudi dalam foto bareng Rivlin. “Dia berusaha menghindar (agar tidak ketahuan),” kata Ketua Bidang Luar Negeri MUI Muhyidin Junaidi saat dihubungi Albalad.co melalui telepon selulernya malam ini. 


Muhyidin menambahkan Marsudi, tadinya mantan Sekretaris Jenderal PBNU (Pengurus Besar Nahdhatul Ulama), kini menjabat ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama MUI.


Foto satunya lagi diperoleh Albalad.co memperlihatkan delegasi muslim asal Indonesia, berjumlah sembilan orang, tengah berziarah ke kubur mendiang pemimpin Palestina Yasir Arafat di Kota Ramallah, Tepi Barat, Palestina.

Kunjungan delegasi muslim dari Indonesia diatur dan dibiayai oleh AIJAC, lembaga lobi Yahudi di Australia. Negara Zionis itu hampir saban tahun mengundang tokoh-tokoh muslim dari Indonesia sebagai upaya untuk mengubah pandangan negatif mereka mengenai Israel. Diharapkan sepulang dari sana ikut menyebarluaskan hal-hal positif tentang negara Bintang Daud ini. [www.tribunislam.com]

http://www.tribunislam.com SELASA, 19 DESEMBER 2017

***

Heboh, Beredar Foto Diduga Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud Bersama Wanita Seksi Mata Sipit

by Nahimunkar.com, 3 Agustus 2017

foto trbnislm

Jakarta — Saat ini beredar foto diduga Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud dengan seorang wanita seksi keturunan China. Dalam foto itu, posisi diduga Kiai Marsudi duduk, sedangkan wanita seksi itu ada di belakang sambil memegang pundak alumni Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadiin, Jatisari, Jenggawah, Jember itu.

Keduanya dalam satu kursi besar. Sampai tulisan ini diturunkan, Kiai Marsudi belum memberikan klarifikasi terkait beredarnya foto tersebut. Salah satu akun Facebook kontroversi Moh Aflah ikut mengomentari beredarnya foto itu.

“Org luar negeri menganggap biasa berphoto seperti ini, terlebih bukan org islam. Malah bisa dikatain sombong jika tak mau bergaul dgn cara mereka. Namun kapasitas sebagai pengurus NU yg mana singkatan dari Nahdlatul Ulama’ seharusnya tau diri, menghindar itu cara islami. sebab seorang yg kapasitas nya dianggap Ulama tak mungkin meniru cara gaul seperti mereka. Kecuali jika mereka ulama-ulama-an. Terlebih berfotonya disengaja seperti ini.”

Kiai Marsudi selama ini dikenal sebagai tokoh NU yang memiliki pandangan fluralis namun dianggap kontroversial oleh sebagian kalangan. Salah satu pandangan Marsudi Syuhud yang disambut pro-kontra di kalangan masyarakat adalah mengucapkan selamat Natal untuk umat Kristiani sebagai upaya mempererat tali persaudaraan sesama umat manusia (ukhuwah basyariyah).

Di tengah sebagian masyarakat kita bimbang terkait perang melawan terorisme karena masih ada yang menganggap sebagai salah satu metode jihad, Marsudi Syuhud bersama NU gencar melakukan perlawanan terhadap terorisme.

Doktor Ekonomi Universitas Trisakti ini disebut-sebut sebagai fund riser NU sejak beliau menjadi Sekjen PBNU. Dia bahkan disebut pelanjut almarhum Gus Dur yang merawat jaringan di tubuh NU. Marsudi Syuhud pernah mondok di Pondok Pesantren Raudlatul Mubtadiin, Jatisari, Jenggawah, Jember, dan menimba ilmu-ilmu salaf kepada KH Abu Hamid.

Pada tahun 1982 dia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Al- Ihya’ Ulumiddin, Cilacap. Sejak tahun 80-an Marsudi Syuhud sudah berinteraksi dan dekat dengan Gus Dur.

Pria kelahiran kebumen, 7 Februari 1964 ini menempuh pendidikan formalnya di Jurusan Sarjana Sastra Inggris STKIP PGRI Institut, bergelar Master Manajemen Pemasaran dari Universitas Tarumanegara, serta Doktor di bidang Ekonomi dan Keuangan Islam, Universitas Trisakti.[snc/fatur]

http://www.kabarsatu.news

***

MoU dengan Syiah Iran tak disebut dalam LPJ Said Aqil

by Nahimunkar.com, 6 Agustus 2015

JOMBANG – Sejumlah peserta Muktamar NU ke-33 mengkritisi pelaksanaan Sidang Pleno I yang membahas Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2015, Senin (3/8) malam.

Kiai Mudzakir Manan, salah satu peserta dari Sumatera Barat, menilai pleno LPJ cacat prosedur. “Seharusnya ada pandangan umum, karena penilaian diterima atau tidak itu diambil setelah para muktamirin diberi kesempatan meyampaikan pandangan umum,” kata kiai sepuh dari Padang ini, dikutip dari RMOL.co, Rabu (5/8).

Penyampaian pandangan umum tersebut menurut Mudzakir adalah hal penting. Sebab banyak hal yang perlu dikritisi, di antaranya adalah tidak disebutnya memorandum of understanding (MoU) antara PBNU dengan kampus Syiah, Mustafa University Qom Iran yang dilakukan oleh Said Aqil.

“Padahal MoU dengan Iran juga telah terindikasi sangat membahayakan bagi NU, mengingat kerjasama tersebut terfokus pada kerjasama pendidikan dan tsaqofah keislaman yang sangat mungkin akan mempengaruhi penyebaran Syiah di Indonesia. Dalam LPJ ketua umum, juga mengingatkan tentang kewaspadaan terhadap perkembangan Wahabi di Indonesia, tapi yang menjadi pertanyaan kenapa Kiai Said Aqil tidak menyatakan kewaspadaan terhadap Syiah,” paparnya.

Sementara Ketua Umum Tanfidz PWNU Jawa Tengah, Prof. Abu Hafsin juga mengatakan sidang pleno tersebut cacat prosedur karena hanya berisi pembacaan LPJ oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, tanpa ada pandangan umum dari muktamirin (peserta muktamar).

“Setelah LPJ tak ada pemandangan umum, malah langsung diketuk palu dan diterima oleh pimpinan sidang yakni Sekjen PBNU Dr. Marsudi Syuhud. Jadi itu bukan LPJ, tapi baru pembacaan LPJ. Hak konstitusi muktamirin tidak diberikan malah dipaksa sepakat. Bahkan ruang bertanya pun tidak diberikan. Jadi ketika KH Mustofa Bisri (Rais Syuriah PBNU) mengajak santun, sebenarnya siapa yang membuat masalah?” kata Abu Hafsin di Jombang, Selasa (4/8/2015) tulis RMOL.co, Rabu (5/8/2015).

Usai pembacaan LPJ, lanjut Abu Hafsin, Sekjen PBNU yang memimpin jalannya sidang pleno langsung mengetok palu dan menutup pleno tanpa memberi kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pandangan umum. Di ruang sidang pleno juga tidak disiapkan mikrofon bagi peserta yang ingin menyampaikan pandangan umum.

“Beberapa peserta kebingungan karena tidak bisa menyampaikan pandanganya untuk menanggapi laporan ketua umum. Mereka hanya bisa protes tetapi tidak ditanggapi oleh pimpinan siding,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Abu Hafsin, panitia terindikasi memasukkan orang-orang tertentu yang sudah dipersiapkan untuk meneriakkan dukungan bahwa laporan pertanggunggungjawaban bisa diterima. (azm/arrahmah.comA. Z. Muttaqin

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.517 kali, 1 untuk hari ini)