Tahun lalu Ahok bilang, Nabi pun Tak Bisa Hilangkan Prostitusi di Jakarta. Kini Ahok bilang, “Tuhan saja tidak menghapus prostitusi.”

Apakah Ahok berani bilang, Tuhan saja tidak menghapus korupsi?

Ahok tampaknya makin menjadi-jadi dalam berbicara menyinggung agama, bahkan Nabi dan Tuhan dijadikan alasan, itupun menyangkut prostisusi alias pelacuran yang kaitannya dengan wacana Ahok untuk menghidupkan kembali lokalisasi pelacuran.

Pikiran Ahok itu dapat dibaca dari keterangannya tahun lalu, Ahok mengatakan, wacana pelegalan bisnis prostitusi hanya sebuah pemikiran yang ingin ia sampaikan.

“Persoalannya bagaimana kita selamatkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa yang terperangkap menjadi PSK. Itu lebih penting buat saya,” tegas Ahok.

Dia yakin pemikirannya soal pelegalan bisnis prostitusi akan ditentang banyak pihak.

“Makanya saya harus mengenali siapa mereka. Pasti orang protes, kalau orang protes ya sudah. Saya cuma mau menyampaikan itu pikiran saya tentang prostitusi,” terangnya. (okezone.com, Senin, 27 April 2015 – 20:35 wib).

Soal Ahok menyampaikan pikirannya tentang pelegalan bisnis pelacuran itu sendiri sudah jelas akan merusak moral masyarakat. Perbuatan maksiat yang seharusnya dicegah justru mau dia bisniskan secara legal.

Persoalan yang lebih serius lagi, pikiran Ahok untuk pelegalan bisnis pelacuran itu menyinggung-nyinggung Nabi, bahkan kini menyinggung Tuhan. Tahun lalu Ahok bilang, Nabi pun Tak Bisa Hilangkan Prostitusi di Jakarta. Kini Ahok bilang, “Tuhan saja tidak menghapus prostitusi.”

Apakah Ahok berani bilang, “Tuhan saja tidak menghapus korupsi”? Maka dia mau mengadakan pelegalan bisnis korupsi?

 Oleh karena itu, ucapanAhok itu tampaknya justru menjerumuskan dia sendiri untuk dijauhi masyarakat yang merasa Nabinya dan Tuhannya telah dilecehkan begitu saja. Keruan saja celoteh Ahok itu mendapatkan reaksi, baik yang kini maupun yang tahun lalu.

Inilah beritanya.

***

Ahok: Tuhan Saja tak Hapus Prostitusi, Politisi PPP: Orang Ini tak Layak Hidup di Negeri Pancasila

Ahok (basuki)

Basuki Tjahaja Purnama (posmetro)

intelijen – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Menurut Ahok dirinya hanya bisa menindak lokalisasi bukan prostitusi, sebab menurut Ahok, Tuhan saja tidak menutup prostitusi.

“Tuhan saja tidak menghapus prostitusi. Kalau hapus prostitusi saya tidak sanggup tapi kalau tutup lokalisasi saya bisa yang penting jangan banyak sosialisasi,” tegas Ahok seperti dikutip merdeka (21/03).

Pernyataan itu mendapat reaksi keras dari banyak pihak. Politisi PPP Ahmad Yani, di akun Twitter ‏@Ayaniulva, menulis: “Orang ini tidak layak hidup di negeri Pancasila.” Kicauan @Ayaniulva meretweet tulisan bertajuk “Ahok: Tuhan saja tidak hapus prostitusi, kalau lokalisasi saya bisa.”

intelijen.co.id

***

Inilah beritanya.

***

Ahok Hina Nabi soal Pelacuran?

by nahimunkar.com

Makin Gila!! Ahok Sebut Nabi Sekalipun Tak Bisa Hilangkan Prostitusi

JAKARTA (Panjimas.com) – Jalan pikiran Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sepertinya sudah gila dan tidak pernah bisa menjaga perasaan masyarakat khususnya umat Islam di Jakarta dan Indonesia.

Setelah dirinya pesimis dapat memberantas praktik prostitusi di Ibu Kota Jakarta, Ahok mengatakan dan meyakini meski seorang nabi sekalipun diturunkan di Indonesia, tidak akan dapat menghilangkan prostitusi atau pelacuran di Jakarta.

“Bagi saya bukan mempermasalahkan menghilangkan prostitusi di Jakarta. Enggak mungkin. Nabi turun saja enggak bisa menghilangkan loh,” ujar Ahok di Balai Kota, pada Senin (27/4/2015). (Baca: Gila!! Ahok Akan Buat Apartemen Khusus Pelacuran & Sertifikasi Para Pelacur)

Ahok mengatakan, wacana pelegalan bisnis prostitusi atau pelacuran hanya sebuah pemikiran yang ingin ia sampaikan. “Persoalannya bagaimana kita selamatkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa yang terperangkap menjadi PSK. Itu lebih penting buat saya,” kata Ahok.

Ahok mengaku sadar dan yakin pemikirannya soal pelegalan bisnis pelacuran akan ditentang banyak pihak. “Makanya saya harus mengenali siapa mereka. Pasti orang protes, kalau orang protes ya sudah. Saya cuma mau menyampaikan itu pikiran saya tetang prostitusi,” terangnya.

Ahok menjelaskan, maraknya bisnis prostitusi atau pelacuran tak lepas dari back up oknum aparat. Seperti yang terjadi di sejumlah hotel di Jakarta. (Baca: Kecam Ide Ahok Buat Apartemen Pelacuran, MUI: Itu Sama dengan Legalisasi Pelacuran)

“Nah pertanyaannya, kamu bisa enggak datang dan buktikan itu? Enggak bisa kan, semua (tempat prostitusi di hotel) dijaga sangat ketat. Ini ada oknum aparat terlibat. Kemunafikan ini yang mau saya selesaikan,” ucapnya dengan penuh arogan. [GA/okz]SENIN, 08 RAJAB 1436H / APRIL 27, 2015

***

Kecam Ide Ahok Buat Apartemen Pelacuran, MUI: Itu Sama dengan Legalisasi Pelacuran

JAKARTA (Panjimas.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan penolakan dan kecamannya atas ide dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang akan membuat apartemen khusus pelacuran dan para pelacur di Jakarta.

Penasehat MUI DKI Jakarta, ustadz Samsul Maarif mengatakan bahwa ide Ahok tersebut berpotensi mencederai masyarakat, khususnya umat Islam. Pasalnya, Ahok berencana untuk membuat lokalisasi atau tempat pelacuran di Jakarta.

“Lokalisasi sama dengan legalisasi (pelacuran –red),” tegasnya pada Sabtu (25/4/2015) seperti dilansir ROL. Hal itulah yang kemudian membuat MUI tegas menolak ide Ahok tersebut.

Rencana untuk membuat lokalisasi atau tempat pelacuran merupakan tanggapan dan ide mantan Bupati Bangka Belitung beragaman Kristen itu terkait persoalan sosial. Persoalan itu adalah penyalahgunaan rumah kos sebagai sarana pelacuran yang marak bertebaran di kawasan Jakarta.

Ustadz Samsul menambahkan, semestinya Ahok mendalami sejarah upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh Gubernur DKI sebelumnya, seperti Sutiyoso. Saat itu, Sutiyoso telah berhasil menghapus tempat pelacuran yang ada di Koja, Jakarta Utara.

Berkat kerjasama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dan para tokoh serta ulama, kawasan bekas lokalisasi pelacuran itu berubah menjadi kawasan Islamic Centre dan masjid.

“Ahok menganalogikan prostitusi dengan kotoran manusia. Itu adalah adalah analogi yang kurang relevan,” tandasnya. Ustadz Samsul pun menyebut analogi Ahok itu sebagai qiyas ma’al Fariq.

Menurut ustadz Samsul, dua hal diatas tidak bisa disamakan. Sebab, kotoran manusia adalah fitrah, sedangkan pelacuran berlawanan dengan fitrah.

Apabila ide Ahok direalisasikan, lanjutnya, maka kejahatan yang dipelihara oleh Pemprov DKI akan bertambah. Jika sebelumnya Pemprov DKI mencoba melindungi keberlangsungan industri minuman keras (miras), nantinya Ahok juga dinilai melegalkan pelacuran melalui adanya lokalisasi. [GA]*/Panjimas.com – SENIN, 08 RAJAB 1436H / APRIL 27, 2015

(nahimunkar.com)

***

Ahok Hina Nabi soal Pelacuran?

Posted on Apr 28th, 2015

Ahok ngemis

Inilah beritanya.

***

Makin Gila!! Ahok Sebut Nabi Sekalipun Tak Bisa Hilangkan Prostitusi

JAKARTA (Panjimas.com) – Jalan pikiran Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sepertinya sudah gila dan tidak pernah bisa menjaga perasaan masyarakat khususnya umat Islam di Jakarta dan Indonesia.

Setelah dirinya pesimis dapat memberantas praktik prostitusi di Ibu Kota Jakarta, Ahok mengatakan dan meyakini meski seorang nabi sekalipun diturunkan di Indonesia, tidak akan dapat menghilangkan prostitusi atau pelacuran di Jakarta.

“Bagi saya bukan mempermasalahkan menghilangkan prostitusi di Jakarta. Enggak mungkin. Nabi turun saja enggak bisa menghilangkan loh,” ujar Ahok di Balai Kota, pada Senin (27/4/2015). (Baca: Gila!! Ahok Akan Buat Apartemen Khusus Pelacuran & Sertifikasi Para Pelacur)

Ahok mengatakan, wacana pelegalan bisnis prostitusi atau pelacuran hanya sebuah pemikiran yang ingin ia sampaikan. “Persoalannya bagaimana kita selamatkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa yang terperangkap menjadi PSK. Itu lebih penting buat saya,” kata Ahok.

Ahok mengaku sadar dan yakin pemikirannya soal pelegalan bisnis pelacuran akan ditentang banyak pihak. “Makanya saya harus mengenali siapa mereka. Pasti orang protes, kalau orang protes ya sudah. Saya cuma mau menyampaikan itu pikiran saya tetang prostitusi,” terangnya.

Ahok menjelaskan, maraknya bisnis prostitusi atau pelacuran tak lepas dari back up oknum aparat. Seperti yang terjadi di sejumlah hotel di Jakarta. (Baca: Kecam Ide Ahok Buat Apartemen Pelacuran, MUI: Itu Sama dengan Legalisasi Pelacuran)

“Nah pertanyaannya, kamu bisa enggak datang dan buktikan itu? Enggak bisa kan, semua (tempat prostitusi di hotel) dijaga sangat ketat. Ini ada oknum aparat terlibat. Kemunafikan ini yang mau saya selesaikan,” ucapnya dengan penuh arogan. [GA/okz]SENIN, 08 RAJAB 1436H / APRIL 27, 2015

***

SENIN, 08 RAJAB 1436H / APRIL 27, 2015

Kecam Ide Ahok Buat Apartemen Pelacuran, MUI: Itu Sama dengan Legalisasi Pelacuran

JAKARTA (Panjimas.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan penolakan dan kecamannya atas ide dari Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang akan membuat apartemen khusus pelacuran dan para pelacur di Jakarta.

Penasehat MUI DKI Jakarta, ustadz Samsul Maarif mengatakan bahwa ide Ahok tersebut berpotensi mencederai masyarakat, khususnya umat Islam. Pasalnya, Ahok berencana untuk membuat lokalisasi atau tempat pelacuran di Jakarta.

“Lokalisasi sama dengan legalisasi (pelacuran –red),” tegasnya pada Sabtu (25/4/2015) seperti dilansir ROL. Hal itulah yang kemudian membuat MUI tegas menolak ide Ahok tersebut.

Rencana untuk membuat lokalisasi atau tempat pelacuran merupakan tanggapan dan ide mantan Bupati Bangka Belitung beragaman Kristen itu terkait persoalan sosial. Persoalan itu adalah penyalahgunaan rumah kos sebagai sarana pelacuran yang marak bertebaran di kawasan Jakarta.

Ustadz Samsul menambahkan, semestinya Ahok mendalami sejarah upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh Gubernur DKI sebelumnya, seperti Sutiyoso. Saat itu, Sutiyoso telah berhasil menghapus tempat pelacuran yang ada di Koja, Jakarta Utara.

Berkat kerjasama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI dan para tokoh serta ulama, kawasan bekas lokalisasi pelacuran itu berubah menjadi kawasan Islamic Centre dan masjid.

“Ahok menganalogikan prostitusi dengan kotoran manusia. Itu adalah adalah analogi yang kurang relevan,” tandasnya. Ustadz Samsul pun menyebut analogi Ahok itu sebagai qiyas ma’al Fariq.

Menurut ustadz Samsul, dua hal diatas tidak bisa disamakan. Sebab, kotoran manusia adalah fitrah, sedangkan pelacuran berlawanan dengan fitrah.

Apabila ide Ahok direalisasikan, lanjutnya, maka kejahatan yang dipelihara oleh Pemprov DKI akan bertambah. Jika sebelumnya Pemprov DKI mencoba melindungi keberlangsungan industri minuman keras (miras), nantinya Ahok juga dinilai melegalkan pelacuran melalui adanya lokalisasi. [GA]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.460 kali, 1 untuk hari ini)