Terkait dengan polemik lama seputar lafal “Teroris”, maka disini kita ketengahkan ringkasan sebuah nasehat dari Al-Ustadz DR. Muhammad Arifin bin Badri, Lc., MA (Doktor alumnus Madinah Of University) terkait penamaan “Teroris”. Selamat menyimak…

Kata “teroris” tidak pernah ada dalam kamus kaum muslimin, terlebih-lebih para ulama’ ahlis sunnah wal jama’ah. Kata “teroris” bukan hanya tidak ada dalam kamus umat Islam, akan tetapi kata tersebut lebih sering digunakan untuk menjelek-jelekkan umat Islam secara umum, dan ahlis sunnah secara khusus. Ahlus sunnah dimana-mana senantiasa mereka hantui dengan tuduhan-tuduhan semacam ini. Oleh karena itu hingga saat ini musuh-musuh Islam beranggapan dan mempropagandakan bahwa pusat teroris adalah negara tauhid dan negara yang berdiri di atas dasar aqidah Ahlis sunnah wal jama’ah, yakni Saudi Arabia yang dipimpin oleh raja Salman Bin Abdil Aziz.

Padahal setiap orang tahu betapa besar teror dan kekejaman yang telah dilakukan oleh Israel dan anteknya yaitu Amerika dan konco-konconya terhadap umat manusia secara umum dan umat Islam secara khusus. Betapa banyak darah manusia yang telah mereka tumpahkan? Akan tetapi kenapa umat Islamlah yang saat ini selalu dicurigai sebagai teroris, atau dituduh berpaham teroris?!

Dahulu mereka senantiasa menghantui umat Islam secara umum dan ahlis sunnah secara khusus dengan kata “fundamentalis” dan sekarang mereka menghantui ummat Islam dengan kata “teroris”. Momok semacam ini senantiasa diarahkan kepada umat Islam, dan tidak pernah ditujukan kepada selain mereka. 

Fakta ini telah menjadi bagian nyata dari kehidupan umat Islam di mana-mana, sehingga menurut hemat kami tidak lagi memerlukan pembuktian. Dan saya yakin kita semua mengetahui akan hal ini.

Bila demikian ini halnya, maka tidaklah layak bagi seorang muslim untuk ikut membeo, taklid dan latah dengan selain mereka sehingga menggunakan kata-kata sesat ini.

Oleh karena itu jauh-jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi sallam  telah memperingatkan kita dari sikap semacam ini, sampai-sampai beliau bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ 

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia tergolong dari mereka”.  (Riwayat Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dll, serta dishahihkan oleh Al Albani).

Larangan menyerupai selain umat Islam bukan hanya pada perilaku, penampilan, keyakinan, ibadah, ucapan, bahkan mencakup segala aspek kehidupan kita. Sebagai salah satu penerapannya Allah Ta’ala melarang kaum muslimin untuk menyerupai orang-orang yahudi dalam hal ucapan :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقُولُواْ رَاعِنَا وَقُولُواْ انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ْوَلِلكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad), “Raa’ina,” tetapi katakanlah, “Unzhurna,” dan “Dengarlah.” Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.”  (QS. Al-Baqarah 104)

Kata “raa’ina” dalam bahasa Arab berartikan : “perhatikanlah/tunggulah kami” akan tetapi kata ini dapat diplesetkan menjadi “ra’unah” yang artinya dungu.

Allah Ta’ala pada ayat ini melarang kaum muslimin untuk mengucapkan kata ‘raa’ina” karena dahulu orang-orang Yahudi mengucapkan kata ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi sallam mengesankan mereka meminta kepada beliau shallallahu ‘alaihi sallam agar tidak terlalu cepat ketika berbicara, akan tetapi mereka memelesetkannya, sehingga mereka denganya menghina Nabi shallallahu ‘alaihi sallam dengan anggapan dungu. Umat Islam dilarang mengucapkan kata ini, walaupun maksud mereka benar dan tidak ada niat keji semacam ini, guna menghindari segala hal yang menyerupai perbuatan orang-orang.

Ibnu Katsir setelah menyebutkan hadits di atas berkata: “Pada hadits ini terdapat larangan keras, ancaman tegas dari menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan, perilaku mereka, pakaian, hari perayaan, peribadatan dan urusan mereka lainnya yang tidak disyari’atkan kepada kita dan tidak juga kita diizinkan untuk melakukannya.”

Larangan untuk menyerupai kelompok sesat bukan hanya berlaku pada menyerupai kaum kafir semata, bahkan menyerupai ahlil bid’ahpun kita dilarang. Oleh  karena itu dahulu para ulama’ tidaklah menggunakan istilah-istilah hasil rekayasa ahlul bid’ah, kecuali dalam kesempatan tertentu dan dalam batasan tertentu pula. Ini semua demi menjaga pemahaman, persepsi dan kepribadian umat Islam secara umum dan ahlus sunnah secara khusus.

Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al Hanafy: “Mengungkapkan kebenaran dengan menggunakan istilah-istilah yang diajarkan dalam syari’at Nabi dan yang diturunkan oleh Allah, adalah metode/manhaj Ahlus sunnah wal Jama’ah.

Perlu diketahui bahwa masyarakat internasional hingga saat ini tidak pernah menyepakati akan definisi dan kriteria “teroris”. Masing-masing negara atau organisasi yang ada menggunakan kata ini selaras dengan pemahamannya masing-masing. Oleh karena itu tidak sepantasnya menggunakan suatu kata yang memiliki banyak penafsiran dan diperselisihkan kandungannya. Sehingga kata ini dapat diartikan selaras dengan alhaq/kebenaran, dan juga dapat diartikan dengan pemahaman yang menyelisihi al haq, dan bahkan malah menghancurkan al-haq.

Diantara metode Ahlus sunnah, adalah tidak menggunakan kata-kata semacam ini kecuali setelah menjelaskan dan merinci kandunganya, sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman dan kerancuan (talbis & tadlis).

Tatkala menjabarkan tentang sikap ahlis sunnah terhadap berbagai istilah yang digunakan oleh ahlul bid’ah dalam permasalahan asma’ dan sifat Allah Ta’ala, Ibnu Taimiyyah berkata: “Adapun kata-kata yang diperselisihkan kandungannya oleh para pencetusnya sendiri dari kalangan orang-orang mutaakhirin, misalnya kata: Al Jismu, Al Jauhar, Al Mutahayyiz, Jihah, dan kata-kata yang  serupa dengannya, maka tidaklah sepatutnya untuk diingkari secara mutlak dan tidak juga diakui secara mutlak, sampai ditilik maksud pengucapnya. Bila ia memaksudkan dari penetapan dan pengingkaran kata tersebut suatu makna yang benar lagi selaras dengan yang telah dikabarkan oleh Rasulullah, maka makna yang ia inginkan dari kata tersebut kita akui atau kita benarkan, akan tetapi seyogianya dia mengungkapkan makna tersebut dengan kata-kata yang telah disebutkan dalam dalil. Tidak sepatutnya ia menggunakan kata-kata hasil rekayasa lagi bersifat global semacam ini, melainkan pada saat diperlukan saja, dengan disertai berbagai qarinah (pertanda) yang menunjukkan akan maksudnya…..Adapun bila yang ia maksudkan adalah suatu makna yang batil, maka makna tersebut harus diingkari, dan bila kata tersebut mengandung makna yang benar dan batil secara bersamaan, maka makna yang benar diakui dan yang batil diingkari.”

(Kitab Minhajus Sunnah oleh Ibnu Taimiyyah 2/554-555.) lihat http://arifinbadri.com/bantahan-untuk-luqman-baabduh-dan-koreksi-buku-mereka-adalah-teroris-bag-1/

Demikianlah seyogyanya kita mensikapi kata “teroris”, tidaklah kita menggunakannya kecuali setelah merinci berbagai penafsiran yang ada, kemudian kita menjelaskan sikap kita terhadap setiap penafsiran tersebut.

Kiriman abu husein Hari Ini pada 12:54 PM

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.159 kali, 1 untuk hari ini)