Jakarta, – Pada tahun 1945 hingga 1949 Indonesia mengalami revolusi nasional. Proses pempertahankan kemerdekaan ini menimbulkan pergolakan dimana-mana. Karena kondisi yang tidak menentu maka sebagian masyarakat etnis Tionghoa memutuskan untuk membentuk laskar keamanan bernama Pao An Tui. Salah satu tokoh pendirinya bernama Loa Sek Hie Sie

Dilahirkan di Pasar Baru Batavia 1898 ayahnya bernama Loa Tiang Hui seorang Kapiten der Chinezen der Passer Baroe, jabatan bagi Kapten Polisi pada waktu itu. Kakek dari ayahnya adalah seorang saudagar kaya bernama Loa Po Seng yang namanya diabadikan menjadi nama jalan Poseng di Pasar Baru.

Ibunya berasal dari keturunan campuran Jawa- Eropa, Austria-Yahudi yang sudah lama menetap di Batavia.

Loa Sek sekolah di Europeesche Lagere School (ESL) dan melanjutkan sekolahnya di the Hogere Burgerschool (HBS) Batavia.

Pada tahun 1919, Louise Goldman menikahkan Loa Sek dengan Corry Tan, putri dari Tan Liok Tioaw Sia seorang Landheer van Batoe Tjepper atau Tuan Tanah dari Batu Ceper. Bersama istrinya, Loa Sek Hie Sie  membangun rumah tangganya di kawasan elite Menteng, Batavia.

Karir Politik

Loa Sek Hie Sie merupakan anggota Volkstraad, sebutan bagi DPR sekarang.

Dari tahun 1928 hingga 1951 Loa menjadi pengurus partai Chung Hua Hui, sebuah partai politik etnis Tionghoa yang kooperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda. Loa juga  merupakan anggota dari Tarekat Vrijmetsolarij, sebutan untuk kelompok Freemasonry dalam bahasa Belanda dan turut mendirikan Loji Freemason di Batavia.

Loa Sek (kanan atas) bersama tokoh-tokoh Tarekat Kemasonan Indonesia menghadap Presiden Soekarno (Dokumentasi Perpustakaan Nasional)

Ryzki Wiryawan, pegiat sejarah Kota Bandung, mencatat anggota Tarekat Kemasonan yang berasal dari pejabat non Eropa antara lain Bupati Bandung Aria Wiranatakusumah V, Bupati Bogor Wisaksono Wirdjodihardjo dan Bupati Banjarnegara sekaligus Guru Agung Tarekat Kemasonan Indonesia pertama, Soemitro Kolopaking.

Dua pejabat penting lain asli Hindia Belanda yang tercatat sebagai anggota tarekat adalah Loa Sek Hie dan Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wedyodiningrat.

Loa, sebagaimana dicatat Stevens, pernah menjabat anggota Dewan Rakyat Hindia Belanda (Voolksraad). Sementara itu, Radjiman yang berprofesi sebagai dokter memiliki jejak penting pada masa pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Radjiman mendirikan dan pernah memimpin Boedi Oetomo. Jelang 17 Agustus 1945, Radjiman terpilih menjadi ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerderkaan Indonesia. Terang Ryzki Wiryawan seperti yang dikutip situs berita CNN Indonesia.

Loa juga menjadi anggota Dewan Kota Batavia (Gemeenteraad), dan salah-satu pendiri Jang Seng Ie, sekarang berubah nama menjadi Rumah Sakit Husada.

Tahun 1992 Loa membantu Liem Bwan Tjie seorang arsitek yang baru kembali dari negeri China. Pemerintah Hindia Belanda menuduh Liem Bwan  sebagai simpatisan Komunis. Berkat bantuannya, Liem Bwan akhirnya dapat menetap di Batavia.

Sisi Kelam Laskar  Pao An Tui

Meskipun Benny G Setiono, penulis buku Tionghoa dalam Pusaran Politik, berupaya keras membersihkan nama  Pao An Tui dalam torehan sejarah. Tetapi Teguh, salah seorang wartawan senior Republika berdarah China Betawi menyatakan bahwa Po An Tui adalah sisi kelam masyarakat China
Pada awal kemerdekaan Indonesia.

Pernyataan Teguh seperti yang tertulis dalam situs Republika.co.id (28/2/2016). Menurutnya, ada milisi bersenjata, yakni Pao An Tui, yang bercitra buruk di mata rakyat Indonesia. Karena milisi yang  dibentuk secara ‘nasional’ sekitar  pertengahan 1947 ini dulu dilatih dan dipersenjatai oleh tentara Belanda (KNIL). Tempat latihan militer mereka adalah di Cimahi, Jawa Barat

Fakta Pao An Tui tidak berpihak pada Republik Indonesia juga dibuktikan dengan adan serangan laskar Pao An Tui di Medan ke pihak TNI yang saat itu di komandoi oleh Jamin Ginting. Alasan penyerangan mereka adalah karena ingin membalas dendam kepada  terhadap ‘laskar liar’. ’’Akibat penyerangan ini mereka pun balik dihabisi oleh pasukan TNI yang dipimpin Jamin Ginting itu,’’ katanya.

Menurut Teguh, bila kini ada pembelaan terhadap Pao An Tui dasarnya hanya mengacu pada sebuah memoar yang ditulis Oei Tjoe Tat. Dia mengatakan bahwa Pao Aun Tui tidak menghalangi kemerdekaan Indonesia.

‘’Memoar inilah yang banyak dikutip sejarawan Cina di Indonesia. Selain itu tak ada. Bahkan catatan sejarah lain menyatakan Pao An Tui pada perstiwa 10 November 1945 memihak pada tentara Belanda. Data ini diperkuat berbagai foto perang kemerdekaan yang ada di arsip Belanda, yakni dalam situs gahetna.nl. Di sana jelas sekali terlihat fakta bahwa Pao An Tui dilatih oleh KNIL (tentara Belanda),’’ tegasnya. (ze)

Sumber: mediaharapan.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.345 kali, 1 untuk hari ini)