Foto ytb


Seiring berjalannya waktu, kata sontoloyo mengalami pergeseran makna hingga dua ribu tiga belas sepuluh ribu ratus derajat. Dari semula digunakan untuk menyebut profesi penggembala bebek menjadi kata umpatan yang bahkan sama panas dengan kata bajingan dan brengsek. Dan perubahan makna itu bahkan dicatat oleh sejumlah literasi dan panduan-panduan berbahasa.

Poerwadarminta, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia terbitan 1952 menyertakan kata sontolojo dengan arti dungu atau bodoh sekali. Sedang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesiaterbitan 1976, sontoloyo dimaknai sebagai konyol, tidak beres, hingga bodoh. Konotasi negatif kata sontoloyo pun abadi, seenggaknya sampai Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesiaditerbitkan pada tahun 2016. Dalam kitab berbahasa yang disusun Eko Endarmoko itu, sontoloyo dimaknai sebagai brengsek dan konyol./ https://www.era.id/read

***

Seorang Mukmin yang benar, bukanlah seorang yang banyak mencela, bukan yang banyak melaknat, bukan orang yang keji, dan bukan pula orang yang omongannya kotor.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam suri tauladan kita, bukan seorang yang sering melontarkan celaan, kutukan dan ucapan-ucapan keji. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.

Beliau juga bersabda :

     سِبَابُ المسْلِمِ فُسُوْقٌ

Mencaci maki seorang Muslim adalah suatu kefasikan.

Dalam riwayat lain disebutkan :

اَلْمُسْتَبَّانِ شَيْطَانَانِ يَتَهَاتَرَانِ وَيَتَكَاذَبَانِ

Dua orang yang saling memaki adalah seperti dua syaitan yang saling menjatuhkan dan mendustakan lawannya.

Dalam sebuah riwayat dari Jabir disebutkan:

قَالَ جَابرٌ بن سليْم رَضيَ اللهُ عَنْه : قُلْتُ: اعْهَدْ إِلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا قَالَ: فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا، وَلَا عَبْدًا، وَلَا بَعِيرًا، وَلَا شَاةً،

Dari Jabir bin Salîm z bercerita, “Aku berkata, ‘Buatlah ikatan perjanjian denganku wahai Rasûlullâh!’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menjawab, “Janganlah sekali-kali engkau memaki orang lain“. Kata Jabir, “Sejak itulah aku tidak pernah memaki seorang pun, baik ia orang merdeka atau hamba sahaya, termasuk tidak memaki unta dan kambing”. [HR Abu Dawud]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepadanya, “Jika ada orang yang mencela dan memakimu dengan celaan yang dia tahu ada pada dirimu, maka janganlah kamu balas mencelanya dengan celaan yang engkau tahu ada pada dirinya. Karena akibat celaannya itu hanya kembali kepada dia.” [HR. Abu Daud]

Read more https://almanhaj.or.id/7404-seorang-mukmin-bukan-orang-yang-hobi-mencela.html

***

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain).

***

Mencontohi keburukan akan mendapatkan dosa dan tambahan dosa dari para penirunya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim).

Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” (HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya)./konsultasisyariah.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 301 kali, 1 untuk hari ini)