Pengamat: Teror di Sarinah, pemerintah wajib bertanggung jawab.

“Yang pasti tiga oknum pejabat negara harus bertanggung jawab. Kapolri, Menkopolhukam dan KaBIN,” tegas seorang pengamat.

“Sekurang-kurangnya mereka harus direshufle,” lanjut pengamat itu.

Inilah beritanya.

***

FPI: Teror Sarinah, Gerakan Intelijen Asing Teror Umat Islam Indonesia

intelijen – DPP Front Pembela Islam (FPI) mengeluarkan pernyataan sikap terkait aksi teror penyerangan dan peledakan di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat (14/01).

FPI menduga, ‘teror Sarinah’ terkait dengan adanya gerakan intelijen asing untuk menterorisasi umat Islam di Indonesia.

Berikut pernyataan sikap DPP FPI di akun Twitter ‏@DPP_FPI, yang ditandatangani Ketua Umum FPI KH Ahmad Shobri Lubis:

  1. DPP FPI mengutuk dan mengecam segala bentuk teror bom di NKRI, apalagi sampai menimbulkan korban.
  2. FPI bersimpati kepada semua korban dan mendesak pemerintah memberikan pengobatan sampai sembuh dan santunan kepada keluarga korban tewas.
  3. Segala teror bom di negeri aman adalah kejahatan berat. Tidak ada kaitan antara teror bom dan agama Islam.
  4. FPI menduga adanya gerakan intelijen asing utk menterorisasi umat Islam Indonesia.
  5. Mendesak pemerintah RI khususnya Polri agar menangkap, mengungkap dan menghukum pelaku teror secara profesional tanpa membabi buta.
  6. Mendesak pemerintah terutama Polri agar lebih meningkatkan keamanan serta melindungi segenap bangsa Indonesia.

Sebelumnya, Ketua Umum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi DKI Jakarta, Ustadz Fahmi Salim, berharap bahwa isu fitnah teroris terhadap ormas Wahdah Islamiyah tidak ditutupi aksi teror di Kompleks Sarinah, Jakarta Pusat (14/01).

“Jangan isu fitnah teroris ditutupi oleh aksi teror hari ini,” tulis Fahmsi Salim di akun Twitter @Fahmisalim2.

Akun @Fahmisalim2 menyertakan poster bergambar sejumlah tokoh Islam yang berkomentar soal fitnah terhadap Wahdah Islamiyah. Salah satunya pertanyataan tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid. Hidayat menegaskan bahwa: “Menuduh seseorang sebagai teroris, apalagi tidak diikuti bukti-bukti, merupakan tindakan terorisme”./ http://www.intelijen.co.id

***

Teror di Sarinah, pemerintah wajib bertanggung jawab

A.Z. MuttaqinKamis, 4 Rabiul Akhir 1437 H / 14 Januari 2016 18:54

Pertemuan Jaksa Agung

Pertemuan Jaksa Agung George Brandis dan Menteri Kehakiman Australia Michael Keenan dengan Menko Polhukam Luhut juga diikuti sejumlah pejabat tinggi RI lainnya seperti Kapolri Badrodin Haiti, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, YM Yasonna H. Laoly (yang tak hadir dalam jumpa pers). Pertemuan membahas pemberantasan terorisme, kedua negara akan fokus pada kerjasama intelijen, tiga pekan sebelum teror Sarinah, Senin (21/12/2015)

JAKARTA (Arrahmah.com) – Menurut Jaka Setiawan pengamat intelijen independen, pemerintah Indonesia dalam hal ini Kapolri, Kepala BIN, dan Menkopolhukam wajib bertanggung jawab atas tragedi teror di area Sarinah, Jakarta Pusat yang menewaskan enam warga masyarakat.

“Yang pasti tiga oknum pejabat negara harus bertanggung jawab. Kapolri, Menkopolhukam dan KaBIN,” tegasnya kepada Arrahmah.com, Kamis petang

“Sekurang-kurangnya mereka harus direshufle,” lanjut Jaka.

Dirinya mengungkapkan bahwa telah terjadi kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan Australia mengenai kerjasama bidang terorisme tiga pekan sebelum teror Sarinah ini meledak, tepatnya Senin (21/12/2016).

“Kedatangan Jaksa Agung Australia George Brandis ke Kantor Menkopolhukam dan pernyataannya di Media The Australia bahwa akan terjadi serangan teror di Jakarta, Jawa Tengah cuma direspon dengan siaga satu,” katanya mencurigai.

“Entah Brandis dapat info dari mana? bisa dari intelijen Indonesia atau dari Kepolisian Federal Australia? dan sepertinya ini sudah “direncanakan”. Tengok ke Polri, BNPT, BIN, Densus 88 dan Menkopolhukam,” sambung Jaka mempertanyakan.

Dikatakannya, Brandis datang ke Kantor Menkopolhukam beberapa waktu sebelum persidangan PK Ustaz Abu Bakar Baasyir dan sebelum divestasi Freeport. Saat itu hadir Kepala BIN dan Kapolri.

Luhut bertemu Brandis

Mengutip Antara Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan mengadakan pertemuan dengan Jaksa Agung Australia George Brandis membahas masalah keamanan jelang akhir tahun.

“Tadi kami membahas masalah kontra terorisme, keamanan siber, dan kerja sama intelijen,” kata Luhut dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (21/12).

Dalam pertemuan itu, hadir pula Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman Nasution, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Muhammad Yusuf, dan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) Mayjen TNI M Erwin Syafitri.

“Ini pertemuan pertama kali dan baru selengkap ini. Ini juga akan menjadi reguler, rencananya tahun depan gantian kami yang akan diundang ke Australia,” ujar Luhut.

Sementara itu, menurut Jaksa Agung Australia George Brandis pertemuan ini untuk membahas isu kerja sama keamanan antara Indonesia dan Australia.

“Kami memperkuat hubungan antarkedua negara untuk sama-sama menanggulangi masalah terorisme, misalnya, serangan dari ISIS. Kami juga membahas kerja sama intelijen,” ujar Brandis dalam konferensi pers tersebut.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Polisi Badrodi Haiti menyatakan kepolisian telah menangkap sembilan orang terduga teroris di lima tempat berbeda yaitu di Cilacap, Tasikmalaya, Sukoharjo, Mojokerto, dan Gresik. Mereka antara lain R, YS, AR, ZA, MKH, TP, IM, JA, dan AK.

“Mereka ini ada yang eks Jamaah Islamiyah (JI) dan ada juga korelasinya dengan ISIS,” kata Kapolri. (azmuttaqin/arrahmah.com)

***

Berkasih Sayang kepada mereka yang menentang Allah

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al-Mujadilah, 58: 22)

Seorang mu’min tidak akan pernah berkasih sayang kepada orang yang memerangi dan menentang kepada Allah Ta’ala. Jika mereka melakukan hal seperti itu tentulah amat merugi, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan bahwa seseorang itu di akhirat akan bersama orang-orang yang dicintainya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ». قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الإِسْلاَمِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ». قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: ‘Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?’, beliau bersabda: ‘Apa yang kamu telah siapkan untuk hari kiamat’, orang tersebut menjawab: ‘Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya’, beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai’, Anas berkata: “Kami tidak pernah gembira setelah masuk Islam lebih gembira disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai’, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” (HR. Muslim).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.730 kali, 1 untuk hari ini)