kuburan keramatIlustrasi/ pustaka alkautsar jkt

Salah satu bentuk terrorisme yang mengatasnamakan religi adalah meneror orang dengan suara keras berjama’ah bercover ‘dzikir’ atau ‘doa’ atau ‘munajat’. Karena meneror, pastinya mengganggu dan membuat panik beberapa orang. Kadang memasang petasan dan kembang api.

Tetapi karena mengatasnamakan Islam, yang merupakan agama kita semua alhamdulillah, maka kita tak berdaya, mengira begitulah memang cara beribadah yang tak boleh diganggu, meskipun mengganggu. Padahal Islam tak mengajarkan seperti itu, bahkan memeranginya. Namun sejak mereka menganggap itu adalah ibadah, maka mereka langgeng sangat dan jumawa melakukannya, sementara tetangga dibiarkan dan dilatih untuk membiasakan diri dalam siksaan terorisme.

Aslinya memang ibadah, tetapi karena caranya seperti itu, maka malah jadi bid’ah, bukan ibadah. Konyolnya, ketika kita sebut itu bid’ah, mereka menentang dan pendapat mereka tidak keluar dari 2 pilihan:

(1) “Ini bukan bid’ah!” Nah, teman-teman yang tidak membid’ahkan perayaan Maulid Nabi namun tidak setuju dengan cara dzikir mereka, seharusnya mentahdzir mereka atau minimal menunjukkan pengingkaran. Namun, sejak ritual tersebut dilakukan oleh orang segolongan yang merasa the only Ahlus Sunnah wal Jama’ah (padahal bergelimang bid’ah), maka diam saja. Daripada mengidentifikasi kebobrokan golongan sendiri, mending menghadapi musuh golongannya: Salafy. Gitu,kan?

(2) “Jikalau ini bid’ah, ini bid’ah hasanah!” Nah ini juga tantangan bagi teman-teman yang mengingkari bahwa semua bid’ah itu sesat namun dirinya tidak setuju dengan ritual lebay ini. Mau lari ke mana? Ini akibat dari adanya tahsin, tajwid dan tartil dalam urusan bid’ah secara syar’i. Semua akan berhujjah ini bid’ah hasanah. Kalau begitu, lama-lama hadits “kullu bid’atin dhalalah” diliburkan aplikasinya di kehidupan dan beralih: semua bid’ah yang kalian lakukan pasti hasanah. What a mess! What a joke! Namun daripada mengidentifikasi dan mengkritik kebobrokan golongan sendiri, lebih baik menelaah kitab-kitab Ibnu Utsaimin, Ibnu Baaz, Al-Albany, Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, tanpa niatan mencari ilmu,melainkan mencari kesalahan mereka. Karena menemukan ketergelinciran mereka menyenangkan kalian, seolah-olah menemukan segunung kotoran kerbau yang bisa kalian pasarkan di beceknya kumpulan orang semacam kalian. Iya, kan?

Kalau you mau sedikit jujur dan setidaknya melepaskan diri dari fanatisme pada golongan sendiri atau hawa nafsu dan tidak hipokrit, ingkari ritual kawan-kawanmu itu. Jangan hanya mengingkari ijtihad ulama yang kalian anggap ‘Wahabi’ itu terang-terangan hingga orang-orang segolongan kalian sorak-sorai lalu menari-nari dan menganggapmu sebagai pahlawan mereka. Tapi coba beranikah kalian ingkari ritual peneror di malam Jum’at atau malam Maulid atau malam Nishfu Sya’ban yang mengganggu manusia?

Apakah itu bukan bid’ah?
Jikalau itu memang bid’ah, apa itu memang bid’ah hasanah?
Atau itu hanya rasa takutmu saja pada golongan sendiri karena kalau berkata beda sedikit menyelisihi tradisi kalian, you bakal dicela?

Fake as they’re doing tonight.

***

Tidak boleh berbuat mudhorot

Hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh berbuat mudhorot pada orang lain (secara mutlak), dan tidak boleh berbuat mudhorot (walau untuk membalas kejahatan orang lain).” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3: 77, Al Baihaqi 6: 69, Al Hakim 2: 66).

Syaikh Ahmad Az Zarqo berkata :

“Para ulama’ berselisih tentang perbedaan antara kedua lafadl ini menjadi banyak pendapat, namun telah disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar al Haitsami dalam syarah Arba’in Nawawi bahwa yang paling bagus adalah bahwa makna لا ضرر adalah larangan berbuat yang membahayakan orang lain secara muthlak, sedangkan makna لا ضرار adalah jangan berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain meskipun untuk membalas perbuatan jahatnya.”

( Lihat Syarah Qowa’id Fiqhiyyah hal : 140)

Hadits ini menunjukkan bahwa semua bentuk perbuatan yang membahayakan harus dihilangkan dan tidak boleh di kerjakan, karena Rosululloh mengungkapkannya dengan bentuk penafian, yang  mencakup semua bentuk perbuatan yang membahayakan. (LihatAl Wajiz hal : 252)

Al Munawi berkata :

“Hadits ini mencakup semua bentuk perbuatan yang membahayakan, karena kalimat dengan bentuk nakiroh kalau jatuh setelah lafadl penafian menunjukkan keumuman.”

(Lihat Faidlul Qodir 6/431)

Semua keterangan ini adalah tertuju pada larangan untuk berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain kalau tanpa ada sebab yang membenarkan perbuatan tersebut. (http://ahmadsabiq.com, Tidak boleh berbuat sesuatu yang membahayakan)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.786 kali, 1 untuk hari ini)