Terungkap Bukti Misi China Robohkan Masjid dan Situs Suci Uighur di Xinjiang

 

 


ASIA

Terungkap Bukti Misi China Robohkan Masjid dan Situs Suci Uighur di Xinjiang

 

Penyelidikan yang dilakukan oleh media Inggris The Guardian dan Bellingcat menemukan upaya penghancuran masjid di China, tepatnya di provinsi Xinjiang yang mayoritas Muslim. Tak hanya masjid, pemerintah komunis China juga menghancurkan situs-situs suci Muslim Uighur, yang menjadi bukti bagaimana China berupaya melakukan genosida budaya minoritas ini. Pemerintah China membantah bukti itu dan mengatakan mereka hanya tengah berjuang melawan ekstremisme.

Oleh: Lily Kuo (The Guardian)

Baca Juga: China Gunakan Puasa Ramadan untuk Lakukan Penangkapan Muslim di Xinjiang

Di musim ini, tepi gurun Taklamakan di China barat jauh biasanya dipenuhi orang. Selama beberapa dekade, setiap musim semi, ribuan Muslim Uighur akan berkumpul di tempat suci Imam Asim, sekelompok bangunan dan pagar di sekitar pemakaman lumpur kecil yang diyakini berisi sisa-sisa seorang pejuang suci dari abad ke delapan.

Peziarah dari seberang oasis Hotan biasanya datang mencari penyembuhan, kesuburan, dan pengampunan, berjalan melalui pasir mengikuti jejak orang-orang di depan mereka. Itu adalah salah satu festival suci Muslim Uighur terbesar di wilayah ini. Peziarah meninggalkan persembahan dan mengikatkan kain ke ranting-ranting, penanda doa mereka. Mengunjungi tempat suci ini tiga kali, diyakini, sama baiknya dengan menyelesaikan ibadah haji, sebuah perjalanan yang tidak mampu dilakukan oleh banyak orang di Xinjiang selatan yang terbelakang.

Tapi tahun ini, tempat suci Imam Asim kosong. Masjidnya, khaniqah, tempat untuk ritual sufi, dan bangunan lainnya telah diruntuhkan, hanya tinggal makam. Persembahan dan bendera telah menghilang. Peziarah tidak lagi berkunjung.

Ini adalah salah satu dari lebih dari puluhan situs agama Islam yang sebagian atau seluruhnya telah dihancurkan di Xinjiang sejak tahun 2016, menurut sebuah penyelidikan oleh Guardian dan situs jurnalisme sumber terbuka Bellingcat yang menawarkan bukti baru tentang penghancuran masjid berskala besar oleh China di wilayah di mana kelompok-kelompok hak asasi mengatakan minoritas Muslim mengalami penindasan.

Dengan menggunakan citra satelit, analis sumber terbuka Guardian dan Bellingcat, Nick Waters, memeriksa lokasi 100 masjid dan tempat suci yang diidentifikasi oleh mantan penghuni, peneliti, dan alat pemetaan.

Dari 91 situs yang dianalisis, 31 masjid dan dua tempat suci utama, termasuk kompleks Imam Asim dan situs lainnya, mengalami kerusakan struktural yang signifikan antara tahun 2016 dan 2018.

Dari jumlah tersebut, 15 masjid dan kedua tempat suci tampaknya telah sepenuhnya atau hampir sepenuhnya dihancurkan. Gudang, kubah, dan menara masjid juga diruntuhkan.

Sembilan lokasi lebih lanjut diidentifikasi oleh mantan penduduk Xinjiang sebagai masjid, tetapi bangunan yang tidak memiliki indikator masjid yang jelas seperti menara atau kubah, juga tampaknya telah dihancurkan.

Dengan dalih memunsnahkan ekstremisme agama, China telah mengawasi kampanye intensif pengawasan dan pemolisian massal minoritas Muslim―banyak dari mereka adalah orang-orang Uighur, sekelompok warga berbahasa Turki yang memiliki lebih banyak kesamaan dengan warga negara Asia Tengah daripada sesama warga China lainnya yang merupakan keturunan China Han. Para peneliti mengatakan sebanyak 1,5 juta warga Uighur dan Muslim lainnya telah secara tak sengaja dikirim ke kamp pengasingan atau pendidikan ulang, klaim yang China bantah.

Para pegiat dan peneliti percaya pihak berwenang telah melibas ratusan, bahkan ribuan masjid sebagai bagian dari kampanye itu. Tetapi kurangnya catatan dari situs-situs ini―banyak di antaranya adalah masjid dan tempat suci desa kecil―mempersulit jurnalis yang melakukan perjalanan secara independen di Xinjiang, dan pengawasan yang meluas terhadap warga juga mempersulit konfirmasi laporan kehancuran situs-situs tersebut.

Lokasi yang ditemukan oleh Guardian dan Bellingcat menguatkan laporan sebelumnya dan juga menandakan peningkatan baru dalam pengekangan keamanan saat ini: penghancuran tempat suci. Walaupun ditutup tahun lalu, tempat suci-tempat suci besar yang belum pernah dilaporkan sebelumnya dihancurkan. Para peneliti mengatakan penghancuran tempat-tempat suci yang dulunya merupakan tempat ziarah massal―praktik utama bagi Muslim Uighur―merupakan bentuk baru serangan terhadap budaya mereka.


Komposit tiga arah tempat suci Jafari Sadiq. (Foto: Planet Labs)

“Gambar-gambar Imam Asim di reruntuhan cukup mengejutkan. Untuk jemaah yang lebih rajin, pemandangan reruntuhan itu akan memilukan,” kata Rian Thum, seorang sejarawan Islam di Universitas Nottingham.

Sebelum pemusnahan itu, para peziarah juga berjalan 70 kilometer ke padang pasir untuk mencapai tempat suci Jafari Sadiq, untuk menghormati Jafari Sadiq, seorang pejuang suci yang jiwanya diyakini telah melakukan perjalanan ke Xinjiang untuk membantu membawa Islam ke wilayah tersebut. Makam itu, di sebuah tebing di padang pasir, tampaknya telah dirobohkan pada bulan Maret 2018. Bangunan-bangunan untuk menampung para peziarah di sebuah kompleks yang berdekatan juga hilang, menurut citra satelit yang ditangkap bulan ini.


Sebelum dan sesudah gambar tempat suci Jafari Sadiq. 10 Des 2013 dan 20 April 2019. (Foto: Google Earth/Planet Labs)

“Tidak ada yang bisa mengatakan lebih jelas kepada orang Uighur bahwa negara China ingin memusnahkan budaya mereka dan memutuskan hubungan mereka dengan makam leluhur mereka dan tempat suci yang menjadi tonggak sejarah Uighur,” kata Thum.

‘KETIKA MEREKA TUMBUH DEWASA, INI AKAN MENJADI ASING BAGI MEREKA’

Masjid Kargilik, di pusat kota tua Kargilik di Xinjiang selatan, adalah masjid terbesar di daerah itu. Orang-orang dari berbagai desa berkumpul di sana setiap minggu. Masjid itu memiliki menara yang tinggi, jalan masuk yang mengesankan, dan taman yang dipenuhi dengan bunga dan beberapa pohon.

Masjid itu, yang sebelumnya diidentifikasi oleh aktivis online Shawn Zhang, tampaknya hampir sepenuhnya dihancurkan di beberapa titik pada tahun 2018, dengan pintu gerbangnya dan bangunan lainnya dihancurkan, menurut gambar satelit yang dianalisis oleh Guardian dan Bellingcat.

Tiga warga setempat, staf di restoran terdekat dan sebuah hotel, mengatakan kepada Guardian bahwa masjid itu telah diruntuhkan dalam setengah tahun terakhir. “Masjid itu hilang. Masjid terbesar di Kargilik,” kata seorang pekerja restoran.

Masjid besar lainnya, masjid Yutian Aitika dekat Hotan, tampaknya telah dihancurkan pada bulan Maret tahun lalu. Sebagai masjid yang terbesar di distriknya, penduduk setempat biasanya berkumpul di sini saat festival-festival Islam. Masjid itu telah dibangun sejak tahun 1200.

Meskipun masuk ke dalam daftar situs sejarah dan budaya nasional, pos jaga dan bangunan lainnya telah diruntuhkan pada akhir 2018, menurut gambar satelit yang dianalisis oleh Zhang dan dikonfirmasi oleh Waters. Bangunan yang dihancurkan itu kemungkinan adalah bangunan yang telah direnovasi pada tahun 1990-an.

Dua warga setempat yang bekerja di dekat masjid, pemilik hotel, dan karyawan restoran, mengatakan kepada Guardian bahwa masjid itu telah diruntuhkan. Seorang penduduk mengatakan dia mendengar masjid akan dibangun kembali tetapi lebih kecil, untuk membuka ruang bagi toko-toko baru.

“Banyak masjid yang hilang. Di masa lalu, di setiap desa seperti di daerah Yutian memiliki masjid,” kata seorang pemilik restoran China Han di Yutian, yang memperkirakan sebanyak 80 persen masjid telah diruntuhkan.

“Sebelumnya, masjid adalah tempat bagi umat Islam untuk berdoa, mengadakan pertemuan. Dalam beberapa tahun terakhir, semua kegiatan itu dibatalkan. Bukan hanya di Yutian, tapi seluruh area Hotan,” katanya.

Aktivis mengatakan penghancuran situs-situs bersejarah ini adalah cara untuk mengasimilasi generasi Uighur berikutnya. Menurut mantan penduduk, sebagian besar warga Uighur di Xinjiang sudah tidak lagi pergi ke masjid, yang sering dilengkapi dengan sistem pengawasan. Kebanyakan mengharuskan pengunjung untuk mendaftarkan ID mereka. Festival massal di tempat suci seperti yang diselenggarakan di Imam Asim telah dihentikan selama bertahun-tahun.

Menghapus bangunan, kata para kritikus, akan menyebabkan anak-anak dan generasi Uighur berikutnya yang tumbuh di China kesulitan untuk mengingat latar belakang mereka yang khas.

“Jika generasi saat ini ditahan dan warisan budaya yang mengingatkan mereka tentang asal mereka dihancurkan … ketika mereka tumbuh dewasa, ini akan menjadi asing bagi mereka,” kata seorang mantan warga Hotan, merujuk pada sejumlah orang Uighur yang diyakini ditahan di kamp-kamp, ​​banyak dari mereka dipisahkan dari keluarga mereka selama berbulan-bulan, kadang-kadang bertahun-tahun.


Festival tempat suci Imam Asim 2010. (Foto: Rian Thum via The Guardian)

“Masjid yang dihancurkan adalah salah satu dari beberapa hal yang dapat kita lihat secara fisik. Hal-hal lain apa yang terjadi namun ditutup-tutupi dan tidak kita ketahui? Itu yang menakutkan,” katanya.

SINOFIKASI ISLAM

China membantah tuduhan bahwa mereka menargetkan minoritas Muslim, membatasi praktik agama dan budaya mereka, atau mengirim mereka ke kamp pendidikan ulang. Menanggapi pertanyaan tentang masjid yang dihancurkan, juru bicara kementerian luar negeri Geng Shuang mengatakan dia “tidak mengetahui situasi yang disebutkan”.

“China mempraktikkan kebebasan beragama dan dengan tegas menentang dan memerangi pemikiran ekstremis agama… Ada lebih dari 20 juta Muslim dan lebih dari 35.000 masjid di China. Sebagian besar orang dapat dengan bebas melakukan kegiatan keagamaan sesuai dengan hukum,” katanya dalam pernyataan melalui faks kepada Guardian.


Sebuah masjid yang dihancurkan di kota tua Kashgar, wilayah otonomi Xinjiang Uighur, China. (Foto: Getty Images/Corbis/Art in All of Us/Eric Lafforgue)

Tetapi China terbuka tentang tujuannya untuk “sinofikasi” agama seperti Islam dan Kristen agar lebih sesuai dengan “kondisi nasional” China. Pada bulan Januari, China mengesahkan rencana lima tahun untuk “membimbing Islam agar kompatibel dengan sosialisme”. Dalam pidato pada akhir Maret, sekretaris partai Chen Quanguo yang telah memimpin penindakan keras sejak tahun 2016 mengatakan pemerintah di Xinjiang harus “meningkatkan kondisi tempat-tempat keagamaan untuk membimbing” agama dan sosialisme untuk beradaptasi satu sama lain”.

Menghancurkan bangunan atau fitur Islam adalah salah satu cara untuk melakukan itu, menurut para peneliti.

“Arsitektur Islam Xinjiang, yang terkait erat dengan gaya India dan Asia Tengah, memperlihatkan kepada publik hubungan kawasan itu dengan dunia Islam yang lebih luas,” kata David Brophy, seorang sejarawan Xinjiang di Universitas Sydney. “Menghancurkan arsitektur ini berfungsi untuk memperlancar jalan bagi upaya untuk membentuk Islam Uighur ‘yang baru didominasikan’.”

Para ahli mengatakan menghancurkan situs-situs keagamaan menandai kembalinya praktik-praktik ekstrem yang tidak terlihat sejak Revolusi Kebudayaan ketika masjid-masjid dan tempat-tempat suci dibakar, atau pada tahun 1950-an ketika tempat-tempat suci diubah menjadi museum sebagai cara untuk menghapusnya.

Saat ini, para pejabat menggambarkan setiap perubahan pada masjid-masjid sebagai upaya untuk “merenovasi” bangunan tersebut. Di Xinjiang, berbagai kebijakan untuk merenovasi masjid termasuk menambah listrik, jalan, radio, televisi, “toko buku budaya,” dan toilet. Lainnya termasuk melengkapi masjid dengan komputer, unit pendingin udara, dan loker.

“Itu adalah kode untuk memungkinkan mereka menghancurkan tempat-tempat yang mereka anggap menghalangi atau tidak aman, untuk secara progresif dan terus-menerus berusaha memberantas banyak tempat ibadah bagi kaum Uighur dan minoritas Muslim,” kata James Leibold, seorang profesor di Universitas La Trobe yang berfokus pada hubungan etnis.

Para kritikus mengatakan pihak berwenang berusaha untuk menghapus sejarah tempat suci. Rahile Dawut, seorang akademisi Uighur terkemuka yang mendokumentasikan tempat-tempat suci di Xinjiang, menghilang pada tahun 2017. Rekan dan kerabatnya percaya dia telah ditahan karena pekerjaannya dalam melestarikan tradisi Uighur.

Dawut mengatakan dalam sebuah wawancara pada tahun 2012: “Jika seseorang menghapus … tempat-tempat suci ini, orang-orang Uighur akan kehilangan kontaknya dengan bumi. Mereka tidak lagi memiliki sejarah pribadi, budaya, dan spiritual. Setelah beberapa tahun kami tidak akan memiliki ingatan tentang mengapa kami tinggal di sini.”

Keterangan foto utama: Masjid Keriya Aitika pada November 2018. Gerbang dan kubahnya telah dipindahkan, bagian dari perusakan masjid di Xinjiang, China. (Foto: Planet Labs)

 
 

matamatapolitik.com, Posted on May 8, 2019 at 9:05 PM

(nahimunkar.org)

KETAHUI LEBIH JAUH TENTANG REPRESI MINORITAS MUSLIM DI CHINA

SIAPA SEBENARNYA MUSLIM UIGHUR?

Mereka ditahan dan diindoktrinasi. Satu-satunya masalah yang diperselisihkan adalah, berapa banyak dari sekitar 10 juta orang Kaum Uighur di Xinjiang, yang secara paksa “dibantu” dengan cara ini.

MENGAPA CHINA TINDAS MUSLIM UIGHUR?

Aliansi ekonomi dan infrastruktur China-Iran memberi potensi menggiurkan berupa dominasi atas Eurasia. Namun untuk mewujudkannya, populasi Uighur harus tunduk patuh pada pemerintah China, karena semua jalur perdagangan antara China pesisir dan Timur Tengah harus melewati Xinjiang.

BAGAIMANA KEYAKINAN DAN IDENTITAS MUSLIM DIBUNUH DI CHINA

Urumqi adalah laboratorium polisi raksasa, di mana minoritas Muslim diperlakukan sebagai subjek uji coba dalam eksperimen anti-agama. Tembok, pintu gerbang, dan penempatan polisi, adalah bagian dari upaya untuk menghilangkan bentuk-bentuk praktik Islam yang tidak diinginkan.

48 HAL SEDERHANA YANG MEMBUAT MUSLIM CHINA DIJEBLOSKAN KE KAMP KONSENTRASI

Tidak ada orang Uighur yang tinggal di Xinjiang yang dapat lolos dari bayang-bayang partai, begitu juga anggota etnis minoritas lainnya, terutama Kazakh.

MINORITAS MUSLIM YANG TERLIHAT TAAT BERAGAMA DITANGKAPI DI XINJIANG

Nama-nama Islam, jenggot, cadar, dan rok panjang dilaporkan dilarang digunakan. Kegiatan apa pun mulai dari membaca situs web asing hingga berbicara kepada sanak keluarga di luar negeri dapat membuat penduduk Xinjiang ditahan.

CHINA BANTAH PENINDASAN TERHADAP MINORITAS MUSLIM

Mereka mengatakan bahwa pihak berwenang China “memberikan pelatihan kejuruan gratis dengan ijazah setelah ujian” kepada mereka yang telah “dipaksa atau dipikat” oleh kelompok-kelompok ekstremis.

BAGI UIGHUR, AFGHANISTAN LEBIH AMAN DARIPADA CHINA

Beijing mengklaim bahwa terorisme menyebar dari Afghanistan ke Xinjiang. Namun dalam kenyataannya, penindasan dan konflik etnis China di Xinjiang membantu untuk semakin mengacaukan Afghanistan.

1 JUTA MUSLIM CHINA DITAHAN DAN DIPAKSA BERSUMPAH SETIA KEPADA XI JINPING

Sebuah komite hak asasi manusia PBB telah mendengar laporan bahwa China telah mengurung satu juta kaum Uighur di “pusat anti-ekstremisme”. Amnesty Internasional melaporkan, kaum yang ditahan di kamp-kamp politik itu dipaksa bersumpah setia pada Presiden China Xi Jinping.

CHINA PASANG ALAT PELACAK PADA WARGA MUSLIM YANG BERANGKAT HAJI

Para ahli mengatakan bahwa sistem ini kemungkinan mengisyaratkan bahwa pemerintah ingin memperluas pengawasan terhadap warganya—khususnya warga minoritas Muslim.

PARA PEMIMPIN DUNIA LEBIH PILIH UANG CHINA DARIPADA HAK 1 JUTA WARGA MUSLIM

Hanya ada sedikit negara di dunia yang bersedia menyuarakan protes mengenai kondisi minoritas China Muslim Uighur. Hal ini tampaknya disebabkan oleh ketergantungan besar negara-negara dunia kepada China secara ekonomi.

CHINA PERLAKUKAN MUSLIM LAYAKNYA PENGIDAP PENYAKIT MENTAL

Partai Komunis China: “(Muslim) terinfeksi oleh ekstremisme agama dan ideologi teroris yang kejam dan tidak mencari pengobatan, sama seperti terinfeksi oleh penyakit yang tidak diobati pada waktunya, atau seperti mengonsumsi obat-obatan beracun.”

REPRESI AGAMA DI CHINA: SALIB DIHANCURKAN, INJIL DIBAKAR

Pemerintah China mulai menekan pemeluk Kristen dan Katolik. Mereka menutup gereja, menghancurkan tanda salib, membakar injil, serta memaksa pemeluk Kristen menyangkal keimanan mereka dengan menandatangani suatu formulir.

SYARAT MASUK KE CHINA: GOOGLE HARUS BANTU PERSEKUSI WARGA MUSLIM

Tak lama setelah rencana Google untuk beroperasi di China terkuak, 14 organisasi HAM menulis surat terbuka kepada CEO Google yang mengatakan: “Google berisiko terlibat dalam penindasan pemerintah China terhadap kebebasan berbicara dan hak asasi manusia lainnya di China.”

CHINA: ‘KAMP INTERNIRAN MUSLIM’ DI XINJIANG HANYA SEKOLAH KEJURUAN

Selama berbulan-bulan, Beijing membantah keberadaan pusat-pusat penahanan itu, yang menurut para pengamat mulai diberlakukan pada April 2017.

DUNIA MEMBISU, PERANG CHINA LAWAN ISLAM BERLANJUT

Kecaman global dan tekanan politik terkesang ompong dan tak berdaya untuk membendung kecepatan dan keganasan perang China melawan warga Muslimnya dalam membersihkan negara tersebut dari populasi yang dianggap bertentangan dengan identitas nasionalnya.

MISTERIUS: MEREKA YANG ‘DIHILANGKAN’ CHINA SEPANJANG TAHUN 2018

Mulai dari bintang film hingga mahasiswa, tidak ada yang kebal dari ‘penghilangan orang’ oleh pemerintah China. Jumlah yang terus bertambah dan ruang lingkup yang meluas menunjukkan sejauh mana pemerintahan Xi bersedia mempertahankan kontrol dan otoritasnya.

CHINA TETAPKAN UU BARU AGAR ISLAM ‘LEBIH COCOK DENGAN SOSIALISME’

China baru saja mensahkan undang-undang baru yang berusaha untuk “Men-china-kan” Islam dalam lima tahun ke depan. Hal itu adalah langkah terbaru dari Beijing untuk mengatur ulang bagaimana agama tersebut dipraktikkan.

MUSLIM CHINA: CINTA ALLAH, CINTA NEGARA

Dengan kamp pendidikan ulang untuk sejuta Muslim Uighur di provinsi Xinjiang, ancaman pembongkaran masjid Muslim Hui di Ningxia, dan penutupan “gereja rumah” Protestan di Beijing, Chengdu, dan Guangzhou, PKC membatasi kebebasan beragama di seluruh negeri.

DI XINJIANG, PUASA DAN MENOLAK ALKOHOL DIANGGAP ‘TANDA EKSTREMISME’

Mempraktikkan agama secara terbuka atau berafiliasi kepada agama Islam—termasuk menumbuhkan janggut, mengenakan jilbab atau penutup kepala, salat, puasa, atau menghindari minum alkohol—dikategorikan sebagai “tanda-tanda ekstremisme” di China.

MENGAPA NEGARA-NEGARA ISLAM TAK BELA MUSLIM UIGHUR?

China mengajukan sejumlah besar klaim bohong. Mereka berbohong tentang kegagalannya meratifikasi inti dari perjanjian hak asasi manusia dan banyak pelanggaran dihukum dengan hukuman mati, penangkapan pembela hak asasi, dan catatan panjangnya menghalau badan-badan hak asasi internasional.

TERUNGKAP BUKTI: CHINA ROBOHKAN MASJID DAN SITUS SUCI UIGHUR DI XINJIANG

Penyelidikan yang dilakukan oleh media Inggris The Guardian dan Bellingcat menemukan upaya penghancuran masjid di China, tepatnya di provinsi Xinjiang yang mayoritas Muslim. Tak hanya masjid, pemerintah komunis China juga menghancurkan situs-situs suci Muslim Uighur.

CHINA LARANG MUSLIM UIGHUR PUASA RAMADAN

Pihak berwenang di Xinjiang memaksa restoran untuk tetap buka dan membatasi akses ke masjid selama Ramadan untuk mencegah ritual tradisional bulan Ramadan, dan dalam beberapa tahun terakhir telah mencoba untuk melarang Muslim Uighur berpuasa.

 matamatapolitik.com, Posted on May 8, 2019 at 9:05 PM

(nahimunkar.org)

 

***

China Dinilai Mendeklarasikan Perang terhadap Islam, Masjid yang Dihancurkan di China Dijadikan Toilet Umum


Posted on 18 Agustus 2020

by Nahimunkar.org


Seorang pejabat setempat di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang (XUAR) barat laut China, menyebut di bekas bangunan masjid yang telah dihancurkan di kota Atush (di China, Atushi), telah dibangun sebuah toilet umum.

 
 

Oleh beberapa pengamat, hal ini dinilai sebagai bagian dari kampanye dengan tujuan menghancurkan semangat Muslim Uighur yang ada di sana.

 
 

Dilansir di Radio Free Asia, Sabtu (15/8), laporan pembangunan kamar kecil di bekas situs Masjid Tokul, Desa Suntagh Atush ini, datang beberapa hari setelah Layanan Uyghur RFA mengetahui pihak berwenang merobohkan dua dari tiga masjid di sana.

 
 

Tindakan ini dilakukan guna melaksanakan arahan menghancurkan tempat ibadah Muslim secara massal yang diluncurkan pada akhir 2016, dikenal sebagai “Perbaikan Masjid”.

 
 

Upaya ini merupakan bagian dari serangkaian kebijakan garis keras di bawah pemimpin tertinggi Xi Jinping. Sebelumnya, mereka melakukan penahanan massal sebanyak 1,8 juta orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya di jaringan luas kamp interniran XUAR, yang dimulai pada April 2017.

 
 

RFA juga baru-baru ini melakukan wawancara telepon dengan Ketua Komite Lingkungan Uyghur dari desa Suntagh di Atush. Kota setingkat kabupaten ini berpenduduk sekitar 270 ribu orang di bawah administrasi prefektur Kashgar, wilayah penghasil kapas dan anggur di barat daya XUAR.  

 
 

Dalam wawancara tersebut, ketua komite meminta agar namanya dibuat anonim dengan alasan keamanan. Ia juga menyebut toilet telah dibangun sebagai ganti bangunan lama oleh rekan-rekan Han (China). “Ini toilet umum … mereka belum membukanya, tapi sudah dibangun,” katanya. 

 
 

Saat ditanya apakah memang ada kebutuhan WC umum di masyarakat sekitar, ia menyebut warga punya WC di rumah masing-masing. Sehingga tidak ada masalah terkait keberadaan toilet.

 
 

Ketua komite juga mengatakan, Suntagh terletak sekitar tiga kilometer di luar pusat Atush. Area itu hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali wisatawan yang sekiranya memerlukan akses ke kamar kecil.

 
 

Dia mengakui, pembangunan toilet tersebut kemungkinan besar untuk menutupi reruntuhan Masjid Tokul yang hancur. Selain itu untuk keperluan pemeriksaan kelompok atau kader yang berkunjung ke daerah tersebut.

 
 

Kepala desa mengatakan tidak jelas berapa banyak orang yang bisa ditampung oleh kamar kecil itu. “Itu masih tutup, jadi aku bahkan belum masuk,” katanya.

 
 

Warga Suntagh lainnya, yang juga menolak disebutkan namanya, mengatakan salah satu dari dua masjid yang baru-baru ini diketahui dirobohkan sekitar musim gugur 2019, Masjid Azna, telah diganti dengan “toko serba ada”. Toko ini menjual alkohol dan rokok yang penggunaannya tidak disukai dalam Islam.

 
 

Sebelumnya, seorang petugas keamanan publik di Suntagh membenarkan jika Masjid Azna dan Masjid Bastaggam telah dihancurkan. Sementara masjid yang berdiri sendiri, Masjid Teres, adalah yang terkecil dan dalam kondisi paling buruk dari ketiganya.

 
 

Dinasti Tang Tiongkok pertama kali mengenal Islam pada abad ketujuh. Masa ini lebih dari 1.000 tahun sebelum Dinasti Qing menetap di tempat yang sekarang disebut Xinjiang.

 
 

China sekarang menjadi rumah bagi lebih dari 22 juta Muslim, termasuk sekitar 11 juta orang Uyghur. Masjid dan situs keagamaan lainnya di Xinjiang rusak parah selama pergolakan politik pada Revolusi Kebudayaan 1966-1976 China.

 
 

Melalui penyelidikan awal terhadap kampanye Perbaikan Masjid, RFA menemukan pihak berwenang telah menghancurkan sekitar 70 persen masjid di seluruh XUAR.

 
 

Pada saat itu, pihak berwenang menyebut “keamanan sosial” sebagai alasan kampanye tersebut. Tampaknya hal itu berlanjut hingga tahun-tahun setelah 2016 dan terjadi intensifikasi penindasan komprehensif pihak berwenang terhadap Uighur.

 
 

Dalam satu laporan di tahun 2016, seorang pejabat lokal di daerah Lop (Luopu) prefektur Hotan (Hetian) melaporkan, pihak berwenang berencana menggunakan situs bekas masjid untuk membuka “pusat kegiatan” yang berfungsi sebagai tempat hiburan.

 
 

Pejabat lain di kotapraja Ilchi kota Hotan mengatakan, bekas situs masjid di sana dijadwalkan untuk diubah menjadi pabrik. Nantinya pabrik akan memproduksi pakaian dalam untuk perusahaan yang berbasis di Sichuan.

 
 

Selain masjid, pihak berwenang Tiongkok secara sistematis telah menghancurkan kuburan Muslim dan bangunan serta situs keagamaan lainnya di seluruh XUAR sejak 2016.

 
 

Investigasi yang dilakukan Agence France-Presse mengungkapkan, setidaknya 45 kuburan di XUAR telah dihancurkan dari 2014 hingga Oktober lalu, dan 30 kuburan diratakan sejak 2017. Situs tersebut diubah menjadi taman, tempat parkir, atau tetap menjadi lahan kosong.

 
 

Tahun lalu, Proyek Hak Asasi Manusia Uyghur (UHRP) yang berbasis di Washington, menerbitkan sebuah laporan yang merinci kampanye ini. Laporan tersebut diberi judul “Menghancurkan Iman: Penghancuran dan Penodaan Masjid dan Kuil Uyghur”.

 
 

Laporan ini menggunakan geolokasi dan teknik lain untuk menunjukkan di mana saja antara 10 ribu hingga 15 ribu masjid, tempat suci, dan situs keagamaan lainnya di wilayah tersebut yang dihancurkan antara 2016 dan 2019.

 
 

Seorang sejarawan Uyghur, Qahar Barat, baru-baru ini mengatakan penodaan rumah ibadah oleh pihak berwenang di XUAR merupakan semacam usaha untuk memecah semangat umat Muslim.

 
 

Dia mendesak pemerintah dan organisasi di dunia Muslim untuk mengambil tindakan terhadap China atas penodaan tersebut. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai deklarasi perang terhadap Islam. []

@geloranews

16 Agustus 2020

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 402 kali, 1 untuk hari ini)